Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 100. Debat Danu dan Deni


__ADS_3

Deni mendengar bisikan Danu, membuat ia seketika mengepalkan tangan. Memukul beberapa kali wajah lelaki yang berada dihadapanya.


Memegang pipi merasakan rasa sakit, bekas pukulan Deni. Membuat Danu lelaki berkulit putih dengan tubuhnya yang berotot, menatap tajam ke arah Indah. 


Deni anak muda itu kini menunjuk wajah Danu," Jaga ucapanmu. Sebelum pukulan kematian menghantam wajahmu kembali."


"Berani kamu, bocah tengil."


Lelaki berotot meluapkan kekesalannya dengan memukul Deni secara tiba tiba, hanya saja pukulan itu berhasil ditepis. Membuat Deni bocah yang selalu disepelekan memutarkan tangan Danu. 


"Ahk." Rengekan lelaki berotot itu, membuat Deni tersenyum senin," Badan gede, tapi tenaga."


"Kurang ajar sekali kamu." Pekik Danu, membuat Deni memutarkan lagi tangan mantan suami Indah. 


"Lepaskan tanganku, dasar bocah."


Bukanya melepaskan, Deni malah semakin menyiksa Danu." Bagaimana rasanya, Uuh pasti menyakitkan, bukan?"


"Ahkk, kurang ajar kamu. Lepaskan." Danu seakan tak kuat lagi menahan rasa sakit pada tangannya, walaupun Deni masih terlihat remaja tapi tenaganya benar-benar luar biasa. Ia mampu melumpuhkan musuhnya. 


" Aku akan melepaskan kamu, asalkan kamu mau meminta maaf kepada wanita di sampingku."


Mendengar ucapan Deni yang seperti itu, Danu seakan enggan mengatakan kata maaf di depan mantan istrinya. Iya seakan gengsi di depan orang-orang jika harus terlihat lemah. 


"Kenapa diam saja, apa kamu mau tangan berotot ini remuk."


Ancaman yang sangat mengejutkan untuk Danu, tanpa berpikir panjang, pada akhirnya,  Danu mulai menyerah, ia seperti pecundang di depan istrinya. Sedangkan Indah yang berada di samping Danu, hanya bisa diam dengan kedua tangan yang ia lipatkan, kedua matanya mengabaikan rasa kasihan terhadap Danu. Indah berusaha egois. 


Danu menatap kearah sekitar orang orang yang ternyata menyaksikan dirinya,  menelan ludah bersiap siap mempermalukan dirinya sendiri. 


"Ayo katakan." Perintah Deni dengan tegas. Wanita itu membulatkan kedua mata dan berkata." Deni, sebaiknya kita pergi dari sini. Dia tak akan mau mengatakan hal yang mampu merendahkan dirinya sendiri."


Indah menarik tangan Deni dengan berkata," Ayo sebaiknya kita pergi dari sini. 

__ADS_1


"Tapi, kak. Lelaki ini belum mengatakan apa yang seharusnya ia katakan pada kak Indah."


"Sudahlah tak usah, aku malas mendengar kata maaf dari lelaki tidak tahu diri seperti dia. Sebaiknya kita cari restoran lain, karena di restoran ini, hilang selera makan kakak karena ada dia."


Sebenarnya Indah ingin melihat Danu meminta maaf dan bersujud kepadanya, tapi itu tak mungkin. Indah tak biasa mempermalukan harga diri seseorang, ia lebih baik mengalah saja demi kedamaian. 


**********


Beberapa langkah keluar dari restoran, saat itu juga Deni memegang tangan Indah, menghentikan langkah kaki mantan istrinya. Deni yang tak suka dengan cara Danu memegang tangan Indah, membuat ia seketika menghempaskan tangan itu. 


"Indah, aku akan minta maaf pada kamu di depan semua orang. Asalkan kamu mau balik lagi bersamaku, kita jadi pasangan seperti dulu."


Deni membulatkan kedua matanya, setelah mendengar kata kata pasangan, membuat Deni bergumam dalam hati," Ada hubungan apa diantara mereka berdua?"


Mendengar perkataan Danu, Indah malah semakin kesal dibuat perkataan Danu yang menjebak dirinya.


"Sudahlah mas, jika kamu mau minta maaf, minta maaf saja sekarang dengan ikhlas, tanpa harus meminta aku balik lagi bersama kamu. Asal kamu tahu ini, aku tidak ingin balik lagi dengan lelaki tidak tahu diuntung."


