DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 169 - Mengingat Felix


__ADS_3

"Berapa aku harus membayar jaminan nya pak? Aku akan bayar berapapun asalkan putraku di bebaskan". Ucap Bu Inez penuh khawatir di kantor polisi itu. Sejak tadi ia memang sudah berada disana bersama Jovanka


Inspektur itu lalu menunjukan seberkas catatan kepolisian berisi keterangan dan data yang di perlukan. Juga dengan catatan jaminan yang bisa Bu Inez bayar


"Ini? Besar sekali". Bu Inez membelalak saat melihat nominal dalam berkas itu


"Ya. Anakmu bersalah Nyonya. Ini konsekuensi nya. Mungkin putra nyonya bisa menjalani hukuman dengan jangka waktu yang belum dapat di pastikan". Jawab Inspektur


"Aku akan membayarnya sekarang. Anakku harus bebas". Ucap Bu Inez penekanan sambil merogoh amplop tebal berisi uang. Entah berapa uang yang ia berikan, terlihat sekali ketebalan amplop itu. Jovanka membelalak melihat rupiah yang di keluarkan Bu Inez


"Semangat Jovanka. Suatu saat nanti uang uang itu akan menjadi milikmu". Jovanka membatin sambil tersenyum menyeringai


......................


"Gadis tadi itu.. Dia sangat baik ya". Ucap Bu Yuni yang kini berada di dalam kamar putri sulungnya itu. Ia datang membawa secangkir teh sebagai teman berbincang dengan Lathesia


"Iya.. Dia sangat baik. Aku beruntung bisa bertemu dengan nya". Jawab Lathesia tersenyum namun pandangan nya seperti kosong


"Apa yang kau pikirkan sayang?". Tanya Bu Yuni penuh kelembutan sambil membelai halus rambut Lathesia

__ADS_1


"Tidak. Tadi tanpa sengaja aku mendengar perbincangan antara Berli dengan kekasihnya. Sepertinya pria itu sangat perhatian dan hangat. Entah mengapa tiba tiba aku jadi mengingat saat saat bersama Felix". Jawab Lathesia sambil berkaca kaca. Namun ia membawa suasana dengan senyuman sambil menyeka air mata yang datang tak terduga.


"Apa yang bisa mama lakukan, mama akan lakukan sayang. Mama akan membawa kebahagiaanmu lagi". Ucap Bu Yuni yang terenyuh dengan perasaan putrinya. Meskipun dalam hati kecilnya ia tak yakin Felix akan kembali menerima putrinya


"Apa itu akan terjadi?". Tanya Lathesia penuh harap


"Iya sayang". Bu Yuni menjawab dengan menutup keraguan. Seketika Lathesia berhambur ke pelukan nya


"I love you mom". Ucap Lathesia penuh semangat. Sedangkan Bu Yuni hanya bisa meredam kegundahan di hatinya.


"Oh ya. Lain kali ajak Berli kemari. Kita makan bersama disini". Ucap Bu Yuni mengalihkan pikiran nya


......................


"Nak.. Syukurlah kau bebas. Mama benar benar khawatir". Ucap Bu Inez mengusap rambut putranya. Mereka kini sudah berada di luar kantor polisi itu


"Iya ma. Lagipula Romi memang tidak pernah menggunakan barang haram itu. Romi bahkan tidak tahu bagaimana bisa barang itu ada dalam tas Romi". Ucap Romi


"Kau memang tidak mengetahui semua ini nak. Karena ini semua adalah rencana mereka. Tetapi bagaimana bisa semua ini terjadi? Apa orang itu adalah orang terdekat kami? ". Bu Inez membatin

__ADS_1


"Mama melamun?". Ucap Romi membuyarkan lamunan Bu Inez


"Ah. Tidak sayang.. ". Bu Inez menyangkal


"Rom. Syukurlah semua baik baik saja. Dan sepertinya aku harus pulang, ibuku sudah menelpon. Kami masih ada urusan". Ucap Neel yang berpamitan. Karena sejak tadi Neel menemani Romi di tempat itu.


"Neel, terimakasih banyak. Aku tidak tahu jika kau tidak ada". Ucap Romi memeluk Neel. Di balas oleh Neel


"Tenang saja Rom. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun". Ucap Neel


"Tante, Kak Jovanka. Sepertinya aku harus pulang. Sampai nanti". Ucap Neel berpamitan


"Hati hati Neel. Terimakasih banyak nak". Ucap Bu Inez tersenyum


"Bukan apa apa". Neel berlalu pergi


"Kalau begitu, ayo. Lebih baik kita pulang. Tidak baik berada di tempat seperti ini". Sahut Jovanka yang benar benar sudah jenuh


"Iya sayang. Ayo". Ucap Bu Inez

__ADS_1


Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke kediaman Bu Inez. Tentu Jovanka senang karena misi nya akan segera di mulai


__ADS_2