
Hari-hari terus berlalu. Kini, besok adalah hari keberangkatan Felix ke Turki. Namun sebelum itu, ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Berli terlebih dahulu. Sebelum besok pagi ia harus terbang.
"Kau tidak keberatan kan, sayang?". Tanya Felix.
Berli tersenyum. "Tentu saja tidak. Kau pergi untuk menunaikan kewajibanmu dalam bekerja. Maka aku tidak akan melarangmu".
"Kau benar-benar tidak ingin ikut?". Ucap Felix penuh selidik.
"Tidak sayang. Aku harus bekerja, aku tidak mungkin terus-terusan mengambil cuti. Sama sepertimu, aku juga harus bertanggungjawab dengan pekerjaanku".
Felix mengernyit. "Lalu.. Selama aku tidak ada, kau akan pergi bekerja dengan siapa?. Jangan biarkan David mengambil kesempatan".
Berli terkekeh, mendengar ucapan Felix. "Aku bisa sendiri. Lagipula untuk apa Pak David seperti itu".
"David sangat menginginkanmu. Bisa saja dia seperti itu kan?".
Berli menggeleng. "Tidak sayang. Jika terjadi pun, aku akan menolak nya. Aku akan pulang dan pergi naik angkutan umum".
"Baguslah kalau begitu. Pokoknya, kau harus mengabariku, apa saja yang terjadi. Aku tidak ingin siapapun menggangumu, apalagi menyakitimu".
Berli tersenyum. "Baik tuan Felix sayang".
"Besok aku akan berangkat pukul tiga pagi, Ozcan yang akan menemaniku".
"Begitu ya?. Apa aku boleh ikut mengantarmu ke bandara?".
"Untuk apa sayang?. Apa kau tidak akan mengantuk?". Felix terkekeh.
"Tidak. Pokoknya aku ingin mengantarmu". Protes Berli.
"Baiklah kalau begitu. Romi akan menjemput dan mengantarmu, setelah nya".
__ADS_1
"Yesss". Ucap Berli kegirangan.
"Kalau begitu, aku pamit pulang. Aku harus mempersiapkan beberapa hal". Ucap Felix.
"Ya sudah, pergilah". Ucap Berli. Namun, ia malah memeluk erat Felix.
Felix tertawa renyah. "Kau mengizinkan ku pulang, tetapi kau malah memelukku.. "
"Biarkan seperti ini, satu menit saja.. ". Berli malah membenamkan wajah nya di lengan Felix.
"Satu malam pun tidak masalah"
Berli memukul pelan lengan Felix. "Ishh, kau ini".
"Katakan, oleh-oleh apa yang kau inginkan?".
Berli mengernyit bingung. "Apa saja. Asalkan pemberianmu, aku pasti suka". Berli tidak peduli apapun. Saat ini, ia hanya ingin berada di pelukan Felix.
"Tentu saja". Berli malah mengeratkan pelukan nya. Felix hanya tersenyum melihat tingkah Berli.
Setelah berpamitan, akhirnya Felix tiba di rumah nya. Ia di sambut oleh Ibu nya yang sejak tadi menunggu.
"Akhirnya kau datang. Darimana saja kau, sayang?". Ucap Bu Inez khawatir.
"Aku ingin menemui Berli sebelum aku pergi, itu saja"
"Ya sudah, kalau begitu.. Pergilah ke kamarmu, persiapkan barang bawaan untuk besok. Jangan sampai ada hal yang tertinggal"
"Iya ma. Aku tahu..". Felix melenggang pergi ke kamar nya.
"Temui dia sebelum kau pergi, dan persiapkan semua untuk meninggalkan nya. Setelah ini, kau tidak akan dekat lagi dengan anakku, wanita miskin!". Gumam Bu Inez menyeringai. Ia begitu mendukung kepergian Felix ke Turki untuk beberapa saat. Tentu ia sudah punya rencana.
__ADS_1
"Ma, dimana kak Felix?". Ucap Romi yang tiba-tiba muncul.
"Ah, ia sedang berkemas di kamar nya sayang". Bu Inez terkejut. Ia berharap Romi tak mendengar gumaman nya.
"Aku kira kakak belum pulang..". Ucap Romi, sambil melenggang untuk menemui Felix.
Bu Inez hanya tersenyum.
Malam mulai larut, dan Felix masih sibuk dengan prepare nya. Ia sibuk mensortir berkas-berkas yang akan ia bawa besok.
"Sayang, kau belum selesai juga?". Ucap Bu Inez yang tiba-tiba datang.
Felix menoleh ke arah sumber suara. "Mama?. Mama belum tidur?. Ini sudah malam".
"Mama belum mengantuk sayang. Lagipula, kenapa kau belum tidur juga?. Kau harus berangkat pagi nanti kan". Ucap Bu Inez. Ia benar-benar sudah tak sabar dengan kepergian Felix.
"Aku tengah mensortir beberapa berkas yang akan ku bawa besok".
Bu Inez menganggung. "Hmm, baguslah kalau begitu.."
Seketika Felix menghentikan kegiatan nya, dan berbicara serius kepada Ibunya.
"Ma, saat aku pergi nanti.. Aku titip Berli ya. Maksudku.. Mama bisa kan, sesekali mengunjungi nya?. Atau aku akan menyuruh nya datang kemari. Saat aku pergi, dia pasti akan merasa sepi, maksudku.. Dia membutuhkan teman mengobrol. Aku harap mama mengerti".
Bu Inez tersenyum, meskipun lain di hati nya. "Tentu saja sayang. Mama sangat mengerti apa maksudmu. Tentu saja mama akan mengunjungi nya disaat ada waktu luang".
Felix lega mendengar ucapan Bu Inez. "Terimakasih untuk itu. Lagipula aku akan segera kembali. Aku tidak ingin berlama-lama disana. Hari pernikahan ku akan segera tiba. Pastikan dia baik-baik saja disini".
Degg, Bu Inez merasa kesal mendengar ucapan putra sulung nya ini.
"Iya sayang". Bu Inez tersenyum, menutupi maksud hati nya.
__ADS_1
'Selain memastikan nya baik baik saja, aku juga akan memastikan bahwa wanita itu tidak akan menjadi penghalang lagi di hidupmu putraku'. Bu Inez membatin