Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 37 Poto Yang Dikirimkan Pak Galih.


__ADS_3

"Ya ampun, Anna. Mana ada palsu aslinya, yang jelas aslilah. Kamu ini kalau di ajak ngomong terkadang bikin kakak jengkel," gerutu Kak Indah. Terlihat sekali dari raut wajahnya, kak Indah memikul beban yang amat sangat berat.


Antara membantu ibu mertuanya, atau menganggap semua itu masa bodo. Karna talak yang dilontarka Mas Danu hanya talak satu saja, jika Mas Danu mengurus semua surat gugatan. Kemungkinan besar Kak Idah dan Mas Danu resmi berpisah.


Tapi lelaki bernama Danu itu, malah membuat hidup kak Indah terobang ambing. Tanpa tujuan.


"Padahal kenapa dari kemarin kakak enggak gugat langsung aja si Danu itu," ucapku pada Kak Indah, yang terlihat pusing.


"Kakak sudah melakukan itu, tapi, ahk. Sudahlah. Kakak tak mau membahas semua itu lagi. Kepala kakak rasanya mau pecah," balas Kak Indah dengan nada tingginya.


Aku mengira hidupku saja yang ribet, ternyata Kak Indah mengalami kendala rumitnya rumah tangga.


Kak Indah terlihat berat melepaskan Mas Danu karna Ibu Dela. Wanita yang sangat menyayanginya.


Apalagi Kak Indah mempunyai amanat yang sangat besar dari almarhum bapak dan Ibu. Membuat aku merasa kasihan, amanat itu malah membuat Kak Indah tersiksa.


Padahal aku ingin bertanya tentang orang yang tadi datang ke rumah, di mana dia memakai baju serba hitam dengan topi bertuliskan Doraemon.


Di saat situasi kak Indah yang sedang kacau balau, sebaiknya aku diam. Dan berharap bisa membantunya, walau pun sekarang aku pusing dengan orang yang menerorku akhir akhir ini.


"Oh ya, kak. Apa Mas Danu tahu bahu ia mandul?"


Aku bertanya perlahan kepada Kak Indah, berusaha tidak membuatnya kesal.


Kak Indah mengelengkan kepala dan seketika menjawab," kata Ibu Dela. Danu belum menemui ibunya sendiri, pernikahan yang Danu gelar bersama istri barunya pun, tanpa sepengetahuan Ibu Dela."


Aku memajukan bibir atasku, si Siren wanita muda itu benar benar licik, ada ya pelakor macam sampah kaya dia. Pantas saja Ibu Dela meminta bantuan pada Kak Indah.


"Sekarang kakak harus bagaimana, kakak juga bingung. Amanat almarhum bapak dan ibu, Kakak enggak bisa pertahankan."


Aku berusaha duduk disamping kak Indah, memeluk dan menenangkan setiap kesedihan pada dirinya." Kakak, tenang aja ya, pasti Anna bantu."


"Anna, kamu juga banyak masalah. So soana mau bantu Kakak."


"Kakakku yang cantik masalah Anna itu mudah, tidak ribet dan berbelit seperti masalah kakak yang menyangkut orang tua. Jadi kita bermain main dengan si Siren pelakor darah muda itu."


Aku melepaskan pelukan pada kak Indah, di mana wanita bermata sipit itu, mengertukan dahi.

__ADS_1


"Siren pelakor darah muda. Maksud kamu? Apa kamu sudah melihat dia?"


"Hehhe." Menganggukan kepala dan mengedipkan mata beberapa kali.


"Tadinya Anna, mau cerita sama kakak. Tapi wajah kakak melow terus, jadi Anna takut buat Kak Indah semakin sedih."


Kak Indah seperti ingin tahu ceritaku yang bertemu dengan Mas Danu dan juga Siren. Ia seperti bersemangat membuat pelakor darah muda itu menyesal.


"Kamu sudah bikin dia gimana. Babak belum apa?"


Aku tertawa sembari mengeliat manja seperti cacing kepanasan." Aku tampar dia kak, dan Mas Danu aku caci maki dia di tempat umum. Apa kakak tidak ...."


