
"Aneh sekali. Kenapa Berli tak menjawab telponku?". Gumam Felix. Tak biasanya Berli sulit di hubungi seperti ini. Padahal, biasanya Berli sangat menantikan panggilan dari Felix.
Ozcan yang berada di sana, ia melihat keresahan Felix. "Ada apa Felix?".
"Tidak. Berli tidak mengangkat panggilanku. Mungkin ia sedang sibuk".
"Tapi, di Indonesia pasti sudah malam kan?. Berli juga pasti sudah ada di rumah nya".
Felix mengernyit. "Ya. Maka dari itu".
......................
"Bagus, sekarang lakukan sesuai yang ku minta. Aku tidak ingin ada kesalahan, atau hal apapun yang terlewat". Bisik Bu Inez kepada beberapa wanita dan satu Pria itu tepat di belakang pintu kamar.
"Ambil sebanyak mungkin gambar mereka. Jangan sampai ada yang gagal". Ucap Lathesia.
'Setelah ini, kau akan hacur Berli'. Lathesia membatin penuh kepuasan.
Mereka berhasil membuat Berli dan David berada dalam satu ranjang. Mereka dengan tega membuat fitnah seolah David dan Berli telah melakukan hal yang tak senonoh. Mereka menyabotase penampilan Berli dan David. Berli yang semula mengenakan pakaian serba panjang, kedua wanita itu membuka nya, dan yang tersisa hanya pakaian singlet yang Berli kenakan sebagai kaus dalam. David yang semula mengenakan kemeja panjang, Pria itu membuka nya, membuat David tak mengenakan atasan nya. Mereka juga mengatur posisi di antara David. Seolah, Berli dan David sedang berpelukan dalam hubungan gelap.
Mereka mengambil beberapa gambar potret itu. Tak lupa, mereka merekam posisi saling memeluk. Siapa saja orang awam, pasti akan menanggap itu adalah hal di sengaja. Padahal, ada dalang di balik semua ini.
"Selesai. Ayo, kita keluar..". Ketiga karyawan itu telah selesai mengerjakan tugas nya. Mereka mengendap-endap keluar.
"Bagaimana?". Bu Inez kegirangan di luar kamar itu.
__ADS_1
"Ini Nyonya. Kami sudah memberikan apa yang Nyonya minta". Wanita itu memberikan kembali ponsel Bu Inez yang ia gunakan untuk fitnah keji itu.
Bu Inez memberikan sebuah amplop berisi uang. "Baik, pergilah".
"Terimakasih Nyonya". Ketiga karyawan itu tersenyum, karena mendapat sejumlah uang dari Bu Inez.
"Aku sudah tidak sabar Tante. Bagaimana jika Felix melihat semua ini?. Hatinya pasti akan sangat hancur". Lathesia sangatlah puas.
"Felix akan membenci nya untuk selama-lama nya". Bu Inez tersenyum penuh kemenangan.
Setelah beberapa jam tertidur, akhirnya Berli terbangun. Namun, betapa terkejut nya ia, saat mendapati dirinya tengah berada di dalam pelukan David. Apalagi, ia melihat David tak mengenakan pakaian atas nya. Dan Berli sudah dalam keadaan tak mengenakan pakaian panjang nya lagi.
"Astagfirullahalladzim". Berli membelalak tak percaya. Ia berteriak, membuat David ikut terjaga. Ia menarik selimut, untuk menutupi diri nya yang hanya mengenakan pakaian pendek.
David terbangun, sembari memegang pelipis nya. "Berli?". David tak kalah terkejut.
"Kenapa Pak David tega melakukan hal keji ini?. Ternyata, Pak David mengundangku kesini, hanya untuk menjebakku?". Berli di penuhi rasa kecewa dan sedih. Ia mengingat Felix, ia pasti akan sangat membenci nya.
David spontan mendekati Berli, dan Berli bergerak menjauh.
"Berli, aku tidak tahu semua ini. Aku sama sekali tak mengundangmu kemari. Bahkan, kau yang memintaku untuk datang. Aku juga tidak tahu mengapa kau ada disini, dan tidur bersamaku".
"Keluar! Aku tidak ingin melihatmu!". Teriak Berli. Ia tak percaya dengan ucapan David. Ia hanya menangis tersedu-sedu.
"Berli, aku mohon.. Percayalah". David kalut. Ia tak tahu mengapa semua menjadi seperti ini.
__ADS_1
"Keluar!". Ucap Berli penuh penekanan.
David tak kuasa, ia langsung mengambil kemeja nya yang tergeletak di lantai, dan keluar dari kamar itu.
Berli menangis, sejadi - jadi nya, dalam posisi memeluk tubuh nya yang hanya di balut selimut. "Felix.. Maafkan aku".
Ia melihat, pakaian nya tegeletak di lantai tak beraturan. Hati nya semakin sakit, dan penuh kecewa.
"Felix, apa kau akan menerimaku lagi setelah ini?". Berli hancur sehancur-hacur nya. Ia merasa diri nya sudah bernoda. Pernikahan yang sudah tinggal beberapa minggu ini, mungkin akan sirna.
Berli memungut pakaian nya yang tergeletak di lantai, ia mengenakan nya lagi. Ia begitu lemas, namun ia hanya ingin pulang ke rumah nya. Mungkin disana, ia bisa menangisi kegagalan nya ini.
"Siapa yang melakukan semua ini?. Berli pasti akan sangat membenciku. Bagaimana cara ku menjelaskan padanya?!". David kalut. Ia berada di dalam mobil nya, untuk merenungi semua ini.
......................
"Sayang sekali, kau tidak mengangkat telponku. Padahal, kau pasti akan sangat suka". Felix menggenggam sebuah kalung, boneka, dan selendang yang telah ia beli untuk Berli.
Namun sayang, Berli tak bisa di hubungi.
"Aku akan memfotonya. Setelah melihat nya, Berli pasti akan sangat senang". Felix begitu semangat. Ia mengirimkan foto benda cantik itu.
......................
Berli keluar dari hotel itu dengan penuh kesedihan. Hatinya hancur sehancur-hancur nya. Ini adalah hal terburuk yang pernah ia alami sepanjang hidup nya.
__ADS_1
"Ya Allah.. Maafkan hambamu ini". Gumam Berli. Ia berjalan sendiri di tengah gelap nya malam. Ia menangis tak henti nya mengingat Felix yang begitu mencintai nya.