DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 233 - Takdir


__ADS_3

"Berli.. Aku ingin bertanya yang sesungguhnya. Dan aku ingin kau yakin atas pilihanmu". Ucap David, di kantin perusaahaan itu.


"Apa maksud Pak David?". Ucap Berli bingung.


"Kau yakin, akan melangkah ke jenjang yang lebih serius dengan nya?. Apakah kau yakin kau akan bahagia bersama nya?. Jika iya, aku akan melepasmu dengan iklas. Bersamanya". Ucap David meskipun berat di hatinya.


"Apa maksud Pak David, aku sama sekali tidak mengerti". Ucap Berli heran. Apakah mungkin, ia dan Felix akan sesegera itu melangkah ke jenjang yang lebih serius.


"Tentang kau dan Felix, Berli.. Sebelum kau memutuskan sesuatu, kau harus mengetahui semua fakta tentang nya. Aku tahu, aku mungkin terkesan sok tahu. Tetapi.. Aku hanya ingin kau selalu bahagia, meskipun bukan aku orangnya". Ucap David yang membuat Berli tersentuh.


"Aku tahu, kemana arah perbincangan Pak David. Tetapi pak, aku pun ingin yang terbaik untukku dan untuk semua orang yang ada di sekitarku, tak terkecuali Pak David. Aku mungkin hanya bisa berangan-angan untuk mendapat kebahagiaan seperti apa, tetapi aku hanyalah bisa berencana. Karena hanya Allah yang menentukan takdir setiap mahluk nya, begitupun aku. Dan saat aku berani memulai hubunganku dengan Felix, itu berarti aku sudah mempercayai nya dan tidak akan meragukan nya. Apapun yang terjadi, mungkin itulah kehendaknya. Bagimana akhirnya nanti hubunganku dengan Felix, aku percaya bahwa semua yang Allah beri adalah yang terbaik. Kita harus ikhlas dengan apapun ketentuan nya, bukan?.". Balas Berli yang lagi membuat David terenyuh.


"Siapapun pria yang menjadi pasanganmu kelak, dia adalah pria yang sangat beruntung. Memilikimu, adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada pria beruntung itu". Ucap David yang begitu terharu dengan wanita di depan nya.

__ADS_1


"Aku tidak sebaik itu, untuk membuat seseorang beruntung memilikiku. Aku hanya berusaha menjadi yang terbaik di atas berjuta kekuranganku". Balas Berli kembali.


"Baiklah. Setelah mendengar ini, aku merasa lega. Berli, aku mencintaimu lebih dari mencintai diriku sendiri. Tetapi, mengikhlaskanmu adalah bentuk rasa cintaku yang paling bertahta. Sekarang aku mengerti, bahwa mencintai itu tak selamanya tentang memiliki, namun tentang mengikhlaskan takdir. Aku sangat beruntung, bisa mengenalmu di hidupku. Aku bisa menjadi manusia yang lebih tabah menerima kenyataan. Terimakasih untuk itu semua.. ". Ucap David tersenyum menahan luka.


"Pak David, maafkan aku.. ". Ucap Berli merasa bersalah. Namun inilah kenyataan. Sepahit apapun, kenyataan tetaplah harus di jalani.


"Sudah, lupakan. Sekarang, kita teman bukan?. Kau mau kan, berteman denganku?. Hari ini anggap saja kau sedang makan siang bersama temanmu". Ucap David tersenyum. Ia berusaha untuk melepaskan dengan pertemanan.


"Aamiin.. Terimakasih". Ucap David tersenyum, meskipun luka di hatinya masih menganga.


"Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Bolehkan saya bergabung?". Ucap seseorang sambil terkekeh, meminta untuk bergabung.


"Aditya?". Ucap David.

__ADS_1


"Aditya, duduklah disini.. ". Ucap Berli tersenyum.


"Iya, ayo.. Bergabunglah". Ucap David tersenyum menyambut.


"Benarkah?. Tetapi aku hanya bercanda. Aku tidak mau mengganggu". Ucap Aditya. Karena memang, ia hanya bercanda.


"Tidak, tidak apa. Ayo, duduklah.. Kita makan bersama". Ucap David.


"Baiklah kalau begitu". Ucap Aditya ikut bergabung.


Kedatangam Aditya benar-benar pas. Akhirnya, suasana meja itu kembali riuh karena perbincangan mereka Bertiga. Tidak kaku seperti pembicaraan pribadi David dan Berli tadi.


Merekapun menyantap hidangan makan siang dengan canda dan tawa. Meskipun di balik itu, seseorang tengah berusaha iklas menghadapi takdir.

__ADS_1


__ADS_2