Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 75 Pov Raka. Sadis


__ADS_3

****** Hai hai, masih dengan Pov Raka ya. *****


Anna menatap tajam ke araku, menyuruh Deni menyingkirkan Ajeng dengan meyered tubuhnya agar jauh dariku. Sepertinya ia akan merekan perkataanku lagi. Karna semua belum selesai aku ceritakan.


"Aku akan merekam perkataanmu lagi, jadi cepat jelaskan lagi. Raka. "


Terdengar suara tegas Anna, membuat aku kini mengatakan semuanya kembali. " Baik Anna. Setelah aku meninggalkanmu di pinggir jalan, aku dan Ajeng bertemu, dimana aku menjelaskan semuanya. Hingga Ajeng paham, dia menelepon ayahnya untuk bisa menutupi kasus ini, dimana kamu menjadi korban tabrak lari dengan Daniel. Karna aku yang mengubur Daniel dan sudah menyentuhnya, ayah Ajeng dengan terpaksa memberi sebuah informasi palsu, bahwa Daniel sudah di kuburkan. Agar tidak ada pengecekan sidik jadi dan kasus pembunuhan lainnya. "


Anna mengereyitkan dahi dan bertanya lagi, " maksud kamu pembunuhan lainya."


Aku menelan ludah, mungkin ini akan terdengar semakin sadis. " aku memukul kepala Daniel hingga ia mati, sebenarnya aku juga berniat mebunuhmu dan menguburmu saat itu. Membuat aku mengurungkan niat, kamu meringis kesakitan, membuat aku tak tega. Melihat air matamu membuat aku semakin lemas, karna ibuku juga seorang wanita. "


Deni dengan kemarahanya mulai menghampiriku, namun tertahan dengan tangan Anna. Rekaman kini dimatikan, saatnya Deni mengatakan isi hatinya.


"Pantas saja saat aku mengecek makam kakaku, untuk di otopsi kembali, jasadnya tidak ada. Dan asal kamu tahu setelah kejadian itu. Aku sering di datangi almarhum kakaku di dalam mimpi ia berkata. " Cari jasadku de. Cari sajadku de. "


Semua itu membuat aku stres dan gila. "


Deni mentihkan air mata, apa yang aku lakukan sudah keterlaluan sekali.


"Kamu, harus mati. "


Deni mencekram kerah bajuku, memukul pipi dengan berkata, " kamu manusia jahat. Tidak pantas hidup di dunia ini. "


"Stop Deni, jangan lakukan itu lagi. Jika kamu membunuh dia, kamu yang akan rugi. "


Memegang pipiku rasanya sakit sekali. Deni terlihat menenangkan dirinya, saat Anna, menghentikan aksi memukulnya padaku.


Menunjuk ke arah wajahku, " Kamu akan tahu akibatnya setelah ini. "


Aku melihat Anna mengusap bahu lelaki muda itu dengan berkata. " Tenangkan dirimu. Kita belum bertanya semuanya pada dia. "


Setelah menenangkan Deni, pada akhirnya Anna kembali lagi mendekat ke arahku. Wanita lembut seperti Anna tak akan terlihat kejam dimataku, ia tetap Anna seperti dulu.


"Raka, cepat katakan. Dimana jasad Daniel kamu kubur? "

__ADS_1


Sebenarnya aku sudah hampir lupa dengan hutan itu, karna sudah lama sekali. " ayo jawab. "


"Aku hampir lupa dengan tempat Daniel dikuburkan. Karna sudah lama dan mungkin kuburan itu sudah rata dan sejajar dengan tanah. "


Brukkk.


Serangan Deni secara tiba tiba membuat aku tersungkur jatuh. " Banyak alasan kamu. Raka. Cepat ingat ingat lagi, jangan semua kamu jadi alasan. "


Terlihat urat leher Deni terlihat jelas menonjol, sepertinya ia marah besar dan ingin membunuhku saat ini juga. Tapi Anna wanita cantik yang menjadi mantan istriku terus menghalangi Deni agar tidak menganiayaku.


"Cukup Deni, jangan pukul lagi dia, kita belum tahu dimana kebaradaan mayat Daniel."


Dada bidang Deni naik turun, menahan kekesalan yang meluap luap, membuat aku melihatnya tentulah panik. Bagaimana dia menyiksaku lagi.


Aku berusaha mengigat tempat itu.


" cepat katakan." Teriak Deni.


Karna nyaliku yang menciut tak ingin dipukul lagi, akhirnya mengigat tempat itu dengan memaksakan otakku. " Aku sudah ingat Anna. "


Anna dan yang lainya mulai meninggalkan rumah ibu, hingga dimana aku berkata pada Anna. Membuat langkah kaki wanita itu berhenti.


