
"Musibah telah berlalu, tante jangan terlalu memikirkan nya lagi". Ucap Ozcan memecah keheningan di dalam mobil itu. Saat ini, ia memang tengah menyetir mobil Bu Inez. Melihat keadaan Bu Inez yang kalut, Ozcan tidak mungkin membiarkan nya menyetir sendirian.
"Tidak nak, tante hanya berpikir bagaimana jika kalian telat datang. Semua aset peninggalan ayah Felix pasti sudah berada di tangan mereka". Balas Bu Inez penuh sesal.
"Mama tidak perlu memikirkan nya lagi. Nasib baik masih berpihak kepada kita. Mulai sekarang kita tidak boleh mudah percaya kepada seseorang". Sahut Felix sambil mengarahkan pandangan nya ke jendela.
"Iya nak. Mama akan menjadikan ini suatu pelajaran. Mama sangat menyesal sudah menjodoh-jodohkan mu dengan Jovanka, maafkan mama". Ucap Bu Inez kembali penuh sesal.
"Tidak apa, sudahlah. Lagipula sebentar lagi aku akan memperkenalkan mama kepada seseorang. Aku harap mama akan menyukainya". Ucap Felix tersenyum mengingat bagaimana jika ia membawa Berli ke rumah nya.
"Oh ya?. Siapa?. Mama ingin sekali melihatnya". Jawab Bu Inez bersemangat. Entah mengapa ia benar-benar lupa akan isu yang pernah Sherly ucapakan tentang Berli. Ia hanya memikirkan tentang pengganti Jovanka.
"Secepatnya. Secepatnya aku akan membawanya ke hadapan mama". Balas Felix sambil tersenyum.
Ozcan hanya tersenyum mendengarnya. Ia turut bahagia jika sahabat nya itu sudah menemukan kebahagiaan nya.
......................
__ADS_1
"Nona Lathesia?. Ada apa datang kemari non?". Ucap Bi Esin ramah saat membukakan pintu yang beberapa menit di ketuk.
"Tuan Felix, apa ia sudah pulang ke rumah?". Tanya Lathesia sambil mengedarkan pandangan nya ke sekeliling rumah mewah itu. Namun, rasanya sangat sepi seperti tak berpenghuni.
"Tuan Felix sedang di jemput oleh Nyonya Inez, non. Silahkan masuk, biar bibi biarkan minum". Ucap Bi Esin ramah kepada Lathesia.
"Baiklah bi, aku akan menunggu". Ucap Lathesia semangat, sambil duduk di sofa antik rumah itu.
"Baik nona, saya ambilkan minum ya". Ucap Bi Esin sambil melenggang pergi ke dapur untuk mengambil minum.
Tak berselang lama, Romi datang tanpa mengetuk pintu ataupun mengucap salam. Ia datang dengan raut wajah tanpa semangat.
"K.. Kau?". Romi yang semu seketika heran dengan keberadaan Lathesia. Ia sedikit berjalan menghampiri Lathesia.
"Haii, bagaimana kabarmu?". Ucap Lathesia dengan nada ceria. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Romi.
"Aku baik-baik saja". Romi yang masih heran, tetap membalas uluran tangan Lathesia.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu". Ucap Lathesia manis.
"Oh iya, ada apa kakak datang kemari?". Tanya Romi
"Untuk bertemu dengan bi Esin. Haha... Tentu saja aku ingin bertemu Felix, siapa lagi". Balas Lathesia terkekeh.
"Kak Felix? Tapi untuk apa?". Seketika Romi bertanya demikian. Mengingat, mereka sudah tidak mempunyai hubungan apapun.
"Kenapa?. Memangnya kau tidak tahu?. Kami berdua masih saling mencintai". Jawab Lathesia yakin.
"Apa?. Tidak, kak Lathesia pasti salah faham". Bantah Romi tak percaya.
"Apa maksud mu?. Kenyatannya seperti itu. Aku masih mencintai Felix". Ucap Lathesia penuh penekanan.
"Tetapi bukan berarti kak Felix juga mencintaimu bukan?. Terlebih penderitaan yang kau berikan di masalalu bukanlah hal yang mudah di maafkan. Maaf, tetapi aku takut kau hanya bergantung pada harapan kosong". Ujar Romi sambil berlalu pergi. Ia memang membantah keras jika Felix dan Lathesia harus kembali bersama.
Lathesia hanya terdiam menahan gejolak panas di hatinya. Bagaimana bisa Romi berkata demikian, saat ia sedang begitu semangat memperjuangkan Felix. Tetapi ia berpikir, keputusan Romi sama sekali tidak mengubah apapun. Ia masih bertekad untuk mencapai tujuan nya.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak peduli!". Gumam Lathesia dengan ekspresi kesal. Sungguh ekspresinya berubah drastis saat mendengar ucapan Romi. Sangat berbeda dengan ekspresi awal yang begitu manis dan ramah.