
"Berli?. Kau basah kuyup". Ucap seorang security di luar.
"Iya, hujan nya sangat deras. Aku tidak membawa jaket ataupun payung. Aku pikir tidak akan turun hujan".
"Tunggu, aku akan bawakan baju cadangan"
Berli mengelak. "Tidak, tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu, lagipula sebentar lagi bajuku akan kering. Udara panas di mesin, akan mengeringkan nya"
"Berli, tapi kau akan sakit jika seperti itu".
Berli menggeleng. "Tidak, aku akan baik-baik saja. Percayalah".
"Baik, masuklah. Kau sudah terlambat"
Berli tersenyum. Ia melenggang untuk masuk dengan tergesa-gesa.
Sementara sejak tadi Felix memperhatikan percakapan itu. Ada rasa bersalah terbesit di hatinya. Ia juga khawatir dengan keadaan Berli. Namun ia berusaha mengacuhkan nya.
"Tidak, aku tidak harus mempedulikan nya. Kekasih baru nya akan melindunginya". Gumam Felix.
......................
'Aku mengerti mengapa Felix mengacuhkanku. Ia pasti sangat kecewa padaku. Felix, maafkan aku'. Batin Berli. Kini ia tengah mengoperasikan mesin nya.
"Berli? Kau baik-baik saja. Apa kau sakit?". Tanya Vio yang ada di samping nya.
Seketika Berli tersadar, bahwa ia melamun. "Tidak, aku baik-baik saja. Jangan khawatir".
......................
Sementara Felix berusaha menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Ia menyibukkan diri agar melupakan sejenak tentang Berli.
__ADS_1
"Tidak Felix. Kau memang harus mengabaikan nya. Dia sakit, ataupun tidak itu bukan urusanmu".
Felix masih berbelit dengan rasa bersalah nya. Namun ia tetap bergelut dengan isi kepala nya.
......................
"Lathesia. Tadi mama tidak sengaja bertemu dengan Berli. Ia menitipkan salam untukmu". Ucap Bu Yuni.
"Oh ya? Tapi aku sama sekali tak membutuhkan itu". Balas Lathesia ketus.
Bu Yuni mulai geram dengan sikap putrinya. "Lathesia, mulai saat ini kau harus bisa menjaga sikapmu. Ia selalu peduli padamu. Kau tidak seharusnya membencinya!"
Lathesia beranjak dari tempat duduknya. "Peduli?. Jika dia peduli, mengapa ia tak memutus hubungan nya dengan Felix, sebelum aku sendiri yang menghancurkan nya?"
"Lathesia!. Berli sama sekali tak tahu tentang apa yang terjadi padamu dan Felix di masalalu. Berhentilah menyalahkan nya!".
"Lalu siapa yang salah?. Aku? Mama ingin menyalahkanku?. Ya. Sepertinya sekarang mama akan selalu membelanya. Aku benci semua ini!". Lathesia melenggang dengan ucapan nada tinggi nya itu.
Ia meneteskan air matanya untuk Berli. Ia merasakan bagaimana rasanya menjadi Berli.
......................
Hari mulai siang, dan matahari mulai naik. Sejak tadi Berli mengedarkan pandangan nya, berharap Felix lewat untuk pergi makan siang di kantin. Namun Felix sama sekali tak terlihat keluar.
"Apakah Felix tidak akan makan siang?. Bagaimana bisa?. Ia pasti sudah lapar. Aku harus membawakan nya makan siang. Ya, dan semoga jika seperti ini suasan akan semakin membaik. Aku juga akan meminta maaf padanya". Berli tersenyum, ia sudah menemukan ide untuk mencairkan suasana.
Ia melenggang ke kantin untuk membeli beberapa makan siang untuk Felix. Tak peduli, ia belum makan sekalipun. Saat ini ia hanya ingin memperbaiki hubungan nya.
Dengan semangat, Berli memesan menu makan siang yang Felix suka. Ia juga membawakan segelas jus yang juga kesukaan Felix. Semoga kali ini, usaha nya berhasil.
"Semoga, dengan ini suasana akan mencair. Dan Felix akan mendengarkanku lagi". Berli melenggang, membawa nampan berisi makan siang itu ke ruangan Felix.
__ADS_1
Dan benar, Felix sama sekali tak keluar untuk makan siang. Ia sibuk dengan pekerjaan nya. Nafsu makanpun rasanya tak ada dalam mulutnya.
Toktotkok,, seseorang mengetuk pintu ruangan Felix. Spontan Felix mempersilahkan nya masuk. "Ya, masuk saja Aditya". Ucap Felix.
Karena memang, biasa nya Aditya yang datang ke ruangan nya.
"Felix". Berli tersenyum
Seketika Felix menoleh, dan terbelalak. "Kau?".
"Felix, aku tahu kau tak sempat makan siang. Jadi, aku membawanya kemari. Aku letakkan disini ya". Ucap Berli lembut. Ia meletakkan tanpan berisi makanan itu di meja Felix.
Felix memalingkan wajah nya, berusaha agar tak terbawa suasana. "Aku tidak pernah memintanya".
Berli membalasnya dengan lembut. "Aku tahu, tetapi aku ingin membawakan nya untukmu. Ayo, makanlah sedikit saja. Kau bisa sakit jika terus-terusan menunda makan".
"Aku tidak membutuhkan nya". Lagi-lagi ucapan itu terucap. Ada sedikit rasa sakit di hati Berli. Sebelumnya, Felix tak pernah menolak apapun dari Berli. Kali ini, Berli seperti sedang berbicara dengan orang asing.
"Sayang, tapi makanlah sedikit saja, aku mohon.. Lihatlah, aku membawakan makanan kesukaanmu. Kita biasa memakan nya bersama di kantin".
Felix mengacuhkan nya. Ia langsung menekan nomor telepon kantor, entah siapa yang hendak ia hubungi. Sikap Felix membuat Berli bertanya tanya. "siapa yang ingin ia hubungi, sementara Berli sedang bicara di depan nya"
"Penjaga? datanglah kemari. Kau belum makan siang kan?. Seseorang membawakan nya untukmu"
Berli mengernyit, hatinya berdesir hebat. Kenapa Felix malah memberikan makanan nya kepada orang lain.
Berli hampir menangis di depan Felix. "Sayang, aku membawanya untukmu. Kenapa kau memberikan nya kepada orang lain?"
"Aku tidak suka menerima pemberian dari orang asing".
Degg, air mata itu kini lolos. Seketika Berli langsung menghapus nya. Rasanya perih sekali mendengar ucapan itu keluar dari mulut Felix. Ia menatap Felix, lalu berlari keluar dari ruangan itu. Ia sudah tak tahan lagi menahan tangis itu.
__ADS_1