DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 28 - Perintah Kakak


__ADS_3

"Aku sudah melalukan apa yang kakak perintahkan. Selanjutnya apa rencana kita kak?". Ujar seorang pria yang kini tengah berbicara dengan seseorang di sebrang telepon, yang tak lain adalah kakak kandung nya


"Biar saja mereka bernafas sejenak. Setelah ini, kekacauan yang lebih besar akan terjadi. Tunggu saja perintahku, jangan gegabah apalagi melakukan pergerakan tanpa sepengetahuan ku". Ujar sang kakak kepada adik nya di sebrang telepon.


Mereka memang sedang merencanakan cara membalaskan dendam dengan penuh ketelitian.


......................


"Ibu, jika besok keadaan ibu sudah stabil. Ibu sudah bisa pulang ke rumah". Ucap seorang dokter yang kini sedang memeriksa keadaan Bu Inez


"Apa benar dokter?, ibu saya sudah sembuh? ". Ujar Romi bahagia


"Iya, tapi kita lihat keadaannya dulu besok. Jika sudah pulih, maka boleh pulang". Ujar Dokter


"Tapi tolong perhatikan asupan makanan Bu Inez ya pak, semoga ini menjadi pembelajaran untuk lebih berhati hati dalam mengonsumsi makanan". Tambah dokter kepada Felix


"Baik dokter, saya akan menjaga ibu saya dengan baik". Jawab Felix


"Mama benar benar senang". Ucap Bu Inez penuh senyuman


"Rom, sepertinya aku harus pulang, ini sudah hampir larut". Ucap Adelard berpamitan untuk pulang karena hari memang sudah mulai larut


"Baiklah, terimakasih banyak kau sudah menyempatkan waktu untuk mendengarkan masalahku". Ucap Romi kepada Adelard. Namun perkataan Romi membuat Felix terkejut, ia benar benar tidak mengerti Romi memiliki masalah apa sehingga berkata demikian kepada Adelard.

__ADS_1


......................


Hari mulai berganti, pagi yang cerah menyapa setiap insan yang ada di bumi.


"Huh hari ini aku harus kembali lagi bekerja, emm apa pesanku semalam di balas Abian?". Ucap Berli sambil meraih ponselnya di nakas. Namun ternyata pesan itu hanya di baca tanpa di balas oleh Abian


"Bahkan Abian sama sekali tidak membalas pesanku. Kenapa sebenarnya Abian?, apa aku menyakitinya tanpa sadar". Pikiran Berli benar benar kalut. Namun ia bergegas untuk bersiap pergi bekerja, tentu ia akan kembali membicarakan hal ini kepada Abian secara langsung.


"Kak". Sapa seorang pemuda yang kini tengah berada di motor matic miliknya itu. Ia tak lain adalah Aditya. Berli kini memang sudah di jalan menuju tempat nya bekerja, namun ternyata tanpa sengaja ia bertemu dengan Aditya


"Aditya". Jawab Berli menyapa sambil tersenyum


"Ayo naik kak, kita berangkat bersama". Ajak Aditya, tentu Berli tidak menolak tawarannya karena ia memang menganggap Aditya sebagai adiknya


"Baiklah, aku naik. Tapi hati hati, jangan sampai kaki ku lecet hahhaa". Gurau Berli sambil bergegas naik ke motor Aditya


"Aku benar benar tidak menyangka dia seperti itu". Umpat Abian penuh kekesalan, kebencian mulai datang dari hatinya.


......................


"Selamat pagi bu, bagaimana apa sudah baikan?". Sapa seorang suster yang hangat menyapa Bu Inez. Ia kini tengah melakukan pemeriksaan kepada Bu Inez


"Saya sudah baikan sus, saya ingin pulang saja". Jawab Bu Inez penuh permohonan

__ADS_1


"Baik, tapi kita lihat apa ibu benar benar sudah sembuh atau tidak". Ucap suster tersebut sambil memeriksa Bu Inez


"Bagaimana sus, apa sudah boleh pulang?". Tanya Felix


"Sepertinya sudah boleh, tapi nanti saya akan konfirmasi dengan dokter terlebih dahulu ya". Jawab suster ramah.


......................


"Terimakasih Aditya, lagi lagi aku merepotkanmu". Ujar Berli yang kini sudah sampai di pabrik tempat ia bekerja


"Kenapa begitu, kita kan adik kakak hehe". Ujar Aditya menggoda Berli


"Ya sudah, terimakasih banyak ya. Ohh iya aku harus cepat cepat masuk, sepertinya sebentar lagi aku akan terlambat". Ucap Berli


"Ya sudah kak, duluan saja. Aku masih ada urusan". Ucap Aditya mempersilahkan Berli pergi duluan


"Baiklah, semangat Aditya". Ucap Berli penuh senyuman sambil melambaikan tangan


"Terimakasih kak". Jawab Aditya membalas Berli


Saat hendak masuk, Berli tanpa sengaja berpapasan dengan Abian


"Assalamualaikum Abian, selamat pagi". Sapa Berli ramah penuh senyuman

__ADS_1


Namun Abian tetap sama, ia hanya melirik beberapa detik lalu berlalu pergi tanpa menjawab sapaan Berli


"Kenapa Abian sebenarnya". Ucap Berli dalam hati. Ada rasa sakit saat Abian memperlakukan nya seperti itu, namun Berli tetap bertekad untuk membicarakan hal ini baik baik kepada Abian.


__ADS_2