
"Tan,coba liat deh...itu bukan nya Felix ya?. Tapi, siapa orang orang itu?". Ucap Jovanka saat melihat Felix berjalan bersama tiga orang yang tidak jo kenali. Jovanka dan Bu Inez memang masih berada di Mall itu. Sebenarnya mereka hendak pulang, namun niatnya urung karena melihat Felix ada di sana.
"Apa itu benar Felix?, mau apa dia disini?, siapa wanita itu?, mereka berjalan berempat. Apa mungkin memang berpasang pasangan?". Ucap Bu Inez bingung penuh selidik, dan ada rasa kesal di hati nya. Karena Bu Inez tidak ingin Felix menolak perjodohannya dengan Jovanka. Tapi justru saat ini Bu Inez malah di perlihatkan pemandangan itu.
......................
"Sepertinya aku harus cepat cepat pulang, ayahku sudah menelpon". Ucap Adelard. Suara itu mendominasi di meja tempat duduk mereka. Ketiga pemuda itu memang masih setia menenangkan dirinya di sebuah cafe.
Ya, mereka adalah Romi Fiswanata Alshar, Adelard Rio Dewanta, dan Neel Kautsar Fataq.
"Baiklah, hati hati" jawab Fataq membiarkan sahabatnya pergi
Adelard berpamitan pulang kepada Romi dan Fataq, entah ada keperluan apa sehingga ia harus mendahului untuk pulang.
"Bro, sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Semua akan baik baik saja, oke?" ucap Fataq sambil menepuk pundak Romi. Ia masih setia menemani Romi duduk di sana. Ia berusaha menyadarkan lamunan Romi karena sedari tadi, Romi terlihat melamun.
"Tentu". Jawab Romi singkat sambil tersenyum. Akhirnya ia berhasil menyudahi lamunan nya.
"Untuk sementara lo bisa tinggal di rumah gue, biar lo bisa tenang dulu". Ucap Fataq
"kayanya gue bakal balik tinggal di rumah. Mungkin di sana gue bisa lebih gampang jagain nyokap gue, gue takut orang misterius itu bener bener nekat". Jawab Romi. ia memang berpikir apakah lebih baik ia kembali tinggal di rumah ibunya yaitu Bu Inez, agar lebih mudah mengetahui apa yang terjadi di rumah.
"Itu bagus, lo bisa bareng kakak lo buat lawan orang itu". Jawab Fataq memberi solusi untuk Romi
"Gue gabisa kasih tau siapa siapa lagi. di surat ancaman itu tertulis, gue gaboleh kasih tau keluarga gue. Cuma kalian berdua yang tau". Jawab Romi. Memang Romi telah beberapa kali mendapat kiriman surat ancaman itu. Surat yang pertama kali ia dapatkan mengatakan bahwa ia tidak boleh memberitahu keluarganya, karena itu justru akan mempercepat waktu kematian keluarga nya. Makannya Romi hanya menceritakan masalah ini kepada dua temannya saja.
"Tapi mereka kan gabakal tau kalo lo cuma kasih tau kakak lo". Jawab Fataq
"Gue bakal coba". Jawab Romi singkat
"Semoga berhasil boy". Balas Fataq sambil menepuk pundak Romi
Romi memutuskan untuk kembali pulang ke rumah ibu nya. Namun sebelum itu, ia berniat hanya berkunjung terlebih dahulu saja untuk memastikan keadaan.
......................
"Kemana kita sekarang?". Ucap seorang wanita yang tak lain adalah Berli. ia memang tengah berada di sebuah Mall bersama orang orang yang tak di undang nya. Niat hati hanya menghilangkan sedikit penat bersama sahabat nya Laura. Namun kacau, karena dua pria ini benar benar mengikuti nya. Tentu saja Felix dan David ikut serta dalam perjalanan Berli dan Laura hari ini. Bagaimana tidak? sejak di rumah tadi, mereka sama sama tidak mau ketinggalan. Saat ini mereka berempat memang hendak berjalan ke sebuah bioskop yang berada di Mall besar itu. Karena memang niat sebelumnya Berli ingin menonton bioskop bersama Laura.
