
"Apa? Kau tidak bertemu dengan nya?". Ucap Bu Delli penuh kecewa saat Jovanka datang membawa kabar buruk
"Ya. Sepertinya dia mengindariku". Balas Jovanka tak menghiraukan kekecewaan ibunya.
"Jovanka dengar. Mama tidak ingin mendengar kegagalan lagi, besok kau harus datang lagi ke rumah besar itu. Mama tidak ingin menunda lebih lama lagi. Kau harus segera menikah dengan Felix". Ucap Bu Delli penuh penekanan
"Mengapa harus aku? Mengapa mama tidak mencoba saja sendiri agar mama mengerti betapa sulitnya meyakinkan mereka. Apalagi sekarang sepertinya Romi sudah mulai mencurigaiku. Apalagi yang harus aku lakukan? Aku sudah lelah!. Jika seperti ini terus lebih baik hapus saja keinginan mama untuk menguasai harta wanita tua itu!". Jovanka meledak bak bom waktu. Ia benar benar kesal karena terus di desak untuk mencapai keinginan ibunya. Ia berlalu pergi dengan kekesalan nya
"Jovanka! Kau tidak bisa seperti ini". Teriak Bu Delli namun tak di hiraukan oleh Jovanka. Jovanka pergi dengan mobilnya entah kemana. Padahal, ia baru saja datang.
"Menyebalkan! Aku benar benar lelah dengan keinginan mama. Biarkan saja mama berusaha sendiri. Aku tidak ingin ikut campur lagi". Jovanka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah kemana ia akan pergi, ia hanya ingin menenangkan pikiran nya dengan cara apapun.
......................
"Benar benar indah.. ". Gumam seorang gadis cantik yang masih setia menatap benda yang menghiasi kamar nya itu. Siapa lagi jika bukan Berli.
Sejak tadi ia tak melepas pandangan nya dari hiasan dan foto yang baru ia buat dengan Felix. Ia meletakan foto dan hiasan itu di meja kamarnya. Foto itu terlihat begitu indah saat sorotan lampu memancar dari hiasan itu.
"Jika Lathesia melihat ini, ia pasti tidak akan berhenti meledekku..". Berli terkekeh saat menatap foto itu dan mengingat perkataan Lathesia tadi.
__ADS_1
"Aku akan memperlihatkan nya nanti setelah Lathesia kembali bersama kebahagiaan nya. Semoga ia cepat cepat di satukan kembali dengan pria itu". Gumam Berli. Ia merasa iba saat mendengar cerita Lathesia. Meskipun Lathesia tak menceritakan tentang masalalu nya dengan Jeff. Yang jelas, pria yang Lathesia maksud adalah Felix.
......................
"Apa? Mengapa kau tidak mengabariku hal sepenting ini Romi? Apa yang kau pikirkan?". Felix terkejut bukan main saat mendengar penuturan adiknya mengenai kejadian yang menimpanya hari ini
"Aku hanya tidak ingin kakak khawatir. Lagipula semua sudah teratasi. Hanya saja aku tidak mengerti bagaimana bisa barang itu bisa berada di tas ku". Balas Romi
"Kau mencurigai seseorang?". Tanya Felix penuh selidik
"Tidak.. Aku rasa aku tidak perlu curiga kepada siapapun. Aku tidak bertemu dengan orang asing kemarin, maupun hari ini". Jawab Romi sambil penuh pemikiran
"Aku hanya bertemu dengan Neel hari ini. Neel duduk berada di sebelah ku. Tidak mungkin Neel melakukannya. Untuk apa dia memfitnah ku?. Lalu kemarin, aku hanya bersama dengan Adelard. Ah tidak, mereka bukan pelakunya". Romi membatin. Sehingga Felix mencurigai raut wajahnya yang tengah berpikir.
"Romi?". Felix membuyarkan lamunan adiknya itu
"Tidak kak. Aku tidak mencurigai siapapun. Sejak kemarin aku hanya bersama dengan Neel dan Adelard. Jelas mereka tidak mungkin melakukan hal se-hina itu". Balas Romi
"Berarti mulai sekarang kau harus berhati hati Rom. Hari ini seperti ini, bisa saja lain waktu akan lebih parah lagi. Aku benar benar tidak mengerti dengan apa yang selalu menimpa keluarga kita. Aku merasa ada sesuatu yang janggal". Ucap Felix dengan penuh pemikiran. Pikiran nya benar benar kalut.
__ADS_1
"Iya kak. Tentu aku akan lebih waspada". Balas Romi
"Ternyata kak Felix sudah mulai merasa ada yang janggal. Apa aku harus memberitahukan tentang ancaman itu sekarang? Tidak. Sepertinya kak Felix sudah terlalu banyak masalah. Aku tidak mungkin menambah pikiran nya lagi". Romi membatin sambil menatap lekat Felix yang tengah berpikir.
"Oh ya kak. Bagaimana dengan kak Berli? Kalian berkencan hari ini?". Ucap Romi yang berusaha mengalihkan pikiran kakak nya. Ia hanya tidak ingin Felix terlalu bergelut dengan masalah.
"Tidak. Kami hanya berjalan jalan sedikit". Jawab Felix tersenyum tipis.
"Sampai saat ini aku bahkan belum bertemu dengan nya. Kapan aku bisa menemuinya?". Ucap Romi tersenyum menggoda Felix
"Jika kau ingin menemuinya, kau harus meminta izin pada pemiliknya". Felix mengacak rambut Romi sambil tertawa renyah
"Baiklah baiklah.. Jadi kapan aku bisa menemuinya wahai pemilik hati nona Berli?". Ucap Romi tertawa renyah
"Aku akan membawanya kemari nanti. Dengan begitu kau bisa bertemu dengan nya". Jawab Felix
"Serius? Kakak akan membawanya kemari? Lalu bagaimana dengan mama? Apa ia sudah mengetahui tentang hubungan kakak?". Seketika Romi meragukan perkataan kakaknya, mengingat hasrat ibunya begitu menggebu untuk menjodohkan kakak nya dengan Jovanka.
"Tidak. Aku akan membawanya kemari jika waktunya sudah tepat. Tentu mama harus setuju pada pilihanku. Apapun akan aku lakukan untuk bisa bersama nya. Aku tidak peduli dengan rintangan yang ada di depan ku". Balas Felix.
__ADS_1
Romi hanya tersenyum berharap bahwa rintangan itu tidak benar benar menghancurkan kebahagiaan kakak nya.