
Berli menangis tersedu-sedu. Setelah berlalu meninggalkan Sherly, ia berlari ke kamar mandi pabrik untuk meluapkan semua kesedihan nya.
"Felix, apakah kita akan mampu jika seperti ini?". Gumam Berli. Ia mulai goyah dengan pendirian nya. Karena perkataan Sherly membuatnya tersadar dengan posisi nya.
Ia tersadar kembali, ia yakin bahwa ucapan Sherly tidak akan berpengaruh apapun pada hubungan ia dengan Felix.
"Tidak, ini bukanlah apa-apa. Ini hanya ujian sesaat. Ucapan ia sama sekali tak sebanding dengan perasaan kami berdua. Felix sangat baik kepadaku, begitu juga dengan keluarga nya. Aku yakin ini hanya sementara. Dan kami tidak akan berpisah hanya karena ucapan orang lain".
Berli menyeka air mata nya, dan berusaha untuk tidak memikirkan nya. Ia melenggang, untuk kembali melanjutkan pekerjaan nya.
......................
__ADS_1
"Jika di dengar-dengar, ucapan Tante Inez tadi cukup meyakinkan. Itu berarti Tante Inez juga tidak menyukai hubungan antara Felix dan Berli. Ini kabar bagus, setidaknya aku punya seseorang yang bisa membantu memisahkan mereka berdua". Gumam Lathesia, yang tengah menyetir mobil seorang diri. Ya, ia memang tidak berlama-lama di kediaman Bu Inez. Karena kini, mood nya sedang tidak bagus.
......................
"Dasar wanita tak berguna!. Sekarang kau mulai berani melawanku hah?. Jadi kau masih berhubungan dengan Romi?. Dasar ja**ng!". Teriak lelaki itu penuh amarah. Saat mengetahui, bahwa wanita tawanan nya menjadi mata-mata di rumah nya sendiri.
Bryan sama sekali tak memberi ampun kepada Prianka. Ia menamparnya dengan tamparan yang sangat kuat. Hingga Prianka terpental ke lantai
Plakkk,,
Kembali Bryan menampar Prianka kuat-kuat. Hingga Prianka tersungkur, dan penglihatan nya kabur. Ia hampir tak sadarkan diri. Bryan mendekatinya dan membisikan sesuatu. Kali ini, Prianka sudah benar-benar tak tahan dengan luka nya. Mata nya yang hampir menutup, bahkan antara mendengar dan tidak ucapan Bryan.
__ADS_1
"Baik, aku akan melepaskanmu. Tetapi sebelum itu, biarkan aku bermain-main dengan pujaan hatimu itu". Ucap Bryan menyeringai. Tentu tujuan nya tak lain adalah Romi.
Prianka kini terbaring tak berdaya di lantai. Bryan yang melihat telepon dan alat perekam itu, ia langsung menghancurkan nya.
Ya, selama ini ia memang curiga, mengapa Prianka sering sekali berdiam diri di kamar. Ternyata, diam-diam ia selalu mengabari Romi dan mengumpulkan bukti untuk menjerumuskan nya ke penjara.
Namun, dengan cara licik nya, Bryan menghancurkan itu semua. Ia membawa sebilah palu dan menghancurkan benda itu hingga benar-benar hancur tak tersisa.
"Sudah ku katakan, jangan melawanku!". Tegas Bryan, mengarahkan pandangan nya ke arah Prianka yang sudah terkapar tak berdaya.
"Kali ini, giliranmu Romi". Bryan menyeringai, dan berlalu pergi, tanpa mempedulikan Prianka yang tak sadarkan diri di lantai.
__ADS_1