
Pagi ini Felix sudah bersiap. Bukan untuk urusan bisnis, tetapi ia dan Ozcan akan menghirup udara segar negara ini. Ia memang sudah hampir menyelesaikan urusan nya disini. Sehingga, hari ini ia memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat indah di sini.
"Berli tidak mengubungimu?". Tanya Ozcan.
"Aku sudah menghubungi nya tadi malam. Sekarang ia pasti sedang bekerja. Aku tidak ingin mengganggu nya".
Ozcan mengangguk. Ia mengerti. Disini memang masih pukul tujuh pagi, tetapi.. Di Indonesia pasti sudah pukul sebelas siang.
"Sudah siap, ayo". Felix selesai. Dan mereka berdua pun melenggang untuk pergi ke tempat tujuan.
......................
"Berli?". David memanggil Berli yang tengah berjalan sendirian di koridor
Sontak Berli menoleh. "Pak David, ada apa?".
"Berli, maaf sebelumnya jika aku lancang. Beberapa hari ini aku melihatmu pulang dan pergi sendirian. Memang nya dimana Felix?".
Berli terkejut. Ternyata David begitu memperhatikan nya. "Felix tengah mengurus bisnis nya di luar negeri, untuk sementara waktu. Itu sebab nya, Pak". Berli tersenyum.
"Begitu ya?. Hm, Berli.. Jika kau mau, aku bisa mengantar ataupun menjemputmu setiap hari. Aku sama sekali tidak keberatan".
Berli terkejut. "Maaf Pak, tetapi itu sama sekali tidak perlu. Lagipula aku bisa menaiki kendaraan umum. Selama ini tidak ada kendala apapun".
David menghela nafas. "Baiklah, kalau begitu. Aku pergi, sampai bertemu nanti". Ucap David, ia melenggang pergi.
"Semoga aku tidak salah bicara". Gumam Berli, menatap punggung David yang berlalu.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi sepasang mata melihat dan mendengar apa yang mereka lakukan.
......................
__ADS_1
Setelah menempuh satu jam perjalanan, Felix dan Ozcan kini sudah tiba di sebuah pantai yang cukup fenomenal di Turki. Ia adalah Patara Beach.
Patara Beach adalah pantai terpanjang di Turki yang berada di Laut Mediterania. Panjang pantai yang mencapai delapan belas kilo meter ini adalah pantai menakjubkan yang memenangkan penghargaan di negara ini.
"Ini luar biasa.. ". Felix begitu takjub dengan keindahan pantai ini.
"Terakhir kita mengunjunginya adalah enam tahun lalu". Ozcan tersenyum.
"Kau benar. Sekarang, banyak hal yang berubah".
"Termasuk Gulcin?". Ozcan terkekeh.
Felix mengernyit. Ozcan kembali mengingatkan nya pada masalalu nya.
Felix menepis lengan Ozcan. "Kau ini. Aku bahkan sudah melupakan nya". Ia menggeleng.
Felix merogoh benda pipih yang ada di saku nya. Sesuai pesanan Berli, ia akan mengabadikan pemandangan indah untuknya.
Felix sibuk memotret, dan tak menoleh. "Tentu saja, siapa lagi"
"Kau mengalami banyak perubahan yang baik, Felix". Gumam Ozcan. Ia bahagia melihat sikap Felix yang sekarang. Pasalnya, Ozcan tahu persis bagaimana sikap Felix dulu sebelum mengenal Berli. Terlebih, saat ia mengalami trauma karena Lathesia.
"Seseorang akan berubah, jika bertemu dengan orang yang tepat".
......................
"Ini saat nya, Berli!". Ucap Bu Inez menyeringai, sejak tadi ia memperhatikan gerak-gerik Berli yang tengah bekerja.
"Berli, aku mengalami kendala di mesinku. Bisakah kau membantuku memperbaiki nya?". Ucap Sari, yang tak lain adalah karyawan lama disini. Memang tempat nya bekerja, cukup berjarak dari tempatnya bekerja, tetapi mereka berdua saling mengenal.
"Oh ya?. Baiklah, tidak perlu khawatir. Mari ku bantu". Berli beranjak. Ia mengikuti Sari yang membawa nya ke tempat mesin rusak itu.
__ADS_1
"Lakukan tugasmu dengan benar!". Ucap Bu Inez kepada seorang karyawan suruhan nya. Bu Inez memerintahkan karyawan itu untuk membuka ponsel Berli yang berada di tas nya.
"Baik, Bu". Ie melenggang. Hendak merogoh ponsel yang Berli letakkan begitu saja di tas nya. Tentu karyawan itu akan membuat pesan palsu kepada seseorang melalui ponsel Berli.
"Kau akan mengerti siapa dirimu, Berli!". Gumam Bu Inez, menyeringai. Ia yakin rencana nya akan berhasil.
Karyawan itu berhasil melakukan pekerjaan nya dengan mulus. Dari jauh, ia memberi isyarat kepada Bu inez, bahwa pekerjaan nya selesai.
Bu Inez menyuruh nya untuk kembali, sebelum Berli datang dan melihatnya. Kini, satu pekerjaan lagi yang harus ia lakukan. Yaitu, melakukan hal yang sama dengan ponsel David.
"Sudah selesai, coba jalankan mesin nya, pasti sudah bisa bekerja kembali". Berli berhasil membantu Sari.
"Waahh, kau hebat. Terimakasih banyak Berli".
"Sama sama. Kalau begitu, aku pamit kembali ya". Berli melenggang. Ia hendak kembali mengerjakan pekerjaan nya.
Seorang OB berhasil menyelinap ke ruangan David. Saat itu David dan Aditya memang tidak ada di ruangan. David meninggalkan ponsel di meja kerja nya.
"Tugas mudah seperti ini, untuk apa repot repot". OB itu berhasil meraih ponsel David, yang tergeletak di meja. Ia melakukan hal yang sama seperti karyawan tadi. Tentu orang itu adalah suruhan Bu Inez.
"Wahh indah sekali". Berli yang sudah kembali, ia langsung mengecek ponsel nya yang sejak tadi bersuara. Ia begitu takjub dengan gambar yang Felix kirimkan untuk nya.
Ia juga membalas beberapa pesan yang di kirim Felix. Mereka bertukar kabar.
Namun tiba-tiba, pesan singkat dari David masuk, dan membuat Berli heran.
'Aku harap kau bisa datang malam ini. Ada sebuah acara pertemuan seluruh karyawan di hotel permadani, pukul tujuh tiga puluh. Aku harap kau bisa datang. Acara ini sangat penting'. Isi pesan yang di kirim David melalui sebuah aplikasi chatting.
"Kenapa Pak David tidak mengatakan nya langsung tadi?. Aneh sekali". Berli merasakan ada yang janggal. Namun ia berpikir, mungkin acara ini mendadak.
"Apakah aku harus benar-benar datang?". Berli kalut. Pasalnya, ia tidak pernah datang ke acara seperti ini.
__ADS_1