DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 153 - Awal Mula


__ADS_3

"Apa ini kantor Felix? Aku ingin sekali menemuinya". Ucap Lathesia yang kini berada di koridor menuju ruangan Felix. Sejak dulu Lathesia memang sudah mengetahui tentang seluk beluk pabrik ini. Sehingga ia bisa dengan mudah datang. Namun ia lupa dengan kantor yang pernah David tunjukan padanya


Brugg,, tiba tiba Lathesia menabrak tubuh pria kokoh yang entah darimana datang nya


"Maaf.. Maafkan aku.. ". Ucap Pria itu sambil meraih barang bawaan Lathesia yang berjatuhan


"Tidak.. Tidak apa apa.. ". Ucap Lathesia membereskan barang bawaan nya.


"Perkenalkan.. Namaku David...". Ucap David mengulurkan tangan dan di balas oleh Lathesia


"Namaku Lathesia..". Jawab Lathesia ramah


"Ohh ya. Ngomong ngomong, seperti nona sedang kebingungan. Ada yang bisa saya bantu?". Tanya David ramah


"Ah Iya. Aku sedang mencari ruangan kantor tuan Fel.. ". Ucap Lathesia yang langsung terhambat oleh kedatangan seorang klien


"Pak David.. Kebetulan kita bertemu disini". Ucap klien itu


"Ah iya. Aku hampir lupa. Silahkan, datanglah ke ruanganku Pak. Dan nona, maafkan aku.. Mungkin lain kali kita berbincang lagi. Aku ada pekerjaan mendesak". Ucap David berpamitan tanpa mendengar lengkap perkataan Lathesia

__ADS_1


"Ah baiklah. Senang bertemu denganmu. Sampai nanti.. ". Jawab Lathesia


David berlalu pergi dengan klien itu. Sementara Lathesia tinggal seorang diri. Tak lama berselang, pria yang begitu ia rindukan kini tertangkap retina nya.


"Felix.. ". Ucap Lathesia sambil menghampiri Felix. Sementara dari jarak yang lumayan jauh, Felix memyambut Lathesia dengan sorot mata tak suka.


"Ada apa kau datang kemari?". Tanya Felix dingin


"Aku membawakan ini untukmu. Ini makanan kesukaanmu". Lathesia begitu bersemangat sambil memberikan sebuah kotak makanan pada Felix


"Aku sudah makan. Kau saja yang makan". Ucap Felix


"Permohonan maaf tidak perlu di ucapkan dengan makanan apapun". Ucap Felix dingin


"Tapi Felix.. Aku.. Apa masih ada kesempatan untukku untuk memperbaiki semuanya?". Ucap Lathesia segan


"Semua sudah selesai. Aku akan segera menikah dengan gadis yang ku cintai. Aku harap kau mengerti". Ucap Felix berlalu pergi meninggalkan Lathesia


"Jadi Felix sudah mempunyai pengganti.. Seharusnya aku tidak melakukan hal bodoh ini". Gumam Lathesia yang matanya berkaca kaca

__ADS_1


......................


"Bagus. Kau sudah mengatakan semuanya dengan detail. Aku akan menyimpan bukti rekaman ini sampai waktunya tiba. Hitung saja sisa hari hari bahagiamu nyonya Inez". Ucap Pria bertudung itu penuh kepuasan. Kini semua kejahatan Bu Inez sudah terekam di dalam benda itu


"Apa kalian puas? Lalu apalagi? Aku memang tidak salah sudah melalukan semua itu. Ternyata kau dan ibumu sama sama picik!". Ucap Bu Inez penuh kebencian


Tiba tiba sergapan di dagu Bu Inez begitu terasa. Tangan itu menyentuh dagu dan membungkam bibirnya dengan begitu kasar, sehingga meninggalkan luka cakar disana.


"Berhenti menghina ibuku!. Bahkan saat ibuku sudah tiada kau masih berani menghinanya?. Sekarang anak yang begitu kau benci sudah bisa menghancurkan mu. Aku peringatkan kepadamu sekali lagi!. Aku dan kakak ku tidak akan segan segan untuk menghabisimu kapan saja. Jangan sampai kami mendengar ucapan sampahmu itu!. Pergilah.. Sebelum kami benar benar menghabisimu!". Ucap seorang pria bertudung itu


"Kalian tidak akan bisa menghancurkanku dengan mudah. Tidak akan!". Ucap Bu Inez yang kini hampir melenggang pergi dari tempat itu. Dengan langkah yang terpogoh pogoh karena lemas, Bu Inez segera menjauh dari tempat menyeramkan itu. Ia benar benar kebingungan saat mobilnya entah berada dimana. Sedangkan ia begitu asing dengan tempat itu. Ia tidak tahu arah jalan pulang


"Kemana aku harus pergi? Dimana mobilku.. ". Bu Inez benar benar merasa hancur. Rahasia yang begitu ia simpan rapat kini sudah terduplikasi oleh benda itu.


"Bagus. Kita sudah mempunyai bukti ini. Ini akan menjadi senjata kita di akhir peperangan". Ucap sang kakak dengan nada puasnya


"Akhirnya hari ini datang juga". Jawab sang adik


Sementara di luar sana, di balik rimbun nya pepohonan, Bu Inez masih berjalan menapaki jalan setapak untuk pulang. Meskipun ia tak tahu kemana arah angin membawanya pergi.

__ADS_1


__ADS_2