
"Bu, ibu kenapa. Bagaimana bisa jadi seperti ini?". Ucap Bi Esin yang berhasil menyadarkan Bu Inez dari pingsan nya . Ia melihat ada darah di kepala Bu Inez akibat benturan itu. Ia langsung mengobatinya dan membalutnya dengan kain perban
"Entahlah bi, saya merasa ada yang mendorong saya dari belakang. Tapi entah siapa". Ucap Bu Inez sambil menyeka air matanya. Ia begitu meratapi nasib malang nya. Musibah datang di saat ia belum sepenuhnya pulih.
"Untung saya segera kembali bu. Yasudah ibu istirahat saja ya, nanti saya akan memberitahukan ini kepada tuan Felix". Ucap Bi Esin sambil membantu Bu Inez membaringkan tubuhnya di kasur
......................
"Apa kau tahu kenapa sebenarnya kakak Adelard itu?". Tanya Neel yang bingung dengan keadaan Lathesia
"Aku tidak tahu. Setahuku dia pernah frustasi karena kejadian yang ia alami di luar negeri. Entah itu apa, Adelard tidak memberitahuku juga". Ucap Romi yang sama sama bingung dengan keadaan kakak Adelard
"Lalu kenapa tadi dia seolah terkejut melihatmu?, apa kalian pernah saling kenal?". Tanya Neel penuh selidik
"Aku bahkan baru melihatnya hari ini. Bagaimana bisa aku mengenalnya". Jawab Romi yang memang benar benar tidak tahu siapa sebenarnya Lathesia
"Untuk apa kau ingin datang ke tempat paman dan bibi mu?". Tanya Felix yang kini ia sudah memulai kembali perjalanan nya untuk ke tempat tujuan. Setelah beristirahat sejenak, ia memang langsung bergegas untuk kembali memulai perjalanan karena hari sudah mulai menjelang sore
"Bersilaturahmi, dan tentu untuk mencari tahu keberadaan adikku". Jawab Berli membuat Felix terkejut
__ADS_1
"Adik?". Tanya Felix terkejut
"Ya, aku tidak tahu sebenarmya adikku masih hidup atau tidak, tapi hatiku berkata dia masih hidup. Aku ingin mencari tahu dimana keberadaannya. Dia hilang saat orangtuaku kecelakaan". Jawab Berli dengan nada murung.
"Apa paman dan bibi mu tahu tentang itu?, maksud ku apa jika kita kesana kita akan mendapatkan petunjuk mengenai adikmu?". Tanya Felix heran
"Mungkin saja, meskipun sebelumnya mereka selalu bungkam. Mungkin sekarang akan ada petunjuk untukku. Yang penting aku sudah berusaha untuk mencarinya, jika memang tidak akan di pertemukan kembali, aku akan iklas". Ucap Berli dengan kesedihan di hatinya
"Tenang saja, aku akan membantumu". Ucap Felix penuh rasa iba
"Assalamualaikum". Berli kini sudah berada di ambang pintu rumah paman dan bibinya. Ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam
"Bii... Ini Berli biii, tolong bukaa". Ucap Berli sambil kembali mengetuk ngetuk pintu.
"Pergi kau dan jangan pernah kembali lagi". Ucap wanita itu dari dalam tanpa membuka pintu
"Berli datang baik baik bi, tolong Berli". Ucap Berli sambil mengetuk pintu. Hatinya begitu sakit karena setiap ia datang, bibi nya tak pernah menyambut kedatangan nya dengan ramah
"Setidaknya buka kan pintu untuk tamu yang datang dari jauh". Sahut Felix yang terbawa suasana. Hatinya begitu geram dengan perlakuan bibi Berli
__ADS_1
"Pergi kalian. Pergiiiiiii". Usir bibi yang tetap tidak menerima kedatangan Berli
"Kita pulang saja Berli, aku rasa ini sangat percuma. Kita sudah datang dari jauh tapi kita bahkan tidak mendapat perlakuan sopan darinya". Ucap Felix yang merasa iba melihat air mata Berli mulai menetes
"Apa bibi akan selamanya seperti ini padaku?. Apa salahku?". Ucap Berli dengan isakan nya.
"Pergi kau, dan jangan coba coba datang ke tempat ini lagi!". Ucap bibi tegas penuh penekanan
"Sudah Berli, ayo". Ucap Felix yang tidak tahan dengan perlakuan bibi Berli. Ia merangkul pundak Berli untuk pergi
"Apa dia selalu seperti itu padamu?". Tanya Felix yang kini tengah menemani Berli duduk di bangku yang tak jauh dari tempat tinggal bibinya. Sebelum pergi, Felix memilih untuk menenangkan nya terlebih dahulu
"hm". Ucap Berli sambil menyeka air matanya
"Jadi jika kau pergi sendiri ke tempat sejauh ini, kau akan mendapat perlakuan itu darinya. Ini sangat sia sia". Ucap Felix yang sama sama merasakan apa yang Berli rasakan
"Bibi selalu seperti itu. Dia pasti tahu tujuan ku datang untuk apa, sejak dulu sampai sekarang bibi selalu seperti itu. Aku yakin bibi menyembunyikan sesuatu". Ucap Berli sambil merenungi pikiran nya
"Jika kau di takdirkan untuk bertemu dengan adikmu, kau pasti akan bertemu". Ucap Felix berusaha menenangkan Berli.
__ADS_1