
"Aku merindukanmu Berli. Tetapi keadaan memaksaku untuk melupakanmu. Sungguh, ini membuatku tersiksa". David membatin menatap nanar ke luar jendela ruangan kerja nya. Yang ia pikirkan hanyalah wanita yang sudah menempati hatinya sejak lama.
"Pak David.. ". Aditya menepis pundak David berniat untuk menenangkan nya
"Oh ya. Ada apa Aditya?". Tanya David yang seketika menoleh ke arah Aditya
"Maaf jika aku lancang. Tetapi ku lihat akhir akhir ini pak David sering sekali melamun. Jika ada masalah ceritakan saja padaku, barangkali aku bisa membantu". Ucap Aditya dengan penuh simpati
"Ternyata kau menyadarinya juga". Gumam David yang pikiran nya masih kalut
"Mungkin saja aku bisa membantu meringankan beban pak David". Ucap Aditya kembali
"Seharusnya aku tidak membawa urusan pribadi ke tempat bekerja. Tetapi Aditya, apa kau pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan?". Ucap David kembali gundah
"Kehilangan? Bagiku setiap hari adalah kehilangan. Hidupku penuh dengan rasa kehilangan. Mengiklaskan adalah makanan sehari hariku. Bagiku kehilangan adalah hal yang paling buruk dalam hidupku". Jawab Aditya yang malah mengingat masalah pribadinya
__ADS_1
"Aku ingin melupakan nya, tetapi aku tidak mampu". Ucap David putus asa
"Kita memang tidak akan pernah bisa melupakan orang yang kita cintai. Terlebih jika cinta itu masih membara. Tetapi mengiklaskan adalah cara yang paling benar untuk menyembuhkan luka walau menyiksa". Balas Aditya
"Hatimu begitu lapang. Aku harus banyak belajar darimu. Terimakasih Aditya". David terharu dan memeluk Aditya
"Semoga kebahagiaan selalu bersamamu pak". Aditya membalas dengan pelukan
......................
"Belum sayang. Mungkin sebentar lagi ia akan pulang". Jawab Bu Inez
"Tidak ma. Kak Felix sempat mengatakan padaku bahwa hari ini ia akan lembur. Jadi sepertinya jika kak Jovanka menunggu, itu hanya akan sia sia". Sahut Romi. Ia hanya berusaha melindungi kakak nya dari wanita itu. Pasalnya, Romi tahu persis bagaimana perasaan Felix pada Jovanka
"Menyebalkan. Felix selalu saja menghindariku". Jovanka membatin
__ADS_1
"Ah tidak apa. Aku akan tetap menunggu. Lagipula jika aku sudah menikah dengan Felix nanti, aku juga akan di hadapkan dengan hal seperti ini kan. Jadi anggap saja ini permulaan". Balas Jovanka yang membuat Romi sebal mendengarnya
"Wanita ini benar benar percaya diri. Aku harus segera mengabari kak Felix agar pulang terlambat". Batin Romi. Ia benar benar geli mendengar perkataan Jovanka
"Baiklah nak. Kau tunggu saja ya, tante juga akan menelpon nya agar ia menunda pekerjaan nya. Felix memang selalu rajin. Kau benar benar cocok dengan nya. Satu pekerja keras, satu nya penuh ambisi. Benar benar serasi". Ucap Bu Inez bangga
"Tentu saja tante. Apalagi jika aku dan Felix bersama, kami akan mengurus perusahaan bersama bukan? Perusahaan tante akan di gabung dengan perusahaan ayahku". Ucap Jovanka penuh gembira
"Tentu saja sayang. Tante benar benar bangga padamu". Ucap Bu Inez mengusap lembut dagu Jovanka
"Apa yang wanita ini rencanakan kali ini? Ia mengiming imingi harta pada mama seolah harta itu miliknya. Aku benar benar curiga padanya". Romi membatin seraya mendengar perkataan Jovanka
......................
"Tadi Felix belum sempat berkenalan dengan Lathesia. Padahal jika mereka bertemu, Felix mungkin akan bisa membantu memberikan solusi untuk masalah Lathesia". Gumam Berli saat mengingat cerita Lathesia yang masih mengharapkan seorang pria. Ia berpikir mungkin Felix bisa membantu Lathesia mendapatkan kembali pria itu
__ADS_1