
"Baiklah. Kita berangkat Nona?". Ucap Felix saat mereka hendak pergi ke pabrik. Mereka kini sudah menyelesaikan sarapan nya dan memutuskan untuk segera bergegas pergi.
"Tentu saja Tuan". Berli terkekeh. Dan segera menaiki motor matic itu
"Pegangan yang kuat atau kau akan terbawa angin nanti". Felix tertawa renyah
"Kau membuatku kesal ya.. ". Berli tertawa renyah seraya menepis helm yang Felix gunakan
"Baiklah. Kita berangkat".
Akhirnya kedua insan itu berlalu pergi untuk mendatangi tempatnya bekerja.
......................
"Bagus kau sudah siap. Aku bisa terlambat karena mu". Gumam David dingin. Kini ia berada di dalam mobil bersama Jovanka.
Ia berencana untuk mengantar Jovanka sebelum ia pergi ke pabrik. Sementara itu, mobil Jovanka yang mengalami kerusakan di bagian depan kini tengah di perbaiki di bengkel. Entah apa yang terjadi malam itu, saat David menemukan mobil Jovanka di jalanan, bagian depan mobilnya terlihat lecet seperti sudah menabrak sesuatu.
"Aku sangat pusing.. ". Gumam Jovanka yang merebahkan kepalanya di sandaran mobil. Kepalanya masih terasa sangat pening
"Lagipula tidak ada yang menyuruhmu untuk mabuk. Kau mempersulit hidupmu sendiri". Balas David seraya mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Aku lelah. Aku jenuh". Gumam Jovanka
"Ya. Karena kau terlalu berambisi untuk mencapai sesuatu yang tidak akan menjadi milikmu". Balas David datar
"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?". Ucap Jovanka lemas sambil memijat kepalanya
"Jalani hidupmu apa adanya, itu saja.". Balas David
"Lalu apa yang akan aku dapatkan dari itu? Harta? Kekuasaan? Tidak. ". Ucap Jovanka membantah namun tangan nya tak berhenti memijat kepalanya yang pening
"Kebahagiaan lebih penting dari apapun. Sekalipun kau banyak harta tapi tidak bahagia? . Itu semua tidak ada artinya".
"Kau benar". Seketika Jovanka memikirkan kembali rencananya
"Apa apaan kau ini? Ponsel mahal ku terjatuh karenamu". Ucap Jovanka sambil menundukan kepalanya untuk meraih ponsel nya yang terjatuh.
Sementara David hanya terdiam seribu bahasa saat melihat pemandangan di depan nya. Wanita yang begitu ia cintai, kini terlihat begitu bahagia dengan pria lain. Ia memang sudah mengetahui tentang hubungan Felix dan Berli, namun ia masih tetap tidak tahan jika melihat mereka bersama.
"Berli.. ". Gumam David yang hatinya tertegung. Ada rasa sakit di hatinya.
"Hey. Apa yang kau lihat? Kau tiba tiba mengerem seolah ada hantu di depan mu". Ucap Jovanka seraya mengekori kemana arah mata David melihat. Namun ia tak menemukan siapapun di depan nya. Karena Felix sudah berlalu.
__ADS_1
"T.. Tidak. Maafkan aku.. ". Ucap David kembali melajukan mobilnya. Mood nya tiba tiba berantakan pagi ini.
"Ck. Aneh sekali". Gumam Jovanka yang kembali menyandarkan kepalanya di sandaran mobil
"Yang aku tahu bahwa, sampai saat ini aku belum rela melihat mu bersama pria lain. Tetapi aku bisa apa? Semua sudah berakhir sebelum di mulai. Kau sudah di miliki orang lain". David membatin.
......................
"Sepulang nanti, kau harus menungguku datang. Kau tidak boleh pulang sendirian". Ucap Felix penuh perhatian. Mereka memang masih berada di perjalanan
"Memang nya kenapa kalau aku pulang sendirian?". Ucap Berli terkekeh pura pura tak mengerti maksud Felix.
"Bagaimana jika kejadian itu terulang kembali hmm? Itu tidak boleh terjadi". Ucap Felix
"Kejadian apa?". Tanya Berli bingung
"Kejadian saat kau di ganggu oleh pria pria itu. Untung saja aku datang bukan?". Ucap Felix tertawa renyah saat mengingat pertemuan pertama mereka
"Tetapi itulah yang membuat kita bertemu bukan? Jika di ingat lagi, sepertinya semua sudah terangkai rapih. Memang benar, semua kejadian pasti ada hikmah nya". Ucap Berli tersenyum mengingat kejadian malam itu
"Hikmah kali ini begitu indah". Ucap Felix tertawa renyah
__ADS_1
"Kau ini". Ucap Berli tertawa menepis pundak Felix