DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 217 - Sahabat Terbaik


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan Berli?". Tanya Ozcan memecah keheningan di ruangan itu. Ozcan kini tengah duduk di sofa kamar Felix. Sedangkan Felix hanya menatap nanar ke arah luar jendela di sampingnya.


"Bagaimana menurutmu?. Apa ini waktu yang tepat untuk membawanya ke hadapan Ibuku?". Jawab Felix kembali memberi pertanyaan.


"Itu lebih baik. Ku lihat, hubungan kalian sudah terlalu banyak mengalami ancaman perpisahan. Kau mungkin sudah terbebas dari Jovanka, tetapi lihatlah.. di bawah sana Lathesia begitu mengharapkanmu". Balas Ozcan memberi tanggapan.


"Kau benar. Aku tidak boleh menunggu lebih lama lagi. Setelah ini, aku akan membawanya kemari". Balas Felix yang langsung memutuskan. Ia tidak ingin menunda lagi, karena Lathesia sudah mulai menjadi ancaman untuknya.


"Aku mendukungmu.. ". Ucap Ozcan tersenyum.


"Ngomong-ngomong, dimana Romi?". Tanya Ozcan mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Sudah lama ia tak bertemu dengan Romi.


"Aku bahkan belum bertemu dengannya sejak kecelakaan itu. Aku yakin ia sedang dalam masalah". Entah mengapa Felix langsung bergegas pergi ke kamar Romi yang hanya tinggal beberapa langkah dari kamarnya. Naluri nya sebagai seorang kakak begitu tajam. Ia merasa Romi mungkin sedang dalam masalah dan memendam nya seorang diri.


"Felix, aku ikut.. ". Ucap Ozcan yang ikut melenggang mengikuti Felix.


Felix mengetuk pintu kamar Romi yang tertutup


"Romi.. Kau di dalam?". Ucap Felix.


Romi terkejut mendengar suara itu. Suara pria yang selalu ada untuknya. Kini mungkin datang untuk memeluknya. Namun ia bukanlah pria yang rapuh, ia pria yang kuat. Ia berusaha menghapus kesedihan di raut wajahnya. Ia tersenyum dan bersiap membuka pintu.


"Kakak?. Iya, aku di dalam. Sebentar..". Jawab Romi yang segera bergegas membuka pintu.


"Kakak? Kau baik-baik saja?". Tanya Romi sambil memeluk Felix. Sangat di sayangkan, ia tidak bisa menemani Felix saat sedang dalam masa sulit kemarin.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja". Felix membalas pelukan Romi yang sekilas itu.


"Masuklah...". Ucap Romi mempersilahkan masuk.


"Apa aku tidak di persilahkan masuk juga?". Tanya Ozcan yang baru saja di sadari keberadaannya oleh Romi.


"Kak Ozcan.. ". Romi tersenyum dan memeluk sekilas pada Ozcan, persis yang ia lakukan pada Felix.


"Iya, Romi". Ozcan membalas pelukan nya.


"Masuklah kak". Ucap Romi tersenyum


Felix yang sudah berada di dalam kamar Romi, kini bingung dengan potongan abu yang bertebaran di kamar Romi. Bagaimana bisa, abu sisa pembakaran kertas begitu mengotori lantai kamar sang adik.


"Romi, abu apa ini?". Tanya Felix bingung.


"Kau yakin?". Tanya Felix penuh selidik. Ia ragu dengan jawaban yang Romi berikan.


"Tentu saja kak. Oh iya, bagaimana keadaanmu?. Sudah lebih baik?. Maaf aku tidak ada bersamamu kak". Ucap Romi yang malah mengalihkan pembicaraan.


"Aku baik-baik saja. Lagipula hanya luka kecil. Aku justru lebih mengkhawatirkanmu". Balas Felix


"Mengapa khawatir? Aku baik-baik saja kak". Balas Romi tersenyum, namun lain di hatinya. Ia tidak ingin kakaknya ikut bersedih atas dirinya.


"Bagaimana kuliahmu Rom?". Sahut Ozcan.

__ADS_1


"Semua lancar kak. Sebentar lagi aku akan menghadapi ujian akhir". Jawab Romi


"Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kau akan menjadi penerus perusahaan nantinya. Iya kan Felix?". Ucap Ozcan.


"Tentu saja. Dia adikku". Balas Felix bangga.


"Iya kak, tentu saja. Setelah lulus nanti, aku akan tinggal di Turki juga". Ucap Romi yang membuat Felix heran


"Kau yakin Romi?". Tanya Felix yang semakin merasa janggal dengan Romi.


"Tentu saja kak". Balas Romi semangat. Namun sebenarnya, ia berniat pergi hanya untuk bisa melupakan Prianka.


"Felix, sepertinya aku harus segera pergi. Klien ku menghubungiku, aku akan datang kemari lagi nanti". Ucap Ozcan yang tiba-tiba mendapat pesan darurat dari klien nya.


"Kenapa buru-buru sekali?. Tinggal lah beberapa jam lagi.. ". Ucap Felix menahan.


"Maafkan aku Felix, andai saja bisa, akan aku lakukan. Aku akan kembali lain waktu, semoga kau lekas sembuh. Dan kau jagoan, teruskan perjuanganmu. Oke?". Ucap Ozcan lalu mengalihkan pandangan nya ke arah Romi.


"Siap bos.. ". Sahut Romi semangat.


"Ya sudah, maaf aku tidak bisa mengantarmu. Kau sudah banyak membantu kami, aku tidak tahu bagaimana lagi cara kami berterimakasih". Ucap Felix penuh haru.


"Jangan seperti itu, kita sudah berteman sangat lama bukan?. Aku senang melihatmu bahagia". Balas Ozcan tersenyum.


"Kau memang terbaik". Ucap Felix memeluk sekilas Ozcan penuh haru. Di balas pula eh Ozcan.

__ADS_1


"Kau juga". Ozcan membalas.


__ADS_2