
"Tuan, nyonya, sekarang jenazah almarhum akan kami antarkan ke rumah duka, sebelum di kebumikan". Ucap seorang dokter kepada Prianka yang masih setia menunggu di depan ruangan itu
"Terimakasih dokter". Jawab Prianka yang tak berhentinya menangis
"Lebih baik kita yang sampai terlebih dahulu ke rumah mu. Kita harus mempersiapkan segalanya bukan?". Ucap Romi
"Iya nak, ayo... Kita pulang". Ucap Bu Inez memapah Prianka
"Iya tan". Ucap Prianka yang tak henti henti menangis
Mereka pun bergegas pergi ke rumah Prianka sebelum jenazah nya tiba
Drtttt,,, tiba tiba terdengar suara panggilan dari ponsel Romi
"Halo Rom, ini aku Neel". Ucap Neel di sebrang telpon
"Iya Neel, ada apa?". Ucap Romi
"Aku dan Adelard sedang di jalan untuk melayat. Apa kalian sudah berada di rumah duka?". Tanya Neel di sebrang telpon
"Kami baru saja akan pergi ke rumah Prianka. Jenazah nya baru akan di bawa ke rumahnya. Kalian menyusul saja ke rumah nya, tunggu saja, sebentar lagi aku sampai". Jawab Romi
"Baiklah Rom, kami segera kesana. Aku tutup telpon nya". Ucap Neel dan langsung menutup telpon nya.
......................
__ADS_1
"Adelard, kita langsung ke rumah Prianka saja. Jenazah nya baru saja akan di bawa ke rumah nya". Ucap Neel memecah keheningan. Karena sejak tadi Adelard hanya melamun
"Apa kau mendengarku?". Tambah Neel menatap lekat Adelard
"Ah iya, kemana kita?". Jawab Adelard
"Sekarang kita akan ke rumah Prianka. Adelard, jika aku ada masalah, bicarakan saja dengan ku. Aku akan mendengarmu". Ucap Neel
"Tidak Neel, aku kan sudah bilang, aku tidak punya masalah". Jawab Adelard
"Kenapa sejak tadi kau melamun? ". Ucap Neel
"Tidak, aku pikir banyak tugas kuliahku yang belum aku kerjakan". Jawab Adelard berbohong
"Tapi sejak kapan kau memikirkan hal itu?, maksud ku... Kau tidak seperti biasanya". Ucap Neel tidak percaya
Neel hanya terdiam karena ia merasa ada yang tidak beres dengan Adelard. Ia tidak ingin memancing emosinya, tentu ia akan mencari tahu sendiri masalahnya.
......................
"Felix.... Bukan seperti itu...". Ucap Berli yang mengajarkan cara memotong kain kepada Felix. Felix memang benar benar tidak mengerti dengan pekerjaan Berli
"Kau beritahu saja caranya, aku akan mengerjakan nya". Ucap Felix
"Tidak Felix, kau tidak bisa... Biar aku saja...Sini". Ucap Berli sambil merebut kain yang di pegang Felix. Dengan sigap Felix menghentikan nya
__ADS_1
"Stt, tidak boleh". Ucap Felix tersenyum menyeringai
"Baiklah... Begini caranya". Ucap Berli yang kini menyerah.
Dengan telaten ia menjelaskan caranya memotong kain kepada Felix. Namun Felix sama sekali tidak memperhatikan nya, ia hanya menatap lekat wajah cantik Berli
"Apa kau mendengarku?". Ucap Berli yang baru sadar sedari tadi Felix tidak memperhatikan
"T.. Tidak.. Bagaimana?". Ucap Felix berusaha fokus. Namun tentu saja ia datang bukan untuk mengerjakan pekerjaan itu. Ia hanya merindukan Berli
"Jadi selama ini kau melamun?". Ucap Berli kesal
"Tidak... Aku memperhatikan mu". Ucap Felix
"Memperhatikan apa?, pekerjaan kan?. Tapi kau seperti tidak memperhatikan penjelasan ku?". Ucap Berli penuh selidik
"Aku memperhatikan, percayalah". Ucap Felix tersenyum tipis. Tentu ia memperhatikan Berli, bukan penjelasan nya
"Kau pasti memikirkan kekasihmu kan?, pergilah". Ucap Berli kesal. Ia merasa cemburu tak jelas
"Tentu saja, siapa lagi". Ucap Felix tersenyum di ujung bibirnya
"Ya sudah. Pergi saja bersama kekasihmu. Kenapa kau menggangguku?". Balas Berli mengerucutkan bibirnya
"Terserah aku saja". Jawab Felix menahan tawa melihat kelakuan Berli
__ADS_1
"Hm... Terserahh saja". Jawab Berli mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah
"Tidak jadi, nanti kau cemburu". Ucap Felix tersenyum tipis. Berli hanya memperlihatkan ekspresi kesal nya.