Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 215 Rengakan Lulu.


__ADS_3

Lulu dan Intan kini mulai turun dari mobil taksi," Kak Intan, kok banyak bus begini. Kita mau ke mana?" tanya Lulu, terlihat raut wajah takut ketika melihat orang-orang berlalu lalang menaiki bus mobil.


Intan memegang erat tangan anak kecil itu, bawa Lulu masuk ke dalam, terlihat Lulu sedikit memberontak tidak ingin masuk ke dalam bus.


"Katanya mau maen kok kesini?"


Anak berumur tiga tahu itu terus saja bertanya kepada Intan, membuat kepala wanita bermata bulat merasa pusing dengan pertanyaannya.


"Kak, Lulu mau pulang saja."


Intan berusaha bersikap baik pada Lulu, tapi anak itu malah terus merengek meminta ingin segera dipulangkan ke rumah. Sejauh ini Intan tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan matanya.


Membawa Lulu ke kampung halaman adalah hal yang sangatlah baik untuk Intan sendiri, ketika Galih melaporkan dirinya ke kantor polisi. Ada sebuah ancaman akan membuat Galih berpikir lagi untuk menjebloskan Intan ke dalam penjara.


Intan bisa memanfaatkan Lulu.


"Kak, Lulu mau pulang."


Lulu menangis disaat Intan terus menarik tangan mungil anak berumur tiga tahu itu, agar segera masuk ke dalam bus.


"Lulu, sayang kita kan akan jalan-jalan kenapa kamu malah merengek seperti ini sih, Katanya tadi kamu mau diajak Kak Intan jalan-jalan jauh."


Mendengar hal itu, Lulu berubah pikiran. Awalnya ia mengira jika Intan akan mengajaknya ke suatu tempat bermain, yang jarang ia singgahi bersama kedua orang tuanya.


Tapi kenyataannya Intan malah membawa Lulu masuk ke dalam bus, di mana Lulu menyadari jika bus itu akan membawa dirinya untuk pergi ke suatu tempat yang jauh.


Kesal melihat Lulu terus merengek meminta ingin dipulangkan, tentu saja membuat orang-orang bersimpati dan menatap ke arah Lulu, Intan takut jika orang-orang yang menatap dirinya mengira jika ia seorang penculik anak.


Dengan terpaksa Intan mencubit lengan Lulu dengan sedikit keras, membisikkan perkataan yang begitu terdengar mengancam," Lulu Kamu tahu kan. Jika kamu tidak mau menurut, kak Intan bisa saja mulai kamu lebih dari ini, jadi sebaiknya kamu diam dan jangan merengek menangis di dalam. Kalau kamu sampai menangis lagi dan berteriak meminta ingin dipulangkan, Kak Intan tak segan-segan akan memukul kamu dan membuat kamu kesakitan."


Mendengar ancaman yang terlontar dari mulut Intan tentu saja membuat Lulu ketakutan, pada akhirnya ia diam. Menaiki bus dengan rasa menyesal.


Lulu teringat akan pengasuhnya, ia ingat sekali bertemu dengan Lina.


Setelah masuk ke dalam bus, Intan menyuruh Lulu untuk duduk dengan tegap, tidak boleh menangis lagi dan jangan banyak bicara.

__ADS_1


Lulu hanya seorang anak kecil hanya bisa menganggukkan kepala menuruti apa yang dikatakan Intan, ia menahan tangis. Dan duduk dalam rasa takut di dalam bus.


"Bagus, anak ini. Pada akhirnya menurut juga padaku." Gerutu Intan dalam hati.


******"


Lina tidak putus asa, bangkit dengan menahan rasa sakit pada kakinya. Ia mulai berjalan untuk menaiki motor yang selalu mengantar dirinya menuju ke sekolah bersama Lulu.


"Lulu, kak Lina akan cari kamu sampai ketemu."


Karena rasa sakit dan juga darah yang terus mengalir pada kaki Lina, membuat ia merasakan rasa lemas. Lina berusaha mengejar taksi yang membawa Lulu.