"Anna, apa kamu tidak mau mendengarkan masa lalu kenapa aku menikahimu. "


Aku berharap Anna mau mendengarkan ucapanku yang berharga untuk dirinya.


"Sudah mas, tak perlu kamu mengatakan kenapa dan alasan kamu menikahiku. Aku tahu semua dari bagian rencana busukmu. Jadi sudahlah tidak ada alasan kamu mencintaiku. Oke. "


Berlari menghampiri Anna, memegang tanganya. Mungkin ini terdengar sangat memalukkan tapi inilah isi hatiku yang sebenarnya.


"Anna, aku terpaksa menikahi Ajeng karna ia mengancamku. "


Anna menghempaskan tangan ini dan berkata. " Mas, Walau Ajeng mengancammu, pembohong tetaplah pembohong. Apalagi kamu sudah membunuh Daniel calon suamiku, menyusun rencana dengan kebohonganmu itu. "


Aku terduduk lemah di atas lantai, tak menyangka akan mendapatkan penolakan yang memalukan seperti ini. Anna pergi dengan kedua lelaki itu, ia memakai mobil mewah mengendarinya sendirian. Betapa anggunya mantan istriku itu.

__ADS_1


Ajeng terbangun dari pingsanya, ia memijit kepalanya yang mungkin terasa sakit. "Raka? "


Panggilan Ajeng membuat aku murka, jika saja aku tak menikahi Ajeng mungkin sekarang masih bersama Anna, dan rahasiaku aman.


Ibu tua yang melahirkanku mendekat dan berkata. " Kamu jangan frustasi seperti itu Raka, Ajeng pasti akan menyelamatkanmu. Karna ayahnya yang bergelar polisi. "


Ajeng mendekat kearahku dan berkata. " Apa yang dikatakan ibumu benar, Mas. Masih ada pertolongan ayahku, walau kemungkinan kecil. Karna kamu mengakui semuanya. "


"Sudahlah percuma, mungkin ini yang terbaik untuk hidupku. "


Entah kenapa aku menjadi seorang pecundang yang pasrah begitu saja, seakan menerima nasib dengan apa yang terjadi.


Bapak tua yang membesarkanku kini melangkah mendekat ke arahku, " ini waktunya kamu bertobat, Raka. Anna tidak membunuh kamu, ia masih memberikan kamu kelongaran untuk mengakui semuanya. "


Aku menghelap napas, dimana ibu tak setuju dengan perkataan bapak. " Bapak ini gimana sih, jelas jelas Raka itu tak sengaja ia hilap. Ngapain tobat dan pasrah itu sesuatu yang memalukan pak. Bagaimana lelahnya ibu diam dan bertahan menyimpan rahasia Raka. Dan sekarang Raka harus pasrah. Menerima semuanya dan masuk penjara. "


Pekataan ibu dan bapak bertolak belakang, ibu lebih mengutamakan rasa ego dari pada mengakui kesalahan sendiri.


"Bapak hanya mengigatkan kamu saja, Raka. Sudah enggak papa jika kamu masuk ke dalam penjara, ini sebuah pelajaran agar hidupmu menjadi lebih baik lagi. Bapak selalu dukung kamu ke jalan yang baik, agar hidup kamu tidak sia sia dan rugi. "


Ibu seakan marah dengan nasehat yang terlontar dari mulut bapak. " Sudah sudah jangan nasehati lagi Raka, bapak itu aneh. Nyuruh anak pasrah dan merendah. "


"Bukan maksu bapak begitu bu, bapak hanya mengigatkan saja. Dan memilihkan jalan terbaik untuk Raka. Karna .... "


Belum perkataan bapak terlontar semuanya ibu kini mengusir bapak jauh dari hadapanku, "Raka sebaiknya kamu tenangin diri kamu. Ibu bakal obatin luka bekas tonjokan lelaki itu tadi. "


Ibu dan Ajeng mulai membantuku berdiri, mereka membawaku ke dalam kamar, untuk mengompres bekas pukulan Deni yang begitu menyakitkan.


"Mas, kamu jangan kuatir, aku akan menelepon ayahku. "


Ajeng mulai meminjam ponsel ibu yang sudah di berikan Anna, sedangkan ponselku sudah di bawa pergi oleh Anna.


Di saat Ajeng menelepon ayahnya, tiba tiba saja ponsel ibu ia jatuhkan begitu saja.


"Ada apa? Apa ada yang terjadi dengan ayah Ajeng? "

__ADS_1


__ADS_2