
"Aku tidak peduli semua orang berkata apa. Aku hanya ingin Felix kembali kepadaku!". Gumam Lathesia saat ia tengah menyetir mobilnya seorang diri.
Kringg,,
Ponsel miliknya berbuyi, tanda ada panggilan masuk. Dengan segera ia langsung mengangkatnya, karena itu adalah panggilan suara dari Berli.
"Haii Berli, ada apa?". Ucap Lathesia kepada lawan bicaranya di sebrang telepon dengan nada yang ramah dan ceria.
"Lathesia, apa aku mengganggumu?". Ucap Berli
"Tidak, tidak sama sekali. Hanya saja aku sedang di jalan menuju suatu tempat. Ada apa? Katakan saja".
"Undangan makan malam di rumahmu itu, aku sudah membicarakan nya dengan dia. Mungkin akhir pekan nanti, kami akan datang". Ucap Berli tersenyum di sebrang telepon.
Kabar ini benar-benar membuat Lathesia bahagia
"Benarkah?. Aku senang sekali.. Aku jadi tidak sabar. Pokoknya aku akan meminta Ibuku untuk menyiapkan hidangan spesial untukmu". Ucap Lathesia penuh semangat.
"Tidak usah repot-repot. Lagipula aku tidak mau menyusahkan siapa siapa".
"Tidak, tidak. Pokoknya aku akan menyiapkan hidangan spesial untuk orang spesial juga. Ck, aku senang sekali". Ucap Lathesia tak henti henti bahagia.
"Baiklah, terimakasih. Oh ya, kemana kau akan pergi?". Tanya Berli di sebrang telepon
__ADS_1
"Aku ada sedikit urusan. Kau tahu, sepertinya saat kau datang membawa pasanganmu nanti, aku juga akan mengajak pasanganku untuk ikut juga. Double date, yeayy...". Lathesia semakin bahagia saat membayangkan Felix ikut makan malam bersamanya. Ia berniat untuk mengajak Felix dan akan membuat konsep kencan romantis.
"Ohh ya?. Aku senang sekali mendengarnya". Berli tersenyum di sebrang telepon
"Ya sudah, aku akan menelponmu lagi nanti. Kau tahu, sekarang aku sedang menuju rumahnya. Aku akan menjadi budak cinta hari ini". Ucap Lathesia terkekeh.
"Oohh, jadi kau akan kecan?. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Selamat bersenang-senang". Ucap Berli
"Baiklah, sampai nanti.. ". Lathesia menutup telepon. Dan menyimpan benda pipih itu di jok samping nya.
"Aku harus bisa membuat Felix datang ke acara makan malamku". Gumam Lathesia penuh tekad.
......................
Byurrr,, kertas itu basah kuyup tak tertolong.
"Felix, apa yang kau lakukan?". Bu Inez tak kalah terkejut saat ternyata putra nya sendiri yang menyiramkan air pada kertas yang hendak ia tanda tangani.
"Mama tidak boleh menandatangani kertas itu. Wanita ini, dan anaknya sangatlah licik". Ucap Felix sambil menunjuk ke arah Bu Delli dan Jovanka bergantian. Jovanka tak kalah terkejut akan penuturan Felix. Jantung mereka berdegup kencang tak karuan.
"Apa maksudmu Felix?". Bu Inez heran.
"Iya Felix, kenapa kau mengatakan hal itu nak? Ayo, duduk. Kita bicara baik-baik". Sahut Bu Delli berusaha mencairkan suasana, meskipun jantung nya sudah berdebar tak karuan.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Felix langsung meraih ponsel yang Ozcan sodorkan padanya. Ia langsung memutar rekaman suara berisi rencana licik mereka.
"Dengarkan ini!". Ucap Felix sambil menggenggam erat dan membesarkan volume rekaman itu.
Jovanka membelalak tak percaya. Rasanya sangat tidak nyaman. Rasanya ia ingin sekali pergi dari tempat itu.
"Apa?". Bu Inez membelalak tak percaya atas apa yang di dengarnya. Ternyata, keberuntungan masih berpihak padanya. Meskipun begitu, amarahnya tidaklah bisa di redam. Ia langsung naik pitam, dan melayangkan tamparan yang lumayan keras di wajah Bu Delli.
Plakkk..
Jovanka hanya terdiam saat Ibunya mendapat tamparan itu. Ia hanya pasrah.
"Bukan begitu Inez, dengarkan aku.. ". Bantah Bu Delli mencari pembelaan.
"Apa kau tidak mendengarnya tadi?. Jelas itu suaramu Delli. Kau tidak bisa mengelak. Untung saja putraku datang di saat yang tepat, jika tidak kau pasti akan menguras habis hartaku!". Kemarahan Bu Inez sudah pada level setinggi- tinggi nya.
"Ya. Aku memang menginginkan hartamu!. Kenapa sejak dulu kau selalu lebih unggul daripada aku!. Aku benci semua keunggulanmu yang selalu berada selangkah di depanku!". Akhirnya Bu Delli mengeluarkan semua yang ia tahan dalam hatinya.
"Kau bisa saja di hukum atas rencana jahatmu nyonya!". Sahut Ozcan yang terbawa suasana kesal.
"Pantas saja putraku selalu menolak perjodohan itu. Ternyata, ini rencanmu. Kau memang payah, kau hanya bisa iri terhadap orang lain. Dan kau hanya bisa mengambil harta orang lain, meskipun harga diri putrimu yang menjadi taruhan nya. Dasar wanita terhina!". Umpat Bu Inez sambil berlalu pergi membawa amarahnya. Felix dan Ozcan senantiasa pergi dari tempat itu.
Kini, hanya tinggal kegagalan mereka yang mendominasi.
__ADS_1
"Aku membencimu Inez!. Tunggu pembalasan dendamku. Kau sudah menghinaku.. ". Geram Bu Delli yang membuat pandangan semua orang di cafe itu tertuju padanya. Meskipun sejak tadi, pertengkaran itu sudah di saksikan banyak pasang mata.
"Sudah ma, sebaiknya kita pulang". Ucap Jovanka yang sudah tidak tahan menahan malu di depan banyak orang.