
"Berli?. Untuk apa ia mengundangku kesana?"
David baru sempat membuka pesan itu saat Berli sudah pulang. Pesan itu berisi.
'Pak David, temui aku di hotel permadani malam ini, pukul tujuh tiga puluh. Aku ingin memberimu sedikit ucapan terimakasih. Setelah kau tiba disana, tanyakan saja posisiku kepada resepsionis. Sampai bertemu nanti, aku menunggu mu'.
David mengernyit. "Kenapa mendadak sekali?. Saat tadi bertemu, ia bahkan tidak mengatakan apapun. Aneh".
David melenggang. Ia hendak pulang, karena Aditya sudah pulang sejak tadi.
......................
"Satu langkah lagi, maka rencana kita akan selesai". Ucap Bu Inez menyeringai. Tentu saja ia bersama Lathesia.
"Aku jadi gugup, bagaimana jadinya nanti. Felix pasti akan sangat kecewa". Ucap Lathesia, puas.
"Tidak apa, ini tidak akan berlangsung lama. Lebih baik melihat anakku kecewa, daripada harus melihat anakku menikah dengan wanita itu".
"Kita lihat, akhir cerita cintamu Berli". Lathesia menyeringai.
......................
Setelah beberapa saat berbincang, kini Gulcin berterus terang tentang perasaan nya.
__ADS_1
"Tanrı bana bir şans verirse, sadece seninle olmak istiyorum". (Jika Tuhan memberiku kesempatan, aku hanya ingin kembali bersamamu). Ucap Gulcin lirih.
Felix menghela nafas panjang. "özür dilerim Gulcin, yakında sevdiğim kızla evleneceğim" (maafkan aku Gulcin, aku akan segera menikahi gadis yang kucintai)
"O kim? O ne kadar güzel? Yani benimle geri gelmek istemiyorsun". (Siapa dia?. Seberapa cantik dia?. Sehingga kau tidak ingin kembali bersamaku).
Felix mengarahkan pandangan nya, lekat menatap mata Gulcin.
"Mükemmelliğe ihtiyacım yok. Sadece rahatlığa ve derin sadakate ihtiyacım var". (Aku tidak butuh kesempurnaan. Aku hanya butuh kenyamanan dan kesetiaan yang dalam).
Degg, Gulcin berdebar. Ucapan Felix membuat nya seperti tersambar petir. Pasalnya, Gulcin meninggalkan Felix karena kehadiran orang ketiga.
Felix pergi, meninggalkan Gulcin sendiri disana.
Felix berjalan ke arah Ozcan. "Ayo, aku tidak ingin berlama-lama disini". Rasanya ia ingin cepat cepat kembali. Ia tak suka jika ada seseorang yang mempertanyakan kesempurnaan orang lain, sedangkan dirinya sendiri pun belum tentu sempurna.
"Baiklah". Ozcan berjalan di belakang Felix.
......................
"Benarkah aku harus datang ke acara ini?. Hmm.. Rasanya aku tidak mood untuk bepergian". Gumam Berli. Ia tengah memilih pakaian yang akan ia kenakan.
Ia meraih ponsel nya. Kembali ia melihat gambar kiriman Felix yang belum sempat ia buka.
__ADS_1
"Andaikan kau disini, kau pasti akan mengajakku pergi bersama".
......................
"Ozcan, aku rasa aku harus berhenti disini". Ucap Felix. Ia menghentikan mobil Ozcan tak jauh dari pantai itu.
"Tapi, kau mau kemana?". Ozcan bingung.
"Aku lupa membeli buah tangan untuk Berli. Aku akan membeli nya sekarang".
"Kalau begitu aku ikut". Ozcan bergegas turun. Ia juga ingin membeli beberapa barang.
Mereka berdua melenggang, ke sebuah toko oleh-oleh yang paling ramai di minati banyak orang.
......................
"Tidak apa-apa Rom. Aku baik-baik saja. Lagipula badai sudah berlalu. Aku sudah merasa sangat lega". Ucap Prianka. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah nya. Ia merasa tidak enak jika harus tinggal di rumah Bu Inez.
"Benarkah?. Aku mohon, jangan memaksakan diri".
"Tidak sama sekali Rom, aku melakukan ini karena aku sudah merasa aman. Lagipula kau bisa sering-sering mengunjungiku dengan tenang kan sekarang?. Aku juga tidak ingin membiarkan rumah peninggalan ayahku tak terawat, dan kosong".
Romi mengangguk. Ia setuju, dengan permintaan Prianka.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantarmu"