DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 197 - Memilih


__ADS_3

"Sudah waktunya pulang. Sebaiknya aku tidak perlu lembur hari ini". Ucap Berli. Ia hendak mengemasi barang nya, karena waktu sudah menunjukan waktunya pulang.


"Berli.. ". Ucap seorang Pria di ambang pintu


"Pak David". Gumam Berli. Ia kembali badmood mengingat ucapan David tadi siang. Namun ia berusaha menutupinya.


"Berli, aku ingin meminta maaf soal tadi. Mungkin aku tidak seharusnya mencampuri urusan kalian. Tapi percayalah, aku ingin yang terbaik untukmu". Ucap David penuh penyesalan. Membuat Berli sedikit terharu.


"Iya Pak, saya mengerti. Terimakasih untuk itu, saya baik-baik saja". Ucap Berli tersenyum menutupi perasaan nya.


"Kau akan pulang? Biar ku antar ya.. ". Ucap David sigap


"Ah tidak Pak, terimakasih. Saya bisa pulang sendiri. Lagipula, apa pandangan orang lain jika kita pulang bersama. Bapak tidak perlu repot repot". Ucap Berli menolak. Salah satu alasan ia menolak adalah, mungkin hal ini bisa saja memperkeruh masalahnya dengan Felix.


"Baiklah, aku tidak bisa memaksamu sekarang. Kalau begitu, hati-hati. Sampai jumpa besok.. ". Ucap David menghela nafas dan melenggang. Kali ini ia tidak bisa memaksa seperti biasanya, karena ia menyadari bahwa Berli sudah di miliki orang lain.


"Baik, terimakasih Pak". Jawab Berli tersenyum


"Syukurlah Pak David tidak memaksa". Gumam Berli menatap pundak David.


......................


"Nak, bagaimana semua ini bisa terjadi?. Apa yang kau lakukan?". Ucap Bu Inez penuh khawatir saat menemui putra sulungnya. Felix kini sudah berada di ruang rawat inap.


"Hanya kecelakaan kecil, aku baik baik saja". Jawab Felix sambil menahan sakit di tangan nya. Tangan dan kakinya di penuhi perban yang membalut luka nya

__ADS_1


"Baiklah, kau beristirahatlah". Ucap Bu Inez sambil membenahi selimut di ranjang rumah sakit.


"Aku ingin pulang saja, aku baik baik saja Ma". Ucap Felix menyangkal. Ia rasa, sakit nya masih bisa di tahan dan merasa tidak begitu parah, sehingga ia tidak ingin tinggal disini.


"Kenapa sayang? Kau masih sakit. Tinggalah disini sampai kau sembuh". Ucap Bu Inez penuh kelembutan, seolah tidak terjadi apa apa di antara mereka.


"Dimana ponselku?". Ucap Felix yang seketika mengingat Berli.


"Ponselmu hilang sayang, sudahlah. Kau bisa membelinya nanti setelah kau sembuh. Sekarang, jangan pikirkan apa apa Kau harus fokus pada kesehatanmu". Ucap Bu Inez menjelaskan


"Aku harus mendapatkan ponselku sekarang. Aku masih banyak urusan". Ucap Felix


"Nak, sudahlah, kau urus urusanmu nanti saja. Biar semua baik baik saja ya". Ucap Bu Inez menasihati


"Apakah semua baik-baik saja?". Ucap Felix menatap tajam Ibunya. Membuat Bu Inez kembali tertegung mengingat kejadian hari ini.


"Lalu maksud dari rekaman itu?. Apa Mama baik baik saja setelah mendengar rekaman itu?". Ucap Felix kembali bertanya, membuat Bu Inez gusar.


"Felix, sudahlah nak. Kau sedang sakit, kau tidak fokus berkendara gara gara memikirkan hal itu kan?. Sudahlah". Ucap Bu Inez menyangkal


"Aku ingin Mama menjelaskan semua itu kepadaku. Apa maksud rekaman itu?". Tanya Felix penuh pertanyaan. Bu Inez kembali gusar mendengar pertanyaan itu.


"Felix.. ". Suara nyaring seorang wanita di ambang pintu, yang datang dan seketika memeluk Felix.


"Lathesia". Felix terkejut dengan kedatangan wanita yang membuatnya terkena masalah hari ini. Lagi lagi ia melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan di perusahaan tadi.

__ADS_1


"Syukurlah Lathesia datang di saat yang tepat". Batin Bu Inez. Ia merasa terselamatkan dengan kedatangan Lathesia.


"Lepaskan aku. Lagi lagi kau melakukan hal bodoh". Felix menepis lengan Lathesia yang melingkar begitu saja di dadanya.


"Felix, bagaimana semua ini bisa terjadi?. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu". Ucap Lathesia penuh perhatian


"Aku baik baik saja. Sebaiknya kau pulang". Ucap Felix dingin


"Felix. Lathesia datang untuk menjengukmu, kau tidak boleh seperti itu nak". Ucap Bu Inez merasa tidak enak atas perlakuan Felix.


"Aku tidak ingin di jenguk, lagipula aku baik baik saja. Sebaiknya kau tidak perlu menemuiku lagi. Urus saja hidupmu". Ucap Felix, ketus.


"Felix, aku mencintaimu. Maafkan aku di masalalu, aku menyesalinya. Sekarang aku sudah tidak bersama dengan Jeff lagi. Aku ingin kembali bersamamu. Izinkan aku untuk mencintaimu Felix.. ". Ucap Lathesia penuh permohonan


"Sebaiknya buang jauh jauh pikiran itu. Aku sudah memiliki pendamping pilihanku sendiri, aku akan melamarnya, dan kami akan menikah. Alangkah baiknya kau tidak mengganggu itu semua". Ucap Felix pasti.


"Felix, apa yang kau katakan nak? Kau hanya akan menikah dengan Lathesia". Ucap Bu Inez yang seketika naik darah


Lathesia hanya terdiam menyeka air matanya.


"Pernikahan hanya akan di lakukan sekali seumur hidupku. Tentu aku akan hidup dengan seorang wanita pilihanku. Dulu aku memilihmu, namun ternyata kau bukanlah orang yang tepat. Dan kali ini, aku tidak ingin salah memilih lagi. Aku sudah menentukan pilhanku. Untuk itu, pergilah dan jangan memaksakan kehendakmu kepadaku". Ucap Felix tegas. Ia menatap Lathesia dan Ibunya bergantian.


Lathesia yang terpukul, seketika pergi dari ruangan itu. Namun bukan ingin menjauhi, Lathesia justru mempunyai niat lain di hatinya.


"Lathesia, tunggu..". Ucap Bu Inez sambil menyusul Lathesia keluar ruangan.

__ADS_1


Felix mengabaikan mereka. Ia hanya memikirkan, apakah Berli baik baik saja setelah melihat kejadian tadi? Ia berharap bisa menemuinya hari ini juga. Banyak hal yang ingin ia jelaskan kepadanya.


__ADS_2