DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 282 - Membuatnya Untukmu


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, keadaan Berli kian membaik. Ia mulai kembali bekerja setelah beberapa saat.


"Tapi ini terlalu pagi untuk pergi, apa sebaiknya aku membuat kejutan untuk Felix, lalu mengantarnya? Semoga dengan ini hubungan kami akan segera membaik. Sudah lama masalah ini berlarut". Berli menghela nafas, lalu menyiapkan beberapa bahan masakan untuk membuat sarapan.


......................


"Kemana kau akan pergi Rom?".


"Aku aka pergi ke kampus kak". Ucap Romi sembari berupaya merapihkan pakaian nya.


Felix mengernyit. "Sepagi ini?".


"Iya kak, sebentar lagi aku akan mulai menyusun skripsi. Ya.. Semua itu butuh persiapan bukan?".


Felix tersenyum bangga dengan perjuangan sang adik. "Aku tahu kau sudah dewasa"


"Sampai nanti kak, semoga harimu menyenangkan". Romi berlari kecil sembari menepis pundak kakak nya.


......................


Setelah menyiapkan beberapa hal, akhirnya Berli selesai dengan masakan nya yang lezat.


"Bau nya sangat enak, semoga dengan ini Felix akan suka. Dan semoga aku bisa meluluhkan hatinya kembali". Berli tersenyum penuh harap


Ia segera menata nya di kotak bekal, untuk di berikan kepada Felix. Tak lupa, ia membuat salad, dan sebotol jus untuk penutup.


......................


"Nak, apa kabar Berli? Sudah lama mama tidak bertemu dengan nya". Tanya Bu Inez berpura-pura.


Felix menoleh. "Dia baik-baik saja".


Bu Inez mengangguk seolah bahagia. "Lalu bagaimana rencana pernikahanmu? Semuanya lancar kan?. Oh ya, jika kalian butuh bantuan mama sangat siap membantu".


"Semua baik-baik saja, kami bisa menanganinya". Balas Felix datar.

__ADS_1


"Benarkah? Tetapi mama rasa semua sedang tidak baik-baik saja. Mama lihat kau lebih sering melamun akhir-akhir ini".


Felix menyangkal. "Ma, sudah. Aku dan Berli baik-baik saja". Felix menghela nafas dan sedikit tersenyum agar bu Inez berhenti.


"Baiklah".


'Maafkan Mama Felix. Ini mungkin akan menyakitimu, tapi percayalah mama tidak ingin kau menyesal di kemudian hari'. Batin Bu Inez.


Tak lama terdengar ketukan pintu, membuat Felix dan Bu Inez spontan menoleh.


Bu Inez dan Felix melihat pemandangan itu dari lantai atas, ia melihat Bi Esin membukakan pintu.


"Berli?!". Felix membelalak, tiba-tiba Berli datang tanpa menghubunginya.


Seketika Bu Inez kesal, namun ia berusaha mengontrol dirinya.


"Nona Berli, silahkan masuk.. ". Sambut Bi Esin penuh senyuman.


"Tidak, tidak perlu. Apakah Felix ada di rumah? Aku hanya ingin mengantar sesuatu".


"Begitu, baiklah.. Sebentar bibi panggilkan ya". Bi Esin segera melenggang untuk memanggil majikan nya itu. Berli menunggunya dengan penuh harapan.


Sesampainya di depan kamar Felix, Bi Esin langsung mengetuk pintu.


"Permisi Tuan, Nona Berli datang untuk menemuimu, ia menunggu di bawah".


"Katakan padanya aku sedang sibuk". Ucap Felix tanpa membuka pintu.


"Maaf Tuan, tetapi Nona Berli mengatakan bahwa ia ingin menemui Tuan, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan".


Akhirnya Felix terpaksa beranjak. Tentu ini bukanlah cara yang tepat untuk menghadapinya.


Felix membuka pintu, dan melanggang untuk menemui Berli.


Sementara, di lantai bawah Berli masih menunggu di ambang pintu. Ia mengitari keadaan di sekitar, hatinya begitu berbinar saat ia mendapat pemandangan Felix yang tengah menghampirinya.

__ADS_1


"Felix". Berli tersenyum penuh bahagia.


Felix melenggang ke luar melewati Berli. Tanda nya Berli harus mengikuti nya.


felix berhenti beberapa meter dari ambang pintu. "Untuk apa kau datang kesini?". Ucap Felix tanpa menatap sedikitpun ke arah Berli.


Berli berusaha tegar. "Lihatlah, aku membuat sarapan kesukaanmu. Aku juga membuat salad dan segelas jus. Kita sering membuatnya bersama saat itu".


"Kau tidak perlu repot-repot melakukan nya. Kau bisa membawanya pulang kembali". Ucap Felix dingin.


Deeggg, hati Berli berdesir.


"Kenapa aku membawanya kembali pulang?. Aku membuatnya khusus untukmu, Ini.. Kau belum sarapan kan?". Berli berusaha tersenyum, ia menyodorkan nya ke arah Felix.


Seketika Felix memindahkan posisi tangan nya sebelum Berli meraih nya. Tandanya Felix menolak pemberian Berli.


Berli mengernyit.


"Aku tidak membutuhkan nya, dan aku tidak memintanya". Lagi-lagi Berli hanya menerima penolakan.


"Pergilah, dan jangan lakukan hal yang tidak perlu dilakukan".


Akhirnya Berli meluapkan perasaan nya. "Felix, lalu bagaimana lagi caraku untuk memperbaiki hubungan kita?. Bagaimana lagi caraku menjelaskan padamu. Aku tidak ingin kita selalu berlarut dalam kesalah fahaman. Aku mohon.. "


Felix menoleh. "Apapun yang kau lakukan sekarang, tidak akan pernah bisa mengubah apa yang pernah kau lakukan". Felix melenggang meninggalkan Berli begitu saja. Dala hatinya, ia tidak ingin menyakiti Berli terlalu banyak.


Degggg, air mata itu berhasil lolos. Berli hanya menatap punggung Felix yang berlalu meninggalkan nya. Ia menyeka nya, ia berusaha menenangkan dirinya sebelum akhirnya pergi.


"Kesalahanku memang tidak bisa di maafkan". Berli merasa dirinya amat bersalah. Ia tak menyalahkan Felix atas apapun, karena sejatinya kesalahan nya memang sulit untuk di maafkan oleh siapapun.


Felix melenggang ke kamarnya. Ia melihat ke arah jendela, melihat Berli yang masih ada disana. Ia bisa melihat kekecewaan nya.


"Aku tidak bisa menerima apapun yang berhubungan denganmu Berli". Gumam Felix.


Sementara diluar sana, rasanya Berli belum kuasa untuk pergi. Ia berharap Felix kembali dan menerima nya. Hal itu tentu di saksikan Felix tanpa ia sadari.

__ADS_1


__ADS_2