Belum perkataanku terlontar semuanya, Kak Indah berdiri dan berkata dengan antusias," BAGUS. Kamu memang adikku yang pintar Anna."


Kak Indah memang begitu orangnya, di saat aku melakukan hal yang membuat dia senang baru dia bilang aku pintar. Tapi di saat bertanya tentang sesuatu yang tidak aku tahu, dia menyindirku dengan kata kata, aduh Anna otak kamu ke mana? Kamu ini go*l*knya enggak ketulungan?


Apa semua kakak seperti itu? Yang pastinya tidak.


"Ya, sudah aku punya rencana yang berlian. Untuk menemui kakak dengan Mas Danu, saat si Siren itu tidak ada di samping Mas Danu."


"Emang bisa, gimana caranya? Bukanya si pelakor itu selalu ada di samping Mas Danu, kemana pun Mas Danu pergi. Udah kaya lem buruk."


Kak Indah tersenyum kecil dan senang dengan rencana yang kubuat.


"Kakak setuju."


"Bagus, berati kita dil ya."


"Oke."


Dari raut wajah kakakku, tak ada kesedihan yang terlukis kembali, hanya raut wajah semangat untuk membasmi hama yang melingkar pada Mas Danu saat ini.


Aku yang penasaran dengan hati Kak Indah mulai bertanya." Apa kakak masih mencintai Mas Danu."


Raut wajah ceria itu kini berubah, menjadi medung. Seperti langit cerah yang akan tertutup dengan awan mendung.


"Kenapa kamu tanya seperti itu?" Kak Indah seakan tak suka jika aku bertanya tentang perasaanya. Kalau di bilang sesintif.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya saja, kalau kita berhasil membuat pelakor itu kapok dan insaf, apa kakak masih ada harapan untuk kembali lagi pada Mas Danu. Dan lagi Mas Danu itu di jebak, belum lagi masalah Mas Danu yang mandul."


Berharap kak Indah tak akan marah dengan pertanyaanku, yang sedikit membuat hati seseorang pastinya bingbang.


"Kenapa kamu malah menjawab tentang hati dan cinta. Asal kamu tahu Anna, seorang wanita akan kuat jika seorang lelaki mau bertahan, setia dan menghargai pasanganya, mau seburuk apapun seorang lelaki, sehina apapun seorang lelaki. Jika dia mengharagai seorang wanita. Wanita akan selalu menerima lelaki itu apa adanya. Dan untuk perasaan kakak, hati kakak sudah rapuh. Walau pun Mas Danu di jebak, kenapa dia malah membela wanita itu dan menuduh kakak mandul?"


Aku tak berani bertanya lagi pada Kak Indah, karna takut melukai hatinya.


"Ya sudah, kakak istirahat dulu ya di kamar. Nanti untuk makan malam biar Anna masakin nasi goreng sepesial buat kakak deh."


Kak Indah kini berjalan menuju kamar tidurnya, ia seperti lelah degan ke adaan hidup yang menekannya saat ini.


Tring ....


Suara pesan terdengar dari ponselku. Segera mungkin aku melihat isi pesan di layar ponsel.


Pesan dari Pak Galih.


Ada apa ya?


(Anna, aku sudah menemukan siapa orang yang berani menculik Lulu dari tangan suster.)


(Siapa orangnya, pak?)


Membalas pesan dari Pak Galih, hingga di mana lelaki berkumis tipis itu mengirimkan sebuah poto dan juga wajah yang terkena CCTV.


Aku mulai membuka satu persatu poto yang dikirimkan Pak Galih, kedua mata membulat.


Betapa terkejutnya melihat siapa orang yang berani menculik Lulu dari gendongan sang suster kemarin.


"Ini tidak mungkin?"


Tring ....


(Anna, apa kamu mengenal wajah yang saya kirimkan.)


Aku masih tak percaya dengan poto yang dikirimkan Pak Galih.

__ADS_1


Mana mungkin dia?


__ADS_2