DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 223 - Apakah Dia?


__ADS_3

Toktoktok,,


seseorang di ambang pintu tengah menunggu tuan rumah membukakan pintu untuknya.


"Lathesia..?". Ucap Berli yang saat itu juga membukakan pintu untuknya.


"Berli.. ". Lathesia berhambur ke pelukan Berli, seolah tak bertemu bertahun lamanya.


"Aku rindu sekalii....". Ucap Lathesia bahagia. Berli pun membalas pelukan nya dengan tulus


"Aku juga..". Balas Berli.


"Oh iya, apa kedatanganku mengganggumu?. Tapi ini kejutan.. ". Ucap Lathesia mengerucutkan bibir manisnya.


"Tidak, tidak sama sekali. Aku memang sedang merapikan rumah, tapi hanya sedikit saja. Daripada hanya melamun kan.. ".Balas Berli tersenyum, ia juga senang dengan kedatangan Lathesia meskipun ia datang tiba-tiba.


"Ya sudah, ayo masuk.. ". Berli menyambut kedatangan Lathesia. Ia mempersilahkan Lathesia untuk masuk.


"Kau mau minum apa?, kopi?, teh?. Akan aku buatkan". Tanya Berli.


"Tidak usah, tidak perlu repot-repot. Lagipula, lihat.. Apa yang ku bawa, aku membelikanmu minuman boba. Ini enak sekali, kau harus mencobanya". Ucap Lathesia sambil memberikan kantung plastik berisi dua buah minuman boba yang menjadi favorit Lathesia. Memang saat di perjalanan tadi, ia berniat untuk membelikan Berli minuman itu.


"Lathesia, tidak usah repot-repot.. ". Balas Berli merasa tidak enak.


"Tidak Berli, sahabatku.. Aku tidak repot. Pokoknya kau harus mencoba ini, kau pasti akan ketagihan". Ucap Lathesia sambil menyodorkan minuman itu.


"Terimakasih, kau baik sekali.. ". Balas Berli menerima pemberian Lathesia. Jelas enak, karena itu minuman mahal yang bahkan belum pernah Berli beli.


"Oh iya, Berli.. Sebenarnya aku datang kesini untuk menceritakan masalahku. Maaf jika kau merasa tidak nyaman dengan masalahku, hanya saja entah mengapa aku merasa percaya jika menceritakan masalahku kepadamu. Kau seperti partner baik dalam mendengarkan dan memberi saran". Ucap Lathesia.


"Apa yang kau katakan? Mengapa aku merasa tidak nyaman dan terganggu?. Kita sahabat bukan?. Ceritakan saja, tidak perlu segan". Balas Berli lembut.

__ADS_1


"Berli, bagaimana menurutmu jika aku terus berharap pada kemungkinan yang tidak pasti?. Berulang kali aku berusaha, dan berulang kali ia berkata bahwa ia sudah mendapatkan penggantiku. Kau tahu, aku hanya ingin kembali bersamanya, masalalu ku. Andai saja dulu aku tak sebodoh itu, mungkin saat ini aku menjadi istrinya, dan mungkin aku sudah mempunyai keturunan bersamanya". Ucap Lathesia penuh penyesalan. Berli sama sekali tidak tahu bahwa yang Lathesia maksud adalah Felix.


"Memangnya apa kesalahanmu di masalalu sehingga kau bisa semenyesal ini?". Balas Berli risau. Ia turut bersedih dan terharu.


Lathesia menceritakan semuanya, di mulai dari pertemuan nya dengan Felix, dan sampai akhirnya di hancurkan oleh Jeff. Pertunangan itu, dan semua yang pernah ia alami, ia ceritakan pada Berli. Sambil di dominasi isak tangis, cerita itu terus berlanjut.


Berli terkejut saat mendengar cerita Lathesia. Ternyata Lathesia sudah sejauh itu mengenal dunia yang ketir. Berli benar-benar merasa iba kepada pria yang telah Lathesia patahkan hatinya, menurut Berli, pria itu adalah pria yang sangat baik. Padahal, kisah yang sedang Lathesia ceritakan adalah kisah masalalu kekasih nya. Entah mengapa Lathesia tidak menyebutkan siapa nama dari pria yang ia ceritakan. Baik Felix maupun Jeff, ia hanya menyebutkan inisal saja.


"Lathesia, aku tahu kau ingin kembali bersamanya. Tapi, mungkin saat ini ia tidak bisa lagi bersamamu. Aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya, tetapi inilah kenyataannya. Kau harus membuka hati untuk pria lain selain dia. Aku yakin, masih ada pria lain yang lebih baik daripada dia. Kau baik dan kau sudah berusaha untuk berubah, menurutku itu sudah menjadi nilai tambah dalam dirimu. Aku takut kau hanya akan sakit karena berharap pada pria yang tidak tepat.. ". Balas Berli penuh iba, sambil mengusap lembut pundak Lathesia. Lathesia berusaha menyeka air matanya yang tiba tiba menetes.


