
Lemparan Kak Indah begitu pas, map berwarna hijau muda itu mendarat pada wajah Siren. "Coba kamu baca map itu."
Siren dengan cepat mengambil map dan lembaran kertas yang sudah berserakan di atas tanah, membungkukan badan dan meyipitkan kedua matanya.
Perlahan ia merapikan map berwarna hijau muda, membaca perlahan. Aku melihat dia seperti ketakutan, sesekali menatap ke arah lelaki botak yang berada disampingnya.
Kak Indah melipatkan kedua tangan," gimana? Sudah jelas."
Siren seperti menelan ludah, aku yang melihatnya kini menimpal," kenapa? Takut rahasianya terbongkar ya?"
Wanita muda dengan rambutnya yang terurai panjang itu, kini melipatkan kedua tangan. Membuat Map itu rusak ditanganya, ia langsung menyobek nyobek keras di dalamnya.
"Ini pembodohan, mana ada Mas Danu mandul, yang ada itu kamu Indah."
Siren melemparkan sobekan kertas itu pada wajah kakakku. Lihat seorang pelakor memperlihatkan ketakutanya, memutar balikan fakta. Apa dia tidak malu dengan dirinya sendiri. Sudah tahu salah malah membela diri.
"Sudahlah, tak usah berbelit belit, akui saja. Itu bukan anak Mas Danu kan?"
Wanita muda itu mumatarkan bola matanya, seperti tak ingin kalah dengan apa yang dikatakanku.
"Heh, kalian. Jangan asal fitnah ya, bisa saja isi dari map itu hanya omong kosong yang kalian buat buat, biar Mas Danu bisa kamu miliki lagi, bukan begitu Indah."
Kakaku tertawa terbahak bahak, setelah mendengar apa yang terlontar dari mulut Siren." Masa iyah aku mau merebut suamiku dari tangan seorang pelakor, menjijikan. Asal kamu tahu ya Siren, Mas Danu tanpa aku rebut dia akan balik lagi padaku, setelah tahu kebusukan yang kamu simpan rapat rapat itu."
Siren terlihat gugup dengan perlawanan kami berdua, dimana lelaki disampingnya membulatkan kedua matanya.
"Kalian sebaiknya pergi dari sini," usir lelaki berkepala tanpa rambut itu kepada kami berdua.
"Heh, BOTAK, emang kamu siapa, sok soan ngusir kami dari sini. Hah," cecar Kak Indah pada lelaki itu.
"Sa-y-a," ucapnya gugup. Terlihat sekali tampang penakutnya dari wajah sibotak itu.
"Bisa saja. Lelaki botak ini, ayah dari bayi yang sedang kamu kandung. Siren." timpalku pada Siren.
Wanita muda itu tampak marah sekali padaku." JAGA MULUTMU ANNA."
"Apa tadi kamu bilang?"tanya Kak Indah dengan menempelkan tanganya pada telinga.
Terlihat sekali wajah kesal dari Siren dengan dada naik turun menahan semua amarah. Karna perkataan aku dan Kak Indah.
__ADS_1
Lelaki botak itu kini menarik tangan Siren agar pergi dari hadapan kami berdua.
"Ehh, obrolan kami belum selesai botak. Mau dibawa ke mana itu si pelakor berdarah muda."
Lelaki botak itu kini menghentikan langkah kakinya, menapa ke arah wajahku dan Kak Indah." Kalian akan tahu akibatnya."
"Hey, akibat apa?"
Kak Indah berkacak pinggang mendekat pada lelaki tidak mempunyai rambut itu,
"Tadi kamu mengancam kami, ayo katakan sekali lagi. Kamu mau aku jebloskan ke dalam penjara hah, karna kasus penipuan!" Pekik Kak Indah. Tak segan segan mengancam balik.
Mereka terlihat berkeringat menahan rasa takut," kenapa diam, ayo jawab?"
Aku mendekat ke arah kak Indah, berusaha menenangkan amarahnya yang mengebu-gebu.
"Tenang kak, Kakak tak usah membuang buang energi untuk mahluk tak berguna seperti mereka."
"Benar juga apa yang kamu katakan, An. Lebih baik kita buang energi untuk yang berguna saja."
