
"Felix. Apa kau ingin makan, makanan berat? Aku sudah memasak tadi". Ucap Berli menawarkan.
"Tidak, aku sudah sarapan tadi". Balas Felix lembut
"Ohh begitu". Gumam Berli. Namun wajahnya sedikit muram.
"Ada apa sayang?. Kau sedang ada masalah?". Tanya Felix yang membuat Berli terkejut.
"T.. Tidak, tidak ada. Apa luka mu masih sakit?". Berli megalihkan ucapan nya. Ia tidak tahu kenapa Felix seolah bisa membaca pikiran nya.
"Katakan padamu. Ayo, aku yakin kau ingin bicara padaku". Ucap Felix yakin.
"Felix, maaf jika pertanyaan ku akan menyinggungmu. Apa kau mencintai wanita itu?". Tanya Berli. Entah kenapa hati dan ucapan nya berbeda. Padahal, ia ingin bertanya tentang status Felix sebenarnya. Namun ia tidak begitu yakin akan siap mendengar jawaban nya.
"Kau ini". Felix terkekeh.
__ADS_1
"Jelas tidak. Bukankah aku sudah menceritakan nya padamu?. Wanita itu di jodoh jodohkan denganku. Dan aku menolaknya karena aku mencintaimu". Tambah Felix. Namun ia tak menceritakan kisah masalalu nya dengan Lathesia. Ia berpikir bahwa itu adalah masalalu yang tidak perlu ia bicarakan lagi kepada seseorang yang akan menjadi masa depan nya.
"Dia kan cantik. Sepertinya dia juga wanita dewasa yang mapan. Jauh di bandingkan aku di.. ". Ucap Berli insecure. Namun ucapan nya terpotong oleh tindakan Felix.
Felix menutup mulut Berli dengan jari telunjuknya "Dia cantik atau tidak, dia mapan atau tidak. Aku tetap akan memilihmu. Apa gunanya semua itu jika tidak ada kenyamanan sedikitpun. Yang terpenting sekarang adalah, aku ingin kau selalu bertahan pada apapun masalah yang datang dalam hubungan kita". Ucap Felix.
Berli yang terharu, ia tak mampu menahan tangisnya. Ia menangis dalam pelukan Felix.
'Mungkin ini adalah saatnya. Aku tidak perlu lagi menyembunyikan dia di hidupku. Dia sangat berharga. Tidak ada alasan untukku menyembunyikan nya lagi'. Felix membatin. Ia mengeratkan pelukan nya.
"Sudah, jangan menangis. Cantikmu bisa luntur nanti". Felix mengusap air mata di pipi lembut Berli. Ia berniat untuk menghiburnya kembali.
Berli hanya tersenyum indah saat mendapat sentuhan itu.
......................
__ADS_1
"Ini salahku, andai saja aku tidak pergi saat itu. Mungkin aku bisa menemani kakaku di rumah sakit. Aku adik yang tidak berguna, bahkan saat kakaku sedang membutuhkanku, aku tidak ada di sisinya". Ucap Romi penuh penyesalan. Ia kini baru saja menapakkan kakinya di rumah mewah itu. Sejak kemarin ia tidak pulang. Ia menginap di rumah Adelard untuk menenangkan diri dari pikiran yang menghantuinya
"Bukan salah Tuan, ini memang sudah harus terjadi. Sebentar lagi Tuan Felix pasti pulang. Bersabarlah Tuan Romi.. ". Bi Esin menenangkan Romi yang kalut.
"Lalu kemana Mama bi?". Tanya Romi
"Nyonya sedang ke rumah sakit untuk menjemput Tuan Felix. Sebentar lagi pasti pulang. Tuan Romi bersabar ya". Bi Esin tersenyum.
Sementara Romi hanya terdiam memikirkan pikiran nya yang terus berputar
"Tuan Romi sudah makan? Biar bibi siapkan ya". Tambah Bi Esin.
"Tidak, terimakasih Bi. Aku ingin beristirahat saja di kamar. Jika Kak Felix pulang, tolong kabari aku ya". Ucap Romi sambil melenggang menuju kamar nya.
"Baik Tuan.". Ucap Bi Esin yang merasa prihatin dengan keadaan Romi yang rapuh.
__ADS_1
"Kasihan Tuan Romi. Ya Allah, kembalikan kebahagiaan di rumah ini. Lindungi semua anggota keluarga ini. Jauhkan mereka semua dari marabahaya dan salah faham yang membuat hubungan mereka renggang". Ucap Bi Esin sambil menadahkan telapak tangan nya. Ia mendoakan yang terbaik untuk keluarga majikan nya.