
"Kau sangat beruntung. Kau mendapatkan hal yang paling berharga dalam hidupku". Ucap David yang berpapasan dengan Felix di koridor itu. Saat ini Felix memang sudah sampai di pabrik milik ibunya. Seketika David berkata demikian dan membuat Felix tertegung.
"Bagiku dia lebih dari berharga". Balas Felix tanpa menoleh ke arah David
"Ya. Kau pikir apa? Cinta yang sesungguhnya adalah memberinya kepastian". Ucap David yang membuat dada Felix bergemuruh
"Lalu kau pikir aku tak serius padanya?. Bukan kau memberi kepastian secara langsung, tetapi kau terlalu terobsesi untuk mengalahkanku. Kau ingat, sesuatu yang terburu buru itu tidak baik. Perlahan tapi pasti". Ucap Felix berusaha tenang menanggapi ucapan David. Ia mengatakannya seraya tersenyum menepis pundak David.
Felix berlalu pergi, ia tak ingin panjang lebar lagi. Sementara kini David hatinya begitu membara menatap kepergian Felix.
......................
"Apa mama sudah membawa mobilnya kembali ke rumah? Mengapa aku merasa bahwa akhir akhir ini mama membohongiku". Batin Romi yang kini tengah duduk di taman kampus. Sebelum mata kuliah di mulai, ia memang selalu berdiam diri disana.
"Jangan melamun. Kau bisa tersambar nanti". Ucap seorang pria terkekeh
"Neel? Sejak kapan kau datang?". Sontak Romi bangkit dari duduknya. Menyambut kedatangan sahabatnya ini dengan pelukan.
"Baru saja. Oh ya, apa aku melewatkan sesuatu saat aku tak hadir kemarin?". Tanya Neel tersenyum sambil bergabung duduk di bangku taman itu. Begitu juga dengan Romi
"Apa Neel ada hubungannya dengan mobil mama? Mengapa aku selalu menaruh curiga padanya". Batin Romi sambil menatap lekat wajah tampan sahabatnya ini. Ia sama sekali tak sadar dengan apa yang ia lakukan
__ADS_1
"Heyy.. Ada apa? Kau menatapku seolah aku adalah penjahat". Ucap Neel terkekeh sambil menyadarkan Romi dari lamunan nya.
"Tidak Neel. Maksudku.. Semua baik baik saja. Hanya saja hari ini aku tidak melihat Adelard. Kemana dia? Aku kira kau berangkat bersamanya". Ucap Romi yang kembali bertanya. Ia hanya berusaha mengalihkan pembicaraan
"Aku juga tidak melihatnya. Ia juga tidak mengabariku. Atau mungkin ia tidak akan datang?". Balas Neel
"Entahlah Neel. Mungkin nanti ia akan mengabari kita". Ucap Romi
......................
"Bagaimana? Apa ini enak?". Ucap Berli tersenyum ramah. Kini Lathesia sudah merasa lebih baik dan bisa menerima makanan ke mulutnya. Berli memang membuatkan masakan untuk Lathesia.
"Ini sangat enak.. Kau pintar sekali memasak.. Aku suka". Jawab Lathesia tersenyum sambil menyantap hidangan yang Berli buat
"Apa kau mau mengajariku masak, lain kali? Aku ingin sekali bisa memasak sepertimu". Ucap Lathesia penuh harap
"Tentu saja. Nanti aku akan mengajarimu ya. Sekarang fokuslah dulu untuk pulih". Jawab Berli penuh kelembutan
"Berli.. Maaf aku sudah mengacaukan semuanya. Aku sudah mengacaukan supprise untuk pacarmu. Kau jadi tidak berangkat bekerja karena aku. Aku benar benar tidak enak padamu". Ucap Lathesia dengan penuh rasa bersalah
"Ck. Tidak apa. Lagipula kami sudah bertemu kan tadi? Aku juga masih memiliki cuti kerja. Jadi kau tidak perlu khawatir". Jawab Berli lembut sambil mengusap tangan Lathesia
__ADS_1
"Semoga Allah membalas semua kebaikanmu Berli..". Ucap Lathesia penuh haru
"Aamiin.. Sudah, ayo makan lagi". Jawab Berli
......................
"Bagaimana ini? Aku harus menyuruh seseorang untuk mengambil mobilku. Sepertinya hari ini aku tidak usah pergi kemana mana. Tetapi siapa yang akan mengambil mobilku?". Gumam Bu Inez kebingungan. Ia benar benar merasa kalut dengan kejadian kemarin
"Permisi Nyonya. Ada surat". Ucap Bi Esin di ambang pintu kamar Bu Inez. Ia memberikan sepucuk amplop berisi surat
"Siapa yang mengirimnya?". Tanya Bu Inez
"Saya tidak tahu nyonya". Jawab Bi Esin menunduk
"Baik. Pergilah". Ucap Bu Inez singkat.
"Siapa yang mengirim surat ini". Ucap Bu Inez sambil merobek kasar amplop itu
"Bagaimana? Kau sudah siap untuk yang selanjutnya?".
Isi surat itu begitu berantakan. Tulisan nya singkat namun begitu mengancam
__ADS_1
"Siapa lagi ini?". Gumam Bu Inez begitu depresi sambil membuang surat itu ke sembarang arah.