Siren mendekat ke arahku dan berkata," kalian tidak akan bisa membongkar rahasiaku, jika anak dalam kandunganku bukanlah anak Mas Danu. Itu tidak mudah, karna Mas Danu dibawah kendaliku."
Siren kini meraih tangan si botak itu, untuk segera pergi. Dari hadapan kami berdua." Ayo kita pergi dari sini."
Perlahan demi perlahan, langkah kaki Siren dan lelaki tanpa rambut itu pergi jauh. Membuat Kak Indah berucap.
"Gimana?"
"Aman!"
Aku menunjukkan ponsel, dimana ada rekaman perkataan Siren yang sengaja aku rekam. Untuk menjadi bukti yang kuat.
"Kamu memang bisa diandalkan adikku."
"Jelas, Anna."
Kami tertawa bersama hingga lupa Bu Sumyati yang kini berada di dalam kantor polisi.
Aku dan Kak Indah berjalan menuju ruangan dimana Bu Sumyati di beri sebuah jawaban yang harus wanita tua itu jawab.
__ADS_1
Pak Galih dengan begitu serius. Melihat ekpresi Bu Sumyati." Bagaimana Pak?"
Tangan yang memegang dagunya, ia singkirkan saar itu, menjawab pertanyaanku." Bu Sumyati tetap saja diam, saat polisi bertanya!"
Aku berusaha melangkah mendekat ke arah Bu Sumyati yang tengah di beri pertanyaan berulang ulang.
Terlihat raut wajah wanita tua itu menyedihkan, ia terlihat ketakutan, seperti mengalami tekanan.
"Bu Sumyati."
Setalah memanggil namanya, tiba tiba Bu Sumyati menjerit histeris, ia terlihat ketakutan.
Aku berusaha menenangkan wanita tua itu," Bu, tenang ini aku. Anna."
Semakin aku mendekati Bu Sumyati semakin teriakannya begitu terdengar keras. Pak Polisi, menyuruh aku untuk tidak bertanya pada Bu Sumyati.
"Sebaiknya ibu duduk dulu, sepertinya ibu ini mengalami gangguan jiwa. Karna setiap kali kami tanya ia selalu tertawa dan marah marah tak jelas." Perkataan Polisi membuat aku tak percaya.
Mana mungkin Bu Sumyati gila, itu tidak mungkin? Karna wanita tua itu sudah menerorku dan juga hampir mencelakai Pak Galih.
"Tapi kami mempunyai bukti Pak Polisi."
Aku menampilkan sebuah rekaman dari ponselku, memperlihatkan aksi Bu Sumyati saat gagal menculik Lulu.
Semua terlihat menjadi pertimbangan," kalau memang sudah ada bukti, kami akan menahan ibu bernama Sumyati ini ke sel tahanan. Tapi jika ada sesuatu pada ibu ini. Mungkin kami akan membawa dia ke rumah sakit jiwa."
Jawaban Pak Polisi yang tak membuat aku puas, karna aku belum tahu, kenapa Bu Sumyati melakukan kejahatan kepadaku.
"Kenapa tidak ditanya lagi pak, sepertinya dia berpura pura." Aku berusaha menekan polisi agar menyelidiki kasus ini, bukan malah santai biasa saja.
Pak Galih kini merangkul bahuku dan berkata," kamu tenang dulu, An. Ini tidak seperti yang kamu harapkan langsung. Semua butuh proses."
"Tapi Pak Galih, aku ingin ...."
Kak Indah menyuruhku untuk tetap tenang, padahal jiwa dan hati ini terus meronta ronta ingin kepastian. Mengusap kasar jidat yang sudah basah dengan keringat, Pak Galih mengajak kami untuk pulang segera. Biar kasus dilanjutkan besok.
Kesal bukan main, ingin rasanya kutekan sekali lagi polisi yang menanyai Bu Sumyati, akan tetapi aku tidak punya wewenang dan hanya bisa melaporkan begitu saja.
"Ayo, An. Kita pulang dulu," Ajakan Kak Indah membuat aku menarik napas dan pasrah untuk segera pulang ke rumah.
__ADS_1
Karna masih butuh waktu yang sedikit lumayan lama, mengungkap kasus Bu Sumyati yang melakukan kejahatan.