
"Apa mungkin Berli sudah pulang?. Aku tidak melihatnya disini". Ucap Felix yang sedari tadi mengitari area pabrik. Dan sesekali ia pergi ke ruangan tempat Berli bekerja.
Brukk,, seorang pria paruh baya terjatuh tak jauh dari tempat Felix terdiam. Seketika Felix menghampiri pria itu dan membantunya bangkit.
"Pak, kau baik-baik saja?. Perlu ku antar pulang?". Ucap Felix.
"Tidak perlu nak. Terimakasih banyak, aku tidak apa-apa. Kita bertemu lagi, kau tumbuh menjadi pria yang baik hati. Nak, tetaplah baik di saat keadaan mungkin tidak sebaik yang kau kira. Tetaplah rendah hati di atas bergelimang nya harta yang kau punya. Suatu saat nanti, kau akan menemukan bahagiamu. Dan semoga kau selalu di lindungi oleh yang maha kuasa, Aamiin..".
"Pak, apa yang sebenarnya kau katakan?. Apa kita pernah saling kenal?. Maaf jika aku melupakanmu". Ucap Felix yang terheran-heran. Namun ia bertanya dengan ramah.
Pria paruh baya itu tersenyum dan berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Felix. Felix pun tak ingin membuatnya terganggu, ia hanya menatap pria itu yang berlalu pergi.
"Siapa pria itu?. Apa mungkin mama mengenalnya juga?". Gumam Felix dengan perasaan nya yang kalut.
......................
"Bagaimana Rom, semua berjalan dengan lancar?". Tanya Adelard yang kini ketiga sekawan itu berada di dalam mobil. Sementara Romi berusaha untuk tetap tegar di depan teman-teman nya.
__ADS_1
"Dugaan Neel benar. Bryan memaksa Prianka untuk menikah dengan nya. Dia melakukan nya dengan cara yang picik. Aku akan berusaha untuk mengambil rekaman yang menjadi aib bagi Prianka. Sementara aku sudah membekali Prianka ponsel untuk terus menghubungiku dan mengumpulkan bukti. Aku punya rekaman perbincanganku dengan Prianka tadi. Tentang pengakuan nya yang di paksa Bryan. Biar saja ini berjalan pelan namun pasti. Aku harap kalian selalu mendukungku". Balas Romi.
"Tentu kami akan selalu ada di pihakmu Rom. Kapanpun itu, kami akan selalu membantumu". Sahut Neel.
"Lalu bagaimana selanjutnya?. Bagaimana cara kita mengambil rekaman itu dari Bryan?". Ucap Adelard yang kembali membuat pikiran Romi berputar.
"Aku belum menemukan ide untuk itu. Mungkin aku butuh sedikit waktu untuk memikirkan nya. Memang sangat sulit bagi kita untuk mendapatkan nya, karena Bryan sudah bukam mahasiswa di kampus lagi. Tapi bagaimanpun aku harus mendapatkan nya". Ucap Romi.
"Hari ini, lebih baik kita pulang. Mungkin jika keadaan kita sudah kembali fresh, kita bisa berpikir jernih". Sahut Neel.
"Ya, kau benar". Ucap Adelard.
......................
"Darimana kau wanita murahan?". Ucap Bryan yang melihat Prianka kembali dari luar. Begitu mudah nya Bryan memanggil Prianka dengan perkataan yang tak seharusnya di katakan.
"Bisakah kau memperlakukanku dengan sopan?. Apa kau pikir kau akan terlihat berwibawa saat merendahkan ku?". Balas Prianka yang membuat Bryan merasa tertantang.
__ADS_1
"Kenapa aku memperlakukanmu seperti itu?. Karena kau pantas mendapatkan nya wanita murahan!". Balas Bryan sambil menekan dagu Prianka.
"Lepaskan!". Prianka menghempas tangan Bryan yang ada di dagu nya.
"Siapa yang kau temui hah?". Ucap Bryan kasar.
"Dia hanya kurir yang salah alamat. Memang nya kenapa?". Ucap Prianka
"Kau pasti sedang berbohong!". Ucap Bryan membantah
"Jika kau tidak percaya, untuk apa kau bertanya padaku!". Tegas Prianka
"Wah.. Wah.. Ada yang berani melawan sekarang. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jika tubuh molek dan menggoda itu bisa di lihat berjuta orang di bumi ini". Ucap Bryan menyeringai. Tentu yang ia maksud adalah rekaman aib Prianka.
"Jangan macam-macam kau Bryan!. Aku sudah rela hidup di neraka jahanam seperti ini!". Ucap Prianka kesal.
Plakkk,, Lagi lagi tamparan keras itu mendarat di pipi memar Prianka. Luka kemarin belum sembuh, dan Bryan sudah menambah nya lagi. Seolah inilah makanan sehari-hari Prianka.
__ADS_1
Prianka tak kuasa menahan sakit di hati dan fisik nya. Ia berlari ke kamar, rasanya ia ingin menangis sejadi-jadi nya. Ia ingin kembali menyerah. Namun ia kembali mengingat Romi yang begitu memperjuangkan nya.
"Romi.. Aku takut.. ". Prianka menangis di balik pintu kamar nya sambil menggenggam pipi yang telah di lukai oleh Bryan.