Indah dengan luapan kesalnya, mulai menarik tangan Deni kembali.


Indah membalikkan badannya dan menjawab," Bukan urusanmu!"


Betapa malunya Danu, setelah mendengar perlakuan dan perkataan Indah tak menyenangkan kepada dirinya. 


Orang orang saling berbisik seperti menceritakan tentang dirinya. 


Saat itulah Danu bergegas mengejar mantan istrinya lagi, akan tetapi,  ia tak mendapati Indah berada di luar restoran. Mengusap kasar wajah dengan berkata," Kemana Indah? Bagaimana kalau Indah sampai berpacaran dengan anak muda itu. Bisa jadi aku tidak ada kesempatan untuk balik lagi pada Indah."


Danu mengacak rambutnya, ia tampak gusar dengan perlakuan Indah. Apalagi sekarang Indah didekati dengan brondong yang mampu mengalahkannya. Semakin frustasinya Danu," Indah, aku harus mendapatkanmu lagi."


Indah dan Deni ternyata berada di dalam mobil, ia melihat Danu mencari cari Indah, membuat Deni melirik ke arah wanita yang berada disampingnya, dimana ia menarik napas seperti lega sudah bebas dari kejaran Danu. 


Sedangkan Deni, masih merasa tak menyangka jika wanita yang didekatinya seorang wanita yang masih terikat akan pernikahan. 

__ADS_1


"Apa aku harus melepaskan, Kak Indah. " Gumam hati Deni. 


Dimana Indah tiba tiba saja memegang tangan Deni dengan berkata," Terima kasih, Deni. kamu sudah nolongin kakak dari lelaki berengs*k itu, kakak sudah muak dengan dia, sudah dijauhi masih saja ngejar ngejar."


Setelah merasakan sentuhan Indah, Deni kini tersenyum. Ia tidak jadi melepaskan Indah, ia ingin memilikinya seutuhnya."


Dengan perasaan ragu, Deni memberanikan diri bertanya pada Indah," Memangnya kakak masih terikat pernikahan dengan lelaki tadi."


"Iya Deni, lelaki itu adalah suami kakak, dia hanya menalak kakak talak pertama, karena ada pihak ketiga yang menghancurkan keutuhan rumah tangga kita."


Deni begitu fokus mendengarkan cerita Indah, ia tak menyangka jika wanita secantik Indah bisa dikhianti oleh laki laki. Menatap dengan penuh cinta, Indah mulai melambaikan tanganya pada Deni dengan berkata." apa yang kamu pikirkan, Deni. "


"Karena memikirkan Kak Indah, jika aku jadi Kak Danu, mungkin aku tak akan meninggalkan kakak demi wanita lain. "


"Hey, bocah tengil. Kamu ngomong apa, ngelantur ya. "


Perkataan Indah membuat Deni bangun dari lamunya, membuat ia mengaruk belakang kepala yang tak gatal. Terlihat salah tingkahnya Deni


Membuat Indah malah tertawa terbahak bahak. "Ih kak, kenapa ketawa? "


"Kalau ngomong itu kamu ada ada aja, heh kamu ini masih remaja, mana ada kamu bisa berpikir hal sedewasa itu. "


Deni dengan beraninya menarik tangan Indah, hingga kedua wajah meraka begitu dekat, tatapan saling beradu, membuat rasa yang berbeda pada hati Deni.


"Kak itu cantik, sebenarnya Deni sangat menyukai Kak Indah.


Tawa kini terdengar kembali oleh Deni, membuat ia menggelengkan kepala. " Deni kamu ini masih remaja, belum cukup umur menyukai kakak, kamu lihat kakak ini sudah tua."


Indah semakin membuat Deni gemas, " kalau sudah berumur dan tua kenapa? Bukanya cinta tak memandang fisik ya kak. "


Indah mulai meredakan tawanya, ia menutup mulut berusaha tenang menghadapi sosok anak muda yang bagi dirinya nglantur.


"Deni, kamu ini aneh ya, di luar sana banyak wanita remaja seusi kamu. Carilah wanita cantik di luar sana, jangan wanita yang akan menjadi janda seperti saya ini."

__ADS_1


Penolakan yang menyakitkan hati.


Apa Deni akan berjuang?


__ADS_2