"Langsung nonton aja yuk, udah ga sabar nih. Makan mah urusan nanti hehe". Jawab Laura yang tidak sabar ingin menonton sebuah film yang sedang ramai tayang di bioskop.
Tanpa menunggu lama, mereka bergegas pergi menuju bioskop disana.
Tentu tak lepas dari pandangan kedua pasang mata wanita yang sejak tadi memperhatikan mereka.
Sebenarnya, begitu melihat Felix berada di tempat yang sama dengan nya, saat itu juga Bu Inez berniat untuk mendatangi Felix. Namun langkah nya tertahan saat melihat pria yang juga tengah bersama Felix, yaitu David. Bu Inez memang sangat mengenal David.
David adalah orang yang ia tunjuk untuk menjadi orang kepercayaan nya. Karena kejujuran dan sikap amanah David, membuat Bu Inez memberikan kepercayaan nya itu. David memang memegang tanggung jawab yang lumayan besar di pabrik milik Bu Inez, ia seolah adalah tangan kanan Bu Inez. Saat Bu Inez berhalangan untuk mengurus urusan pabrik, David akan selalu ada untuk membantu Bu Inez. Saat ia melihat David sedang bersama Felix, ia telah menemukan jawabannya.
Bu Inez mengira bahwa Felix memang melakukan pertemuan di luar jam kerja bersama David saat libur. Bu Inez juga menangkap sosok kedua gadis yang wajah nya begitu familiar di mata nya.
Ya, Bu Inez masih mengingat bahwa kedua gadis yang sedang berjalan bersama putra sulung nya dan David itu adalah karyawan nya. Bu Inez yang seolah menemukan jawaban tanpa harus bertanya itu, menganggap bahwa itu memang urusan pekerjaan. Makannya Bu Inez mengurungkan niat nya untuk menghampiri Felix.
__ADS_1
Bu Inez memang mulai menyerahkan tanggung jawab pabrik nya kepada Felix, namun itu memang belum sepenuh nya dan belum resmi. Felix yang baru beberapa minggu mengurus pabrik milik orangtua nya itu hanya di beri tugas mengawasi keuangan dan situasi pabrik saja. Karena sebetulnya Felix belum terbiasa datang terjun langsung ke lapangan seperti itu. Ia masih harus menyesuaikan diri.
Di pabrik Felix memang hanya menatap komputer di ruang pribadi yang sama sekali tidak pernah di jamah orang selain Felix dan Ibu nya. Bahkan sampai saat ini belum ada yang mengetahui identitas Felix, termasuk David
"Sepertinya Felix sedang melakukan pertemuan kerja di luar hari kerja. lihat,dia bersama orang kepercayaan mama". Ujar Bu Inez sambil tersenyum dari kejauhan. Jovanka yang tidak peduli, seolah tidak menghiraukan keberadaan Felix yang sedang bersama siapa.
"Ya udah kita pulang aja yuk tan". Ajak Jovanka kepada Bu Inez. Karena ia memang sudah benar benar bosan
"Iyaa sayang, ayo".Balas Bu Inez. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah.
......................
Akhirnya keempat orang itu kini sudah berada di sebuah gedung bioskop. Sejak tadi David berusaha duduk di samping Berli. Namun apa yang terjadi?lampu bioskop yang redup membuatnya kalang kabut. Ia benar benar menyangka jika orang yang duduk di samping nya adalah Berli, namun ternyata bukan.
"Kita duduk di sini saja, biarkan mereka berduaan". Ujar Laura sambil tertawa kecil kepada Berli. Mereka duduk lumayan jauh dari samping David dan Felix. Memang, tanpa David sadari mereka duduk berdekatan.
Saat adegan romantis di putar di layar besar itu, David berbisik kepada orang di samping nya.
"Bukankah jika kita sudah menikah nanti, akan seperti itu?". Ujar David bahagia
Namun betapa terkejutnya saat ia hendak mengalihkan pandangan kepada lawan bicaranya. Lawan bicaranya pun tak kalah terkejut mendengar penuturan orang di samping nya itu.
