
Ternyata itu Kak Indah, ia berlari dengan wajah paniknya, bibirnya bergetar.
"Kak Indah."
Kedua tanganya memegang bahuku dan bertanya." Kenapa dengan Radit? Kenapa dia bisa masuk ke rumah sakit? Maafkan kakak meninggalkan kalian di rumah."
Aku memeluk kak Indah dengan erat, hatiku kini masih merasakan hancur, karna mendengar kabar tak menyenangkan dari dokter.
" kakak tidak usah minta maaf, kakak tidak salah. Ini memang sudah jalan takdirku, melihat Radit menderita karena ulahku sendiri."
"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, yang harus di salahkan itu para manusia manusia biada itu, Anna." Pekik Kak Indah, melepaskan pelukanya, tatapan tak biasa di tampilkan olehnya.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita masuk ke dalam ruangan Radit, kita lihat kondisi dia sekarang." Timpal Pak Galih, kepada kami berdua.
Aku dan Kak Indah, segera mungkin menghapus air mata dengan telapak tangan, sebelum masuk ke ruangan Radit. Tak berani jika harus menampilkan wajah sedih kami pada Radit.
Aku takut semua ini mejadikan pertanyaan untukku dari Radit.
Perlahan kubuka pintu ruangan, terlihat Radit duduk dengan memperlihatkan senyuman kepadaku.
"Radit."
"Mamah."
Kupeluk anakku yang berumur 7 tahun ini, hatiku sedikit lega, karna Radit sudah ada di tanganku," mamah, Radit kangen."
"Mamah juga sayang, mamah kagen sekali sama kamu."
Kak Indah hanya terdiam mematung, melihat badan Radit penuh dengan luka pukulan, membuat ia menutup mulut menahan rasa sakit yang mungkin sama seperti apa yang aku rasakan saat ini.
Kak Indah, mendekat. Terlihat kedua matanya berkaca kaca. Ia mungkin tengah menyembunyikan rasa sakit yang tengah ia rasakan saat ini.
"Radit sayang, anak pinter. Tante kangen sekali sama kamu."
Aku melepaksan pelukanku, pada tubuh Radit, sehingga Kak Indah bisa dekat dan memeluk anak keduaku.
Farhan datang bersama anakku Lulu, ia kini menghampiri adiknya.
"Hai jagoan kakak." Sapaan Farhan membuat Radit tertawa.
Anak keduaku selalu tertawa dikala Farhan memuji dia sebagai jagoan, " Kak Farhan, Radit rindu."
Farhan dan Radit kini saling menyapa dengan gerakan tangan sebagai lambang adik kakak yang selalu saling melindungi.
"Maaf Anna, apa aku bisa mengobrol denganmu hal penting?" Tanya Pak Galih, mendekat ke arahku, disaat kedua mata ini fokus melihat kebahagian terpancar dari diri Radit.
__ADS_1
"Boleh!" Jawabku, membuat Pak Galih mengajakku sebentar untuk mengobrol.
Aku berpamitan untuk ke luar pada Kak Indah, membicarakan sesuatu yang penting.
@@@@@
"Ada apa, Pak Galih?" tanyaku pada Pak Galih.
"Anna, apa kamu akan melaporkan semua ini ke jalur hukum!?" jawabnya, membuat aku tentulah heran.
"Tentu pak, hanya saja saya tidak punya bukti jika keluarga suami saya yang membuat Radit seperti sekarang!" ucapku, menahan rasa gugup jika berhadapan dengan lelaki tampan dihadapaku.
"Kamu mau saya bantu?" Tawarannya membuat aku kaget. Hatiku serasa berdetak tak beraturan, membuat aku berusaha menahan kendali.
Deg ....
Entah apa yang aku rasakan saat ini, Pak Galih begitu baik, ia mengatakan ingin membantuku lagi. Padahal kemarin baru saja Pak Galih menawarkan dana untuk buka usaha.
Sekarang?
Apa yang harus aku jawab!"
"Bagaimana, Anna." Ucapnya membunyarkan lamunanku.
"Tapi, saya terlalu merpotkan bapak," balasku. Menundukkan pandangan.
