
"Hari libur nanti, aku akan mengajakmu ke suatu tempat". Ucap Felix saat mengendarai motor miliknya, yang tentu di belakang nya di temani oleh Berli.
"Kemana?". Ucap Berli penasaran.
"Ke suatu tempat. Aku harap kau tidak akan terkejut". Ucap Felix terkekeh.
"Cepat beritahu sekarang... Aku penasaran". Ucap Berli tak sabar.
"Sabar sayang, akhir pekan kau akan mengetahuinya". Ucap Felix.
"Ah Felix, tidak seruu.. ". Ucap Berli mengerucutkan bibirnya.
Felix hanya terkekeh melihat ekspresi Berli. Ia menarik tangan Berli, yang kemudian ia lingkarkan ke perutnya.
"Daripada marah, lebih baik memelukku.. Atau kau bisa jatuh nanti". Ucap Felix terkekeh.
"Kau ini.. ". Pipi Berli merona seketika. Ia tersipu malu.
......................
__ADS_1
Tokttoktok,,
Seorang wanita berdiam di ambang pintu, berharap pintu itu terbuka untuknya.
"Nona Lathesia, silahkan masuk.. ". Sambut Bi Esin, saat membukakan pintu.
"Terimakasih bi. Felix ada di rumah?". Tanya Lathesia sembari mengedarkan pandangan nya. sejauh mata memandang, ia tak melihat keberadaan Felix.
"Tuan Felix sudah pergi sejak tadi nona. Mungkin hendak menjemput nona Berli". Balas Bi Esin enteng.
Deggg. Ucapan itu membuat Lathesia tertegung keras.
"Nona Berli itu calon istri tuan Felix. Sebentar lagi mereka akan segera menikah". Ucap Bi Esin. Ia benar-benar lupa bahwa Lathesia adalah pejuang cinta Felix.
Lathesia mengepal erat tangan nya. Ia mulai kesal. Namun, ia akan tetap mencari tahu dari sudut pandang Bu Inez.
"Nona maafkan saya, ayo masuk.. Maaf sudah membuat nona menunggu lama di luar". Ucap Bi Esin yang baru sadar bahwa tamu nya belum di persilahkan masuk.
"Baik. Panggilkan tante inez". Ucap Lathesia. Nada bicara nya langsung berubah.
__ADS_1
"Baik nona". Bi Esin melenggang, hendak memanggil tuan rumah.
Beberapa menit kemudian, Bu Inez datang dan menyambut Lathesia seolah tak terjadi apapun.
"Lathesia, kapan kau datang sayang?". Ucap Bu Inez. Ia bercipika-cipiki dengan Lathesia. Lathesia juga membalas nya
"Aku baru saja datang. Tante Inez, aku tidak ingin basa-basi. Katakan padaku, apakah tante menyetujui hubungan Felix dengan Berli?". Ucap Lathesia penuh penekanan. Membuat Bu Inez terkejut.
"Sayang, siapa.. Yang mengatakan itu?". Bu Inez terbata. Ia belum mempunyai rencana apapun untuk menyembunyikan ini dari Lathesia. Tetapi kenyataan nya Lathesia sudah terlanjur tahu.
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tadi malam, Berli datang kesini kan?. Mereka begitu mesra. Apa-apaan ini?. Bukankah tante Inez ingin aku kembali bersama Felix?". Protes Lathesia
"Sayang, tenang dulu. Tante juga sebenarnya tidak setuju. Maka dari itu tante berniat untuk memisahkan mereka. Lathesia, tante tahu ini perlu proses. Maka dari itu, tante harap kau bersabar, dan mengikuti apa yang tante katakan". Ucap Bu Inez. Ia baru sadar, ternyata Lathesia bisa menjadi partner dalam rencana ini.
Lathesia menghela nafas dalam "Baiklah. Aku akan mengikuti yang tante katakan. Tapi aku tidak mau semua ini hanya sia-sia. Apalagi berakhir mengecewakan". Ucap Lathesia dengan nada angkuh.
"Tenang Lathesia.. Kita selesaikan semua ini bersama-sama. Kita akan membuat mereka berpisah dan tidak ada yang tersisa. Berli bukan kriteria menantu idaman keluarga ini. Jangankan menjadi menantu idaman, dia bahkan tidak pantas untuk putraku". Ucap Bu Inez.
Tentu pernyataan nya membuat Lathesia sedikit lega. Karena, Bu Inez berada di pihak nya.
__ADS_1