"Kau pikir aku tidak normal?. Apa dunia ini telah kehabisan wanita untuk kau nikahi? "
Jawab Felix tersenyum geli menjawab perkataan David
"Hah?, sejak kapan kau duduk di sisi ku?, bahkan tadi aku menggenggam tangan Berli". Ujar David menahan malu kepada Felix
"Aku menggenggam erat tanganmu tapi kau diam saja? ". Tanya David
"Kau saja yang tuli, sejak tadi aku sudah berteriak kepada mu. Tapi kau tidak mendengarnya juga. Kemana pikiranmu kabur hah? bahkan mereka pergi dari sampingmu saja, kau tidak tahu.". Ucap Felix ketus sambil tertawa kecil
"Apa tangan ku selembut itu untuk menjadi seorang wanita?". Tambah Felix tertawa renyah
David memang sama sekali tidak menyadari bahwa tangan yang sejak tadi ia genggam adalah tangan Felix. Ia benar benar tidak bisa fokus pikiran nya berbunga bunga karena halusinasi nya.
FLASHBACK ONπ»
Saat Laura mengajak David masuk. Ia benar benar heran kenapa David bertamu saat ia akan pergi bersama tuan rumah nya. Namun, raut wajah David yang muram membuat Laura tidak mau bertanya apa apa. David memang terlihat melamun saja. Saat akhirnya lamunan nya di buyarkan oleh suara seseorang, mau tidak mau, ia harus bersikap biasa saja
"Apa kau datang ke rumah orang hanya untuk melamun?". Tanya Felix dingin saat melihat David termenung duduk di bangku tempat asalnya merebahkan tubuh nya.
"Tidak. Aku mau menjemput Lian". Jawab nya yang kini telah kembali seperti sediakala.
"Dia akan pergi bersamaku, untuk apa datang?". Tanya Felix
"Aku juga akan pergi bersamanya". Jawab David tidak mau mengalah
Perdebatan kecil itu tak lepas dari kedua pasang mata wanita yang memang sedang berada di hadapan nya.
"Ya sudah kita pergi bersama sama semuanya"
__ADS_1
Suara lembut itu memecahkan perdebatan itu. Yang tak lain adalah suara Berli
"Bagus". Jawab Felix dingin.
Laura yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa kecil melihat sahabat nya menjadi bahan rebutan kedua pria tampan di depan nya.
"Resiko cantik mah ya gini nih". Sahut Laura tertawa kecil menggoda Berli. Berli yang mendengar itu hanya diam dengan pipi nya yang mulai memerah
"Ya sudah, kita pergi sekarang kan? ". Tanya David yang entahlah mood nya sudah baik atau memang pura pura biasa saja xixixi
Saat mereka hendak akan pergi..
"Lian kamu naik motor ku ya". Pinta David penuh harap. Berharap Berli akan mau pergi dengan menaiki motor miliknya
"Aku yang duluan datang, dia akan pergi bersamaku". Sahut Felix yang tidak terima dengan penuturan David
"Memangnya kau siapa nya Lian, bisa seperti itu?". Ujar David tidak mau kalah
"Pacar nya". Jawab Felix singkat. Penuturan nya ini benar benar membuat lawan bicara nya terkejut. Berli dan Laura pun tak kalah terkejut mendengar nya.
"Hah? pacar? sejak kapan? ". Tanya Berli spontan kepada Felix
Laura dan David hanya terdiam seribu bahasa. Dalam pikiran Laura, ia benar benar heran. Sejak kapan sahabat nya ini memiliki pacar. Kenapa sama sekali tidak menceritakannya?.
Namun jelas pikiran Laura sangat berbeda dengan pemikiran David. Rasa kecewa David sekarang benar benar sudah meluap di hati nya. Bagaimana bisa ia tidak tahu bahwa ia sudah di dahului oleh pria asing yang tengah berdiri di depan nya ini? .
David hanya terdiam seribu bahasa menahan amarah di hati nya, mungkin jika ia mempunyai hak untuk marah, ingin rasanya menghajar Felix habis habisan. Namun apa daya, David cukup tahu diri untuk marah dengan keaadaan ini. Karena sejatinya, David memang pria dewasa yang mapan dan memiliki pemikiran logis sebelum melakukan tindakan.
