
"Prianka, kami turut berduka cita atas kepergian ayahmu". Ucap Neel yang kini sudah berada di kediaman Prianka.
"Terimakasih Neel". Jawab Prianka sambil menangis
"Prianka.. Aku turut berduka". Sahut Adelard dengan nada tertatih
"Terimakasih". Jawab Prianka
"Nyonya, penggalian makam nya sudah selesai. Jenazah bisa di kebumikan sekarang, karena jenazah sudah di mandikan di rumah sakit". Ucap seorang pengurus jenazah menjelaskan
"Prianka sayang, kau yang kuat ya nak... ". Ucap Bu Inez membawa Prianka ke pelukan nya. Momen haru itu tentu tak lepas dari penglihatan tiga sejoli itu.
"Terimakasih tante". Ucap Prianka menangis di pelukan Bu Inez
'Kenapa Adelard terlihat berbeda hari ini? Apa yang ia sembunyikan dari ku. Bahkan sampai sekarang?. Ini pasti ada yang tidak beres'. Batin Neel menatap lekat Adelard yang sejak tadi hanya menunduk
"Neel, Adelard, terimakasih sudah datang...". Ucap Romi
"Tentu Rom, jangan berterimakasih, kami juga kan teman Prianka". Jawab Neel tersenyum. Adelard sama sekali tak mengatakan apapun
"Adelard?, kau baik baik saja?". Ucap Romi penuh selidik
"Tentu, aku baik baik saja". Jawab Adelard yang baru tersadar dari lamunan nya.
"Prianka, apa kita ke pemakaman sekarang?, atau masih ada kerabat yang akan datang?, kau sudah mengabari kerabat mu kan?". Tanya Romi kepada Prianka
"Iya Rom, mereka sepertinya tidak bisa datang sekarang, lebih baik kita makam kan sekarang, kasihan ayah jika menunggu lebih lama lagi". Ucap Prianka menangis tersedu sedu menatap jenazah ayah nya
"Baiklah. Neel, Adelard, kalian akan membantu kan?". Ucap Romi kepada kedua sahabatnya
__ADS_1
"Tentu Rom". Jawab Neel sambil tersenyum
"Adelard?, kau mendengarku?". Ucap Romi yang merasa tak di dengar oleh Adelard
"Ah, iya. Ada apa Rom?". Ucap Adelard terbata
"Kau akan membantu prosesi pemakaman nya kan?". Tanya Romi
"Te.. Tentu saja... ". Jawab Adelard gugup
......................
"Felix, sudahlah... Nanti kau lelah". Ucap Berli yang masih membimbing Felix mengerjakan pekerjaan miliknya
"Aku tidak lelah". Jawab Felix sambil bekerja
"Tidak". Jawab Felix yang masih bersih kukuh mengerjakan pekerjaan itu.
Srttt,, tiba tiba mesin pemotong kain itu mengenai tangan Felix hingga terluka
"Tuh kan, apa ku bilang.. Kau jadi terluka karena mambantuku Felix". Ucap Berli khawatir. Dengan refleks ia langsung memegang tangan Felix dan membersihkan luka itu
"Kau takut?". Ucap Felix tersenyum tipis. Hatinya begitu bahagia.
"Tidak, ini pasti gara gara aku kan.. Aku hanya tidak enak saja". Jawab Berli gugup
"Tapi kau mengkhawatirkan aku". Ucap Felix tersenyum menyeringai. Dengan telaten Berli membersihkan darah dari lukanya itu.
"Tidak. Huh". Ucap Berli sambil melepaskan tangan Felix dari genggaman nya
__ADS_1
"Awww". Ucap Felix berpura pura sakit untuk membuat Berli khawatir
"Apa itu sakit?". Ucap Berli, sontak ia langsung membawa tangan Felix kembali
"Tidak". Ucap Felix tertawa tipis
"Kau ini". Ucap Berli yang menunjukan wajah kesal nya. Namun hatinya begitu bahagia.
"Kau yang bersalah atas luka ini". Ucap Felix yang tengah mengerjai Berli
"Iya, tapi kan kalau kau tadi menurut kepadaku untuk tidak membantu, ini kan pasti tidak akan terjadi". Jawab Berli sambil memasangkan plester di tangan Felix. Untung saja selalu ada persediaan plester di tempat nya bekerja
"Kau harus bertanggung jawab". Ucap Felix membuat Berli takut
"Tanggung jawab apa?". Jawab Berli bingung
"Saat hari libur nanti, kau harus menghabiskan waktumu bersamaku". Ucap Felix tersenyum menyeringai
"Tapi... Apa?, maksud ku.. Apa itu bisa di sebut tanggung jawab, ini kan hanya luka sedikit saja". Jawab Berli terbata bata
"Lalu kenapa kau khawatir?". Ucap Felix menatap lekat Berli
"Tidak, aku tidak khawatir". Ucap Berli memalingkan wajah nya ke sembarang arah
"Lihat, hidung mu jadi panjang karena berbohong". Ucap Felix terkekeh
"Mana?, tidak". Ucap Berli sontak ia langsung memegang hidung nya
"Kau pinokio". Ucap Felix terkekeh
__ADS_1