Perasaan sudah tak karuan, Lina kehilangan saksi yang membawa Lulu bersama Intan pergi.


"Lulu."


Wajah Lina terlihat begitu pucat karena menahan rasa sakit pada kakinya, ia kita putus asa terus mengendarai motor.


Sampai dimana Lina melihat plat nomor mobil taksi yang membawa Lulu dan juga Intan saat itu.


Sang sopir terasa terganggu, Ia membuka kaca mobil menatap ke arah Lina.


"Ada apa?"


Lina masih dalam kepanikannya, mulai bertanya pada sang supir. " penumpang tadi kemana pak?"


"Penumpang tadi pergi ke terminal bus, sepertinya mereka akan pulang kampung."


"Apa tadi ada anak kecil yang berumur tiga tahan?"


Lina berusaha memastikan jika Lulu ikut bersama Intan dalam taksi dengan bertanya kepada sang supir.


Sopir itu kini menjawab," ya kebetulan sekali tadi nona itu membawa seorang anak kecil yang iya temui di dekat pohon besar itu, saya mengira anak kecil itu adalah adiknya. Jadi saya putuskan untuk membawa mereka menuju ke terminal karena itu permintaan nona yang menjadi penumpang saya."


Dugaan Lina benar, Intan ternyata membawa dulu untuk pergi jauh.

__ADS_1


"Terima kasih ya. Pak."


Dengan kaki yang terasa sangat sakit, pada akhirnya Lina berusaha menguatkan diri untuk naik pada motornya. Jika ya tidak menyusul ke Terminal, kemungkinan besar Lulu akan dibawa pergi jauh oleh Intan.


Melajukan motor dengan kecepatan tinggi, tatapan Lina sudah terasa tak karuan, badannya terlihat begitu lemas karena darah yang terus bercucuran keluar dari kakinya.


Anna tetap saja tak menelepon Lina saat itu, padahal Lina tahu jika Anna dan Galih berada di rumah sakit. Apa salahnya jika mereka mengangkat panggilan telepon dari Lina, mereka malah mengabaikan begitu saja seakan tak memperdulikan anak kecil berusia 3 tahun yang butuh sekali perhatian dari kedua orang tuanya.


Samar samar dilihat Lina saat itu, ia sudah tak kuat lagi membawa motor untuk pergi ke Terminal bus.


Sampai akhirnya motor itu menabrak suatu pohon besar yang berada di samping kiri jalanan. Lina tak sadarkan diri karena benturan keras dari batu yang mengakibatkan sobekan pada kaki kanannya.


Motor yang ia bawa kini menghempit tubuhnya, Lina jatuh pingsan ia tak berhasil mengejar Intan yang membawa Lulu saat itu.


Orang orang melihat kecelakaan itu, berlarian membantu Lina yang sudah jatuh pingsan.


Seseorang meraih ponsel, yang berada pada saku celana Lina. Orang itu berusaha menghubungi keluarga ataupun orang dekat dengan Lina.


Sampai dimana, suara panggilan dari Anna.


Orang yang membantu Lina kini mengangkat panggilan telepon," Halo, Lina. Ada apa?"


Tedengar suara Anna, begitu syok.


Orang yang menolong Lina kini menjawab ucapan Anna," maaf bu, sebelumnya. Orang yang mempunyai ponsel ini mengalami kecelakaan, sekarang ia jatuh. kami masih menunggu kedatangan ambulans untuk membawa dia segera diperiksa ke rumah sakit. "


Sontak Anna terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut orang dalam sambungan telepon," kejadiannya di mana pak. Tolong sebutkan alamatnya, saya akan segera mungkin datang ke sana."


Orang baik yang menolong Lina kini menyebutkan alamat kejadian, kecelakaan Lina.


Anna mulai mengingat jalanan yang disebutkan oleh orang itu.


Ia kini mulai memberitahu Farhan dan juga Galih, jika Lina mengalami kecelakaan.


"Mas, kita harus pergi."

__ADS_1


__ADS_2