"Ayo naik". Ucap Felix menarik tangan Berli. Ia mengajak Berli untuk menaiki motor matic nya
David yang masih terdiam, pikiran nya benar benar galau. Jika ia pulang, mungkin pria yang di depan nya ini akan menganggap nya payah karena tidak berusaha mendapatkan keinginan nya. Namun jika ia tetap ikut, pasti akan di suguhkan pemandangan yang membuat nya cemburu.
"Siapa bilang pacar? aku bukan pacarmu". Ucap Berli tidak terima. Meskipun sebenarnya Berli juga sudah mulai menyukai Felix
Ucapan Berli justru tidak di hiraukan oleh Felix. David yang sedang sibuk dengan pemikiran kalut nya, sampai sampai tidak mendengar kebenaran yang di katakan Berli. Namun Felix tetap membawa Berli ke arah motor nya terparkir. Mau tidak mau Laura yang kini tengah berdiri dekat David, mereka akan pergi bersama menaiki motor milik David. David yang tidak bisa melakukan apa apa lagi, dengan berat hati menerima kenyataan bahwa keinginan nya gagal untuk bersama Berli
"Ayo, aku akan mengantarmu". Ucap David kepada Laura dengan wajah galau nya
"Apa tidak masalah pak? ". Tanya Laura, sungkan
"Jangan membuat orang lain menunggu lama". Ujar Felix yang kini sudah siap dengan motor matic nya. Dan tidak lepas dengan keberadaan Berli di belakang nya. Berli benar benar tidak enak dengan David, Berli sadar kejadian hari ini pasti membuat David kecewa.
Akhirnya mereka pun bergegas pergi dengan motor nya masing masing. Felix yang memboncengi Berli dengan motor matic nya. Dan David yang memboncengi Laura dengan motor sport gagah miliknya. Hal itu terlihat seperti berpasang pasangan, Double Date istilah nya hehehe.
Felix yang kini berhasil mendapatkan keinginannya, terlihat senyum bahagia penuh kemenangan di wajah nya .
Namun lain hal nya dengan David yang sedari tadi murung. Sepanjang perjalanan menuju bioskop ia tetap terdiam. Laura yang menyaksikan itu benar benar merasa kasihan kepada David.
Sesampainya mereka di sebuah pusat perbelanjaan yang memiliki bioskop di dalam nya, Berli yang terburu buru turun dari motor milik Felix langsung bergegas menghampiri sahabatnya Laura. Felix hanya bisa berjalan sendiri. Ia tidak keberatan, lagi pula penuturan nya tadi cuma ngaku ngaku atau hanya sekedar ungkapan harapan di hatinya wkwk. Namun lain hal nya dengan David yang murung. Ia berjalan mendahului Felix. Entah kemana pikirannya traveling sampai sampai tidak menyadari bahwa saat hendak memasuki gedung bioskop, ia menggenggam tangan seseorang. Saat David menggenggam tangan itu, rasanya mood nya kembali membaik. Ia benar benar berhalusinasi bahwa tangan itu adalah milik Berli. Pikirannya yang asal nya kalut, berubah menjadi indah saat ia membayangkan indah nya jatuh cinta bersama Berli. Sampai lampu bioskop itu mulai redup, ia melepaskan genggaman nya dan mulai berbisik kepada orang yang ada di samping nya. Ia benar benar tidak menyangka bahwa keindahan yang tadi ia pikirkan hanyalah halusinasi saja. Sedangkan Felix yang mengetahui bahwa sejak tadi Berli bersama Laura, ia hanya terheran saat David menganggap tangan miliknya adalah tangan Berli. Mungkin pikiran nya memang sedang di alam lain, sehingga ia sama sekali tidak mendengar bahwa sejak tadi Felix sudah berteriak menyadarkan lamunan David yang tak kunjung buyar. Kelakuan David membuat Felix kesal namun konyol.
FLASHBACK OFF π»
__ADS_1
.