
"Kaaakkkk, ayo sini. Princess nya sudah pulang tuh". Ucap Romi berteriak sambil terkekeh memanggil Felix
"Ishh kamu tuh". Ucap Bu Inez sambil menepis lengan Romi
"Apa". Ucap Felix di ambang pintu
"Ayolah kak, princess mu sudah pergi. Janganlah jual mahal di depan kami hahaha". Ucap Romi menggoda kakak nya
"Aku bahkan tidak sudi melihat wajahnya". Ucap Felix sambil ikut bergabung ke kamar Bu Inez
"Ma, besok Felix kembali ke pabrik. Boleh kan?". Tanya Felix kepada Ibunya
"Pergilah sayang, mama sudah sehat. Tapi kenapa secepat itu?, biasanya kamu malas". Tanya Bu Inez sambil tersenyum penuh selidik
"Jelas sudah ada incaran hati lah ma hahahah". Sahut Romi menggoda kakak nya
"Begitu ya?, ya sudah sayang pergilah". Ucap Bu Inez sambil tersenyum. Hati Felix begitu bahagia karena besok ia akan bertemu kembali dengan pujaan hatinya
......................
"Apa kardus yang ini?. Tapi ini sangat berat". Ucap Berli yang kini tengah berada di ruangan Sherly. Ia melakukan apa yang di perintahkan Sherly
"Huh tapi ini sangat berat, aku tidak bisa mengangkat nya sendirian". Gerutu Berli pelan
"Aku dorong saja mungkin tidak masalah". Ucap Berli dalam hati. Tak berselang lama ia langsung mendorong kardus berisi berkas itu keluar
"Bukan kah itu Abian?. Apa dia mau menolongku?, aku coba saja". Ucap Berli saat melihat Abian tak jauh dari tempat nya menapak kan kaki
"Abiaannn". Ucap Berli sambil menghampiri Abian. Abian hanya diam menunggu apa yang akan Berli katakan
__ADS_1
"Abian, apa aku boleh meminta tolong?. Aku ingin membawa kardus itu ke tempat penghancur kertas, tapi itu sangat berat. Bisakah kamu membantuku mengangkatnya?". Tanya Berli ramah kepada Abian
"Kerjakan pekerjaanmu sendiri, tidak perlu merepotkan orang lain". Ketus Abian sambil berlalu pergi
"Abian kenapa? Tidak biasanya dia seperti ini. Apa kesalahan ku". Ucap Berli pelan. Ia hanya bisa menatap kepergian Abian
"Tapi Abian ada benarnya, tidak seharusnya aku merepotkan orang lain". Ucap Berli dalam hati. Lalu ia kembali mengerjakan pekerjaan nya itu
"Kakk". Tiba tiba suara itu terdengar di telinga Berli
"Adityaa". Ucap Berli menyambut sapaan Aditya
"Biar aku bantu. Sini". Ucap Aditya sambil mengambil pekerjaan Berli
"Tidak usah Aditya, aku selalu merepotkan mu". Ucap Berli
"Aku tidak merasa di repotkan, ayo sini". Ucap Aditya yang langsung membawa kardus berat itu ke pangkuan nya
"Selagi aku mampu untuk membantu, kenapa tidak?". Ucap Aditya sambil tersenyum
"Kak apa kakak tidak salah?. Kardus ini berisi majalah, kita bisa langsung menjual nya ke tukang loak. Kenapa harus di hancurkan menggunakan penghancur kertas?". Tanya Aditya, kini mereka sudah sampai di tempat penghancur kertas. Namun betapa terkejut nya saat ia membuka kardus itu yang ternyata berisi majalah bekas
"Apa?. Tapi Bu Sherly bilang ini berisi berkas yang akan di hancurkan". Tanya Berli terheran
"Mungkin sebaiknya kakak tanya kembali kepada Bu Sherly. Bisa saja dia yang salah". Ucap Aditya. Berli pun memutuskan untuk menanyakan lagi kepada Sherly
"Permisi Bu. Maaf, apa ibu tidak salah?. Di kardus itu isinya majalah bu, bukan berkas seperti yang ibu katakan tadi". Tanya Berli yang kini sudah berada di ruangan Sherly
"Kamu tuh bodoh banget ya. Gaada otak apa?. Emang kamu ga cek dulu apa?". Ucap Sherly penuh kemarahan
__ADS_1
"Maaf bu, tapi kardus itu sudah di tutup rapi. Saya membukanya saat sudah sampai di tempat penghancur kertas". Ucap Berli menjelaskan
"Dasar ceroboh. Gaji kamu saya potong!". Bentak Sherly kepada Berli
"Ah bu, mohon maaf atas kesalahan saya. Saya mohon ya bu, gaji saya jangan di potong. Gaji saya sudah pas untuk uang kost dan kebutuhan, jika berkurang mungkin saya akan kesulitan". Ucap Berli penuh permohonan
"Keputusan saya sudah bulat!". Ucap Sherly tegas
Berli hanya bisa bersabar dengan keadaan nya saat ini. Hatinya benar benar sakit karena perkataan Sherly benar benar menusuk. Namun ia mencoba tetap kuat. Lain hal nya dengan Sherly yang tersenyum puas.
Setelah kejadian itu, akhirnya Berli memutuskan untuk membawa kembali kardus itu ke ruangan Sherly. Entah kemana perginya Aditya saat itu, sampai akhirnya Berli membawanya seorang diri
Matahari mulai tenggelam, namun Berli masih tetap bergelut dengan kain kain nya. Meskipun gaji nya hari ini akan di potong, namun ia tetap semangat. Karena menurutnya, ini adalah tanggung jawab yang harus ia kerjakan
"Ani kamu masih disini?". Tanya Laura yang kini sudah datang untuk menjalani shift malam nya
"Lauraa... Aaahh kangen banget". Ucap Berli sambil berhambur ke pelukan Laura
"Tapi ini sudah malam, bahkan aku sudah datang untuk mengganti shift pagi. Kenapa kamu belum pulang juga?". Tanya Laura yang mengkhawatirkan keadaan Berli
"Aku lembur Laa, sebentar lagi beres kok". Jawab Berli
"Tidak, tidak. Cepat pulang sekarang, di luar sudah mulai akan turun hujan". Ucap Laura khawatir
"Tapi Laa ini belum beres". Ucap Berli menjelaskan
"Pasti ini ulah Sherly kan?. Keterlaluan". Ucap Laura kesal
"Bukan bukan, ini memang salahku, sudahlah".Ucap Berli menenangkan
__ADS_1
"Aku akan memberi dia pelajaran nanti". Ucap Laura kesal