DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 211 - Halangan


__ADS_3

"Bagaimana kau bisa tahu rencana mereka Ozcan?". Tanya Felix yang berada di dalam mobil Ozcan. Ozcan memacu kendaraan nya dalam kecepatan tinggi.


"Tanpa sengaja, aku mendapati mereka di restoran. Dan mereka sedang membicarakan itu. Dengarlah.. ". Ucap Ozcan menyetir seraya memutar suara rekaman itu di ponselnya.


Felix membelalak saat mendengar percakapan itu. Dugaan nya benar, inilah buktinya. Mereka begitu picik dan jahat. Bagaimana bisa Ibunya begitu menutup mata dari kejahatan mereka.


"Kita harus segera sampai di tempat itu Ozcan. Aku sudah tidak sabar melihat mereka kalang kabut tertangkap basah". Felix mulai bergemuruh


"Baiklah". Balas Ozcan fokus menyetir.


......................


"Akhirnya kita sampai. Cepat Jovan, turunlah". Ucap Bu Delli tak sabar.


"Bisakah mama bersabar sedikit saja?. Kita bahkan baru saja menapakkan mobil di parkiran. Lagipula wanita tua itu pasti belum sampai di tempat ini". Ucap Jovanka malas.


"Maka dari itu, kita harus sampai lebih awal. Dasar anak bodoh. Ayo cepat turun". Ucap Bu Delli yang keluar dan membanting pintu mobil. Membuat Jovanka kesal dan ikut turun.


"Menyebalkan". Ketus Jovanka.


"Hallo Inez. Kau dimana? Aku sudah sampai di lokasi. Kau sudah menyelesaikan perawatan mu kan?". Ucap Bu Delli penuh ramah.


"Ah iya, aku segera sampai. Aku sudah di jalan menuju kesana". Balas Bu Inez di seberang telepon. Saat ini, posisi mereka sudah sangat dekat. Hanya tinggal satu kilo perjalanan saja, ia akan sampai di lokasi.


"Baiklah, hati-hati. Aku menunggumu ya". Ucap Bu Delli menutuo telepon.


"Jovanka, awas kau ya. Jaga sikapmu saat bertemu Inez. Jangan sampai mood mu merusak rencana kita. Kau sudah gagal mendapatkan Felix, setidaknya kita harus mendapatkan perjanjian ini". Ucap Bu Delli penuh penekanan.


"Baiklah. Baiklah". Balas Jovanka.


......................

__ADS_1


"Sial. Jalanan nya macet". Ucap Ozcan memukul stir kemudi nya. Kenapa saat tergesa gesa seperti ini, jalanan malah macet.


"Bagaimana ini". Felix yang kalut mulai khawatir akan terlambat datang.


Tiiddd, tiddd,, Ozcan menekan tombol klakson. Tak peduli orang orang risih dengan apa yang ia lakukan. Yang terpenting mereka memberi jalan untuk ia lalui.


"Sabarlah sedikit. Jalanan ini bukan milikmu seorang!". Ketus seorang pengemudi mobil yang geram dengan sikap Ozcan.


Namun ia tak peduli, yang ia pikirkan sekarang adalah sampai ke tempat itu.


"Mama tidak mengangkat telepon nya. Apa mungkin ia sudah sampai di cafe itu?". Felix mulai menyerah. Sejak tadi, ia berusaha menelpon Ibunya melalui ponsel Ozcan. Namun hasilnya nihil. Status yang tadi bertuliskan "berada di panggilan lain". Kini benar benar tidak di angkat.


*


"Ozcan menelpon?. Nanti saja aku mengangkatnya. Lagipula ia pasti hanya ingin meminta izin untuk Felix menginap di rumahnya". Gumam Bu Inez yang hanya menatap ponsel nya berdering sejak tadi. Ia akan menyelesaikan urusan nya satu persatu "pikirnya".


*


"Akhirnya sampai. Rasanya ini bukan cafe mahal. Kenapa Delli berpikir untuk datang kesini". Gumam Bu Inez heran saat turun dari mobil dan mendapati cafe yang tidak terlalu mewah itu.


"Sebaiknya aku masuk saja. Delli pasti sudah menungguku". Bu Inez melenggang masuk ke tempat itu.


"Ya ampun. Kenapa ban mobilku pecah!". Ozcan bingung bagaimana bisa ban mobilnya pecah. Entah mungkin karena ia melaju dalam kecepatam tinggi, sehingga tidak menyadari ban mobilnya melindas sesuatu yang tajam.


"Kita suda terlambat Ozcan. Aku turun saja". Ucap Felix namun di susul oleh Ozcan


"Aku ikut denganmu. Mobilku biar saja disini, aku akan memanggil orang bengkel. Lebih baik sekarang kita mencari tumpagan". Ucap Ozcan yang setuju untuk turun.


"Baiklah". Balas Felix seraya mencari tumpangan


"Berhenti". Felix melambai saat ada sepeda motor yang lewat tanpa penumpang

__ADS_1


"Pak, bisakah kau mengantarku ke cafe anggrek?. Aku sedang buru buru. Ku mohon". Ucap Felix penuh permintaan.


"Baik, naiklah nak. Tuan yang satunya juga butuh ojek? Saya akan panggilkan". Ucap pria itu.


"Iya pak, saya juga butuh". Balas Ozcan.


Mereka akhirnya menumpangi ojek yang mereka temui di jalanan. Kini mereka hampir sampai di tujuan. Memang lokasi mobil Ozcan berhenti dan cafe itu cukup jauh.


"Hai, Inez.. Apa kabar?". Bu Delli menyambut kedatangan Bu Inez dengan penuh senyuman. Ia bercipika-cipiki. Begitu dengan Jovanka yang berpura-pura bersikap manis.


"Haii Tante. Tante semakin cantik saja". Puji Jovanka, namun lain di hati nya.


"Kalian bisa saja". Balaa Bu Inez.


"Ayo Inez, duduklah". Ucap Bu Delli mempersilahkan.


Bu Inez duduk di salah satu kursi disana. Bu Delli mulai menyiapkan berkas-berkas itu tanpa basa-basi. Ia hanya ingin tanda tangan itu sekarang juga.


"Kalian tidak memesan apapun?". Tanya Bu Inez yang heran dengan meja yang masih kosong itu.


"Ah iya, sebenarnya kami sudah sempat mampir ke sebuah restoran. Tapi, aku akan memesan minum untukmu ya". Bu Delli segera memperhatikan


"Tidak, tidak usah. Lagipula aku tidak haus". Ucap Bu Inez yang malah menjadi aneh dengan mereka. Mereka terkesan begitu buru-buru.


"Baiklah, kalau begitu daripada membuang waktu, lebih baik kita langsung kepada intinya. Ayo Inez, tanda tangan disini". Ucap Bu Delli memberikan berkas dan sebuah bolpoint.


"Sekarang?". Tanya Bu Inez heran


"Tentu saja. Kapan lagi?. Kita sudah membicarakan ini sejak lama bukan?". Balas Bu Delli penuh senyuman.


"Baiklah". Bu Inez melayangkan bolpoint itu di atas kertas.

__ADS_1


__ADS_2