DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 273 - Pesan


__ADS_3

Pagi ini, Felix sudah menapakkan kaki nya di tanah air. Tak lepas, dari Romi yang sudah menunggu nya di bandara sejak tadi.


"Kak, aku sangat merindukanmu". Romi berhambur memeluk Felix. Felix tersenyum dan membalasnya.


"Aku juga, Rom".


Romi melepas pelukan nya. "Oh ya, kak Berli tak ikut menjemputmu?"


Felix tersenyum. "Tidak, aku ingin membuat kejutan untuknya".


Romi terkekeh. "Baiklah".


Akhirnya kakak beradik itu memutuskan untuk pulang ke rumah. Setelah melalui perjalanan panjang, tentu Felix harus beristirahat.


......................


"Apakah Felix sudah sampai?. Mengapa ia tak mengabariku?. Tetapi.. Apa yang harus ku katakan kepadanya?. Aku sangat bingung". Gumam Berli. Ia mengecek ponsel nya tak mendapat notifikasi sama sekali.


Ia juga masih enggan untuk bekerja. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri. Meskipun, ia tak tahu bagaimana nasib nya jika ia akan kehilangan pekerjaan nya.


"Semoga kau kembali dengan selamat". Gumam nya kembali.


......................


"Akhirnya, putra ku kembali.. Selamat datang di rumah sayang". Bu Inez menyambut kedatangam Felix. Ia memeluk dan mencium putra sulung nya itu.


Felix tersenyum. "Terimakasih ma".


"Ya sudah, pergilah.. Bersihkan dirimu, dan jika sudah selesai, cepat turun ya.. Kita akan sarapan bersama".


"Baiklah ma". Felix melenggang ke kamar nya yang sudah ia tinggalkan beberapa waktu. Rasanya rindu sekali.


"Akhirnya aku pulang". Felix merebahkan dirinya di kasur, sebelum ia pergi membersihkan diri nya.


"Kau pasti akan suka dengan kejutan ini Berli". Felix tersenyum

__ADS_1


......................


Setelah selesai mandi, akhirnya Felix turun untuk sarapan. Romi dan Bu Inez sudah menunggu nya di meja makan.


"Selamat datang sayang, kau pasti sangat merindukan makanan Indonesia kan?". Bu Inez menyambut nya dengan sumringah.


"Iya ma". Felix duduk, ia meraih piring yang di sediakan.


"Biar aku yang mengambilkan nys untukmu ya". Lathesia tiba-tiba menyambar piring itu. Ia seolah sedang melayani Felix.


Romi hanya menatap heran dan tak suka.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri". Felix hendak mengambil piring itu, namun Lathesia menghentikan nya.


"Biar aku saja". Lathesia menadahkan nasi ke dalam piring itu.


Bu Inez terdiam, tak berkomentar.


Felix hanya memalingkan wajah nya, tanda tak suka


"Lathesia. Hentikan, aku bisa mengambil nya sendiri. Aku tidak meminta siapapun untuk memgambilkan ku makanan". Felix langsung merebut piring itu. Lathesia kecewa.


"Sayang, Lathesia berniat baik.. " Sahut Bu Inez.


"Bukankah dalam hidup ini, kita harus tahu batasan?. Mama tahu persis, mengapa aku seperti ini". Balas Felix. Tentu ia melakukan ini untuk menjaga hati nya, yang hanya untuk Berli. Romi tersenyum, melihat ketegasan kakak nya.


Sarapan itu pun akhirnya selesai. Entah kapan Lathesia datang, untuk mengacau. Namun yang terpenting sekarang adalah, menemui Berli. Ya. Felix akan segera bergegas menemui pujaan hatinya yang sudah sangat ia rindukan.


"Nak, kau mau kemana?".


"Aku akan ke perusahaan. Menemui Berli".


"Tapi sayang. Kau harus beristirahat. Kau sudah melewati perjalanan yang sangat jauh".


"Aku akan beristirahat nanti. Sampai nanti ma.. ". Felix melenggang. Ia pergi untuk menemui Berli. Tentu Bu Inez hanya berpura-pura mencegah nya.

__ADS_1


"Pergilah, dan temui akhir hubungan mu nak". Gumam Bu Inez. Lathesia ikut puas.


"Sekarang?". Lathesia menyeringai.


"Tentu saja". Balas Bu Inez.


"Kau pasti sangat suka dengan apa yang sudah ku belikan untukmu". Gumam Felix. Ia mengendarai mobil nya untuk ke perusahaan.


Felix sama sekali tak membuka ponsel nya yang sejak tadi bersuara, ia hanya fokus menyetir agar cepat sampai di perusahaan.


Sesampainya di perusahaan.. Ia heran, saat tak mendapati keberadaan Berli di tempat nya bekerja.


"Kemana Berli?. Mengapa tidak ada". Gumam Felix. Ia mengitari sekitar.


Tiba-tiba Vio, teman bekerja Berli datang.


"Permisi.. Apakah kau melihat Berli?". Tanya Felix.


"Berli tidak masuk sejak kemarin. Aku tidak tahu alasan nya".


"Baiklah, terimakasih.. "


Vio pergi. Ia meninggalkan Felix karena memang ia tengah sibuk.


"Apakah Berli sakit?. Aku harus memastikan nya". Gumam Felix. Ia kembali melenggang untuk pergi ke rumah Berli.


"Felix.. Ia sudah kembali?". Gumam David yang tak sengaja melihat Felix tergesa-gesa. Ia semakin kalut.


"Apakah kau baik-baik saja Berli, aku khawatir". Gumam Felix saat ia menyetir mobil menuju rumah Berli. Ia meninggalkan ponsel nya di mobil. Ia meraih nya, dan hendak menelpon Berli. Namun, ia terkejut saat mendapat pesan dari nomor tak di kenal.


"Apa ini?". Felix menghentikan mobil nya di tepi. Felix membuka, dan menunduh konten kiriman nomor tak di kenal itu.


Namun betapa tak percaya nya ia, melihat apa yang ada di genggaman nya sekarang. Ia tak menyangka Berli akan melakukan hal se hina itu.


"Berli!". Felix gemetar, tak percaya. Rasanya, seperti mengulang kisah masalalu. Ia merasakan perasaan ini kembali.

__ADS_1


Namun, ia tak menyerah. Ia membanting stir untuk tetap menemui Berli di rumah nya. Setelah disana, ia mungkin akan menemui David untuk memberikan nya pelajaran.


__ADS_2