"Aku tahu, ia tidak akan pernah kembali. Tapi rasanya aku selalu ingin menggapainya kembali. Dan aku ingin sekali bertemu wanita itu, wanita yang berhasil mendapatkan nya adalah wanita yang beruntung, dan aku benci itu". Ucap Lathesia yang masih berpegang kukuh pada kebencian nya.


"Lathesia, kau tidak boleh berpikiran buruk seperti itu. Membenci seseorang itu sama saja seperti menggenggam tangkai bunga mawar berduri. Semakin kau membencinya, semakin akan membuat hatimu sakit dan tidak tenang. Dengarkan aku.. Yang menurutmu baik, belum tentu baik untukmu. Dan yang menurutmu buruk, belum tentu buruk untukmu. Kita tidak pernah tahu apa rencana tuhan. Maka dari itu, kita manusia hanya bisa berusaha dan memperbaiki diri. Jika kita sudah berusaha menjadi lebih baik, niscaya kita akan di pertemukan dengan pasangan yang baik juga. Maka, cintai dahulu penciptanya, sebelum mencintai ciptaan nya. Setelah itu, kau akan di beri yang lebih baik". Balas Berli lembut menenangkan. Membuat Lathesia bungkam seribu bahasa.


"Berli, aku sangat menyayangimu.. ". Lathesia menangis, ia berhambur ke pelukan Berli. Ia begitu terharu mendengar jawaban Berli yang lembut dan tidak menyinggung perasaan nya, meskipun apa yang terjadi adalah murni kesalahan nya.


"Aku juga menyayangimu. Sudah, jangan menangis ya.. ". Berli membalas pelukan Lathesia.


"Kau ini. Ya sudah, jangan menangis.. Nanti cantikmu hilang". Balas Berli menyeka air mata Lathesia di pipi nya.


"Terimakasih..". Balas Lathesia tersenyum lebar. Ia begitu tenang mendengar ucapan Berli.


"Oh iya, apa kau ingin belajar memasak denganku? Bagaimana jika sekarang kita memasak?". Ucap Berli berusaha menghibur Lathesia dengan kegiatan positif.


"Iya, aku ingin sekali.. Ayo.. ". Lathesia beranjak dengan semangat menuju ke dapur. Ia kini sudah mulai terhibur.


Kedua wanita cantik itu kini sedang sibuk di dapur, memasak apa saja yang tersedia. Di mulai dari sayuran, sampai cemilan seperti pancake, dan lainnya. Lathesia sangat senang saat melihat Berli begitu telaten saat memberitahu cara memasak padanya.


"Jika suatu saat nanti kau menikah, suamimu pasti akan senang mendapat istri sepertimu. Kau baik, cantik, juga pintar memasak.. ". Puji Lathesia.


"Ishh kau ini, jangan berlebihan seperti itu.. ". Ucap Berli terkekeh.

__ADS_1


Kringgg,, ponsel Berli berbunyi.


"Wahh.. wahh, memang jodoh tidak akan kemana. Baru saja di bicarakan sudah menelpon". Ucap Lathesia terkekeh.


"Ish kau ini. Ya sudah, aku angkat dulu telepon nya. Kau lanjutkan ya.. Sepertiku tadi, jangan sampai gosong.. Oke?". Ucap Berli terkekeh saat membiarkan Lathesia membuat pancake sendiri. Entah bagaimana nanti jadinya.


"Assalamualaikum.. ". Berli mengangkat telepon tak jauh dari dapur tempat Lathesia berdiri.


"Waalaikumsalam. Sayang, kau sedang apa?". Tanya Felix lembut di seberang telepon.


"Temanku datang, teman yang mengundang kita makan malam itu tempo hari. Nah, hari ini tiba tiba saja dia datang ke rumah. Karena sedang santai, aku mengajari dia masak". Balas Berli tersenyum


"Begitu ya.. ". Balas Felix di sebrang telepon


"Iya sayang.. ". Balas Berli kembali


"Petang nanti aku akan datang. Aku juga ingin ikut makan". Ucap Felix terkekeh menggoda Berli.


"Kau ini.. Kau masih sakit, kau harus beristirahat sayang..". Ucap Berli


"Tidak, aku merindukan kekasihku". Felix tersenyum di sebrang telepon.


"Berli.. Pancake nya gosong, aku tidak bisa membaliknya..". Teriak Lathesia yang tanpa sengaja terdengar oleh Felix di sebrang telepon.


"Iyaa, sebentar Lathesia.. ". Balas Berli yang kembali membuat Felix membelalak.


"Sayang, aku akan menelponmu nanti ya. Sepertinya ada sedikit masalah. Kau tidak keberatan kan?". Ucap Berli hendak berpamitan


"Iya, tidak apa". Balas Felix yang kini pikiran nya mulai kalut. Ia menutup telepon dengan pikiran yang bimbang.


Telepon terputus, dan pikiran Felix mulai berputar.

__ADS_1


"Lathesia?. Apa Lathesia yang Berli maksud adalah dia..". Gumam Felix tak percaya. Ia mengacak kasar wajahnya tanda bingung.


__ADS_2