
"Dan inilah akhirnya. Aku harus berhenti berjuang. Perjuanganku sudah sampai di ujung landasan. Berli mencintai orang lain". Ucap David sambil melepas cincin yang ia kenakan. Jelas cincin itu berpasangan dengan cincin yang di berikan pada Berli tempo hari saat David melamarnya.
"Aku harus melepasnya. Aku harus mengiklaskan nya. Demi kebahagiaan nya, aku rela melakukan apapun meskipun itu menyakitkan bagiku". David kembali meratapi sakit hatinya di ruangan itu. Setetes air mata menitik di ujung matanya. Seketika ia langsung menghapus nya
......................
"Ma? Tadi mama pergi kemana?". Tanya Romi yang berada di balkon rumahnya. Ia melihat ibunya tengah berdiri seorang diri di gelapnya malam ini
"Nak, kau sudah pulang?". Bu Inez menoleh ke arah Romi seolah tak terjadi apapun
"Iya ma. Mama darimana tadi? Kenapa mama membiarkan mobil tergeletak begitu saja di jalanan?". Tanya Romi yang membuat Bu Inez membelalak
"Apa? Di jalanan?". Bu Inez terkejut bukan main mendengar pertanyaan putranya
"Ada apa? Kenapa mama begitu terkejut? Bukankah mama yang membawa mobil itu?". Ucap Romi penuh selidik
"Ah.. I.. Iya sayang. Tadi mobil mama mogok, dan mama meminta montir untuk memperbaikinya". Ucap Bu Inez mencari alasan dengan nada gugup nya. Meskipun ia tak tahu dimana mobilnya berada
__ADS_1
"Montir? Tetapi mobil mama berada di jalan Ambara, jalan arah rumah Neel. Dan bukan di bengkel". Ucap Romi yang merasa heran dengan kelakuan Ibunya yang semakin gugup
"Ah.. Mungkin kau salah lihat sayang. Sudahlah, mama baik baik saja. Dan besok mama akan membawa kembali mobilnya". Ucap Bu Inez tersenyum dan berlalu pergi. Ia tak ingin anaknya menanyakan hal lainnya.
"Aneh sekali.. ". Gumam Romi sambil menatap punggung ibunya yang berlalu
......................
"Jadi, apakah wanitaku besok akan pergi bekerja?". Ucap Felix tertawa menggoda Berli saat hendak berpamitan untuk pulang.
"Aaww.. Haha.. Baiklah. Kau akan bekerja besok? Jika belum merasa baikan, istirahatlah lagi". Ucap Felix yang kini berada di atas motornya.
"Kita lihat saja besok, jika aku merasa sudah lebih baik aku akan bekerja". Jawab Berli tersenyum
"Baiklah. Kabari aku. Aku akan menjemputmu jika besok kau akan berangkat. Sekarang aku pulang, kau beristirahatlah". Ucap Felix sambil tersenyum manis mengusap kepala Berli
"Baiklah.. Hati hati. Kabari aku jika sudah sampai". Ucap Berli malu malu
__ADS_1
"Baiklah. Jangan rindukan aku". Ucap Felix mengerlingkan sebelah matanya sambil membalikan stang motornya menuju pulang
"Haha.. Dahhh Felix.. ". Ucap Berli melambaikan tangan
Felix tersenyum dan langsung bergegas untuk pulang karena hari sudah mulai malam.
"Aku benar benar tidak percaya. Sekarang Felix sudah menjadi kekasihku. Semoga hubungan kami selalu terjaga". Gumam Berli tersenyum keindahan
......................
"Nak, kau masih mengharapkan nya?". Tanya Bu Yuni yang merasa iba melihat putrinya kembali murung
"Entahlah. Aku merasa masih ada kesempatan untukku, tetapi ternyata kenyaatannya tidak. Felix akan menikah dengan gadis lain. Ya, tentu gadis. Dan bukan wanita sepertiku". Jawab Lathesia penuh putus asa tanpa menoleh ke arah ibunya
"Mungkin tidak ada harapan untukmu. Tetapi bukan artinya kau harus mengina dirimu seperti itu sayang. Kau berharga. Kau pantas di cintai". Ucap Bu Yuni yang air matanya menetes begitu saja. Lathesia yang menyadarinya, seketika langsung menghapus air matanya ibunya
"Tidak tidak. Jangan menangisku ma, maafkan aku sudah membuatmu bersedih. Sekarang jangan menangis". Ucap Lathesia seraya memeluk ibunya. Meskipun rasa sakit dan harapan itu masih terasa di hatinya
__ADS_1