
"Apa Berli tidak akan datang lagi kemari? Tapi aku belum sempat membalas jasanya kemarin". Gumam Felix dalam hati saat ia berada di taman rumah sakit. Ia seolah sedang menunggu kedatangan seseorang
"Felix". Ucap seorang wanita yang suaranya begitu nyaring dan tak asing terdengar oleh telinga Felix.
Seolah mimpi, ia bertemu kembali dengan wanita yang pernah begitu ia cintai namun kandas di tengah jalan. Siapa lagi jika bukan Lathesia. Entah mengapa mereka di pertemukan kembali di waktu dan tempat yang salah
"Kau?". Sontak Felix terkejut dan langsung beranjak dari tempat duduknya. Namun ia hanya menatap sekilas dan langsung mengalihkan pandangannya
"Felix, aku tidak pernah menyangka akan bertemu lagi denganmu. Sungguh aku... ". Ucap Lathesia dan langsung di hentikan oleh Felix
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Maka dari itu, aku tidak ingin mendengar sepatah kata pun dari mulutmu". Ucap Felix dan segera berlalu pergi meninggalkan wanita yang pernah di cintai nya itu
"Felix...". Gumam Lathesia berlinang air mata menatap Felix yang berlalu begitu saja.
Hari ini ia memang datang ke rumah sakit untuk kembali menjalani perawatan kesehatan fisik dan psikis nya. Namun tanpa sengaja retinanya menangkap sosok pria yang pernah bersemayam di hatinya, dengan seketika ia langsung menghampirinya dengan niat hati untuk meminta maaf, namun Felix justru tidak ingin mendengarnya.
"Sakit yang kau beri tidak akan pernah sembuh oleh kata kata". Batin Felix yang entah kemana kakinya tertuju. Yang jelas ia hanya ingin menghindari Lathesia
__ADS_1
......................
"Haii Kak". Sapa Aditya yang tanpa sengaja berpapasan dengan Berli. Saat itu Berli memang tengah berjalan di koridor untuk pergi ke gudang
"Haii Aditya.... ". Jawab Berli tersenyum
"Kemana kakak akan pergi?". Tanya Aditya
"Aku akan pergi ke gudang. Banyak sekali pekerjaan ku yang masih di simpan disana". Jawab Berli
"Ahh tidak usah Aditya, kau kerjakan saja pekerjaanmu sendiri, jangan sampai kau kelelaham karena tugasku". Bantah Berli
"Tidak kak, pekerjaanku sudah selesai. Dan aku ingin membantu kakak, daripada aku hanya diam saja kan". Jawab Aditya
"Sebenarnya kau bekerja di bagian mana? Maksudku, kau sepertinya cepat sekali menyelesaikan pekerjaanmu hmm?". Ucap Berli tersenyum penuh tanya
"Sebenarnya aku adalah tangan kanan Pak David. Dan sekarang aku sudah menyelesaikan tugasku. Ya, mungkin untuk beberapa jam saja aku bisa membantu kakak, daripada aku menyianyiakan waktu ku begitu saja kan". Ucap Aditya tersenyum
__ADS_1
"Jadi kau? Kau benar benar hebatt, aku bangga padamu Aditya". Ucap Berli sambil mengacungkan kedua ibu jarinya
"Haha, ya sudah, kita mulai sekarang nyonya?". Ucap Aditya tertawa renyah dan akan membantu Berli
"Haha kau ini". Ucap Berli sambil pergi menuju ke gudang dan di susul Aditya
......................
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?". Tanya Bu Inez yang menghentikan langkah dokter yang keluar dari ruangan itu
"Saat ini pasien sudah mulai membaik, namun keadaannya belum begitu stabil, kami akan terus berusaha memberikan yang terbaik. Sementara itu, ibu dan keluarga tetap bersabar ya". Jawab dokter penuh kelembutan
"Apa saya di perbolehkan untuk menjenguknya? Sebentar saja.... Saya mohon dok". Pinta Prianka sambil menyatukan kedua tangannya dan langsung di tenangkan oleh Bu Inez
"Boleh, namun saya harap ibu bisa tetap tenang saat melihat keadaannya, karena situasi di ruangan dapat mempengaruhi keadaan pasien.". Ucap Dokter
"Baik, terimakasih dokter". Ucap Prianka tersenyum. Akhirnya ia bisa menemui kembali pria yang masih ia cintai itu, meskipun dalam keadaan yang berbeda dari biasanya.
__ADS_1