"Sudahlah Ana, terima saja. Pak Galih itu berniat baik padamu, jangan sia siakan kesempatan ini. Kamu bisa sekalian menggugat si Raka kere itu."
Aku kira kak Indah tak mendengarkan percakapanku dengan Pak Galih, ia tiba tiba saja datang dan berucap.
"Kak Indah. Tapi kak? Aku tidak mau bergantung dengan orang lain." Ucapku, berusaha mementingkan harga diri sebagai seorang wanita.
Kak Indah menarik tanganku, membawaku sedikit mejauh dari Pak Galih.
"Adikku sayang, turunkan egomu itu, ini bukan masalah harga diri, tapi ini masalah serius. Bukanya kamu mau jauh dari penderitaan si Raka itu."
ucap pelan kak Indah.
"Iya, tapi tidak dengan cara ini. Aku takut terlalu mengandalkan orang lain dalam masalahku yang berat ini, apalagi Pak Galih hanya sebatas orang yang pernah di tolong oleh Ibu dan Bapak."
balasku pada Kak Indah, berharap dia mengerti, aku ingin berusaha mandiri. Tidak mau jika sewaktu waktu orang itu tiba tiba berharap padakku, walau aku belum tahu isi dari hati Pak Galih yang sesungguhnya.
"Anna, pantas saja si Raka itu selalu menghina kamu bodoh. Kamu itu terlalu polos dan baik ternyata, kakak hanya memberi saran padamu, terima saja. Jika sudah di terima bantuan dari Pak Galih. Kamu tinggal ambil keputusan lagi nanti, jarang jarang di dunia ini ada orang sebaik Pak Galih." ucap Kak Indah terus menyakiniku.
Hatiku sekarang binbang, ya Allah apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1
"Gimana?" Kak Indah kini bertanya kembali.
"Enggak gimana gimana! Hanya bingung kak!?" jawabku dengan sebuah pertanyaan.
Kak Indah menepuk jidatnya kembali, " Anna, dengarkan perkataan kakak, kamu terima bantuan Pak Galih, setelah itu, kamu balas kebaikanya nanti jika kamu sukses."
"Kakak gampang ngomong kaya gitu, kalau Pak Galih berharap cinta pada Anna gimana?" tanyaku pada kak Indah.
Kakak perempuanku satu satunya tertawa terbahak bahak di kala aku membahas cinta," kamu masih memikirkan cinta. Jadi kamu takut jika Pak Galih nanti barharap cinta padamu, jadi kamu tidak menerima bantuanya?"
Menganggukan kepala, di saat kak Indah tertawa, Pak Galih masih dengan badanya yang tegap, seakan menunggu jawaban dariku.
Aku melempar senyuman pada Pak Galih, membuat lelaki bersetatus duda itu membalas senyumanku.
Membuat kedua pipiku merah merona.
"Mm."
"Apa sih, Kak?"
"Jadi gimana?"
Belum aku menjawab perkataan kak Indah, saat itu ponselku mulai berbunyi.
Aku langsung mengangkat panggilan teleponku.
"Halo. Anna."
Ternyata yang meneleponku adalah Mas Raka, dia memakai nomor baru untuk menghubungiku.
karna nomor Mas Raka yang biasa sudah aku belokir tadi pagi.
"Anna, kamu jawab kalau aku ngomong. Jangan berpura pura tidak mendengar. Halo."
Teriakan Mas Raka membuat telingaku sakit. Aku berusaha menjauhkan ponsel dari telinga kananku.
"Halo, Anna. Aku ngomong sama kamu, kamu jawab."
Perlahan kudekatkan ponsel pada telinga.
"Ada apa sih, Mas. Teriak teriak, kupingku sakit mendengar teriakanmu."
"I don't care, oke. Yang aku pedulikan sekarang, kamu harus tanggung jawab, kalau tidak aku tuntut kamu sekarang juga."
Aku mengerutkan dahi, tiba tiba saja Mas Raka berkata seperti itu, tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Mas, hah. Menuntutku tanpa jelas, harusnya aku yang akan menututmu saat ini juga. Karna kamu ...."
Sial panggilan teleponpun terputus.