Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 222 Radit marah


__ADS_3

Membalikkan badan menundukkan wajah, terlihat Anna seperti terpaksa, membuat sang suami memeluk istrinya.


"Jika memang tak mengizinkanku. Jangan buat hatimu terluka."


Galih memeluk punggung istrinya, ia tersenyum dan mencium leher sang istri.


"Aku sudah .... "


Ucapan Anna, belum sepenuhnya terlontar. Galih membalikan badan istrinya, agar berhadapan. " Kamu tenang saja, aku tidak akan datang ke sana kok."


Mendengar apa yang di ucapakan Galih membuat Anna tersenyum kecil, hantinya sedikit brtnapas lega. Perasaannya kini berubah tenang.


Galih memeluk kembali sang istri walau dalam hati tak nyaman akan keadaan Ainun.


Farhan baru saja keluar dari kampusnya, ia menatap layar ponsel, beberapa kali panggilan tak terjawab.


"Papah menelepon. Ada apa ya?"


Farhan merasa penasaran, akhirnya ia menelepon kembali panggilan telepon dari sang papah.


Galih masih bersama Anna, hingga ponselnya mengeluarkan suara.


"Farhan, menelepon. Akhirnya."


Perasaan tak tenang kini berubah saat sang anak menelepon, Galih mulai mengangkat panggilan telepon dari anaknya.


"Halo."


"Pah, ada apa?"


Terdengar suara panik dari sambungan telepon, Farhan terburu buru bertanya." papah hanya ingin memberi tahy kamu, kalau Bu Ainun sudah siumam."


Mendengar kabar dari sang ayah, membuat Farhan senang, ia tak menyangka jika Ainun sembuh dari komannya.


"Yang benar, pah?"


"Iya Farhan, tadi suster bilang Bu Ainun memanggil manggil kamu terus, sebaiknya kamu cepat ke rumah sakit. Kasihan ibumu sendirian!"


"Baik pah."


Panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, Anna melepaskan pelukkan suaminya dan bertanya." Apa kata Farhan?"


"Dia akan datang ke rumah sakit sekarang!"


"Sykurlah kalau begitu."

__ADS_1


Anna senang jika anaknya sudah selesai kuliah, jadi Farhan bisa datang melihat Ainun. Bukan suaminya yang malah membuat mood Anna berubah.


Apalagi saat hamil, mood itu bisa berubah ubah dengan derastis. Kadang tak bisa dikendalikan oleh Anna sendiri.


"Kamu jangan takut ya, Farhan kan sudah ke rumah sakit."


Anna melebarkan senyumanya, hingga Radit datang dan bertanya." Pah, mana Lulu?"


Kedua insan itu saling menatap satu sama lain saat anak kedua bertanya tentang keberadaan adik wanitanya.


"Lulu?"


"Iya, kenapa seharian ini. Radit cari Lulu tidak ada di rumah!"


Anna berusaha memberi pengertian pada Radit agar ia mengerti. Memegang kedua bahu anak keduanya. " Radit, Lulu sekarang dalam masa pencarian."


Kedua mata membulat setelah mendengar jawaban dari sang mama, " apa maksud mama?"


"Lulu di culik sayang."


"APA."


Semakin terkejutnya Radit setelah mendengar sang adik di culik. Ia menangis, masih tak percaya." mama, jangan bohong. Jelas jelas Lulu kemarin masi ada di sini. "


Anna tak sanggup menceritakan hilangnya Lulu, ia menangis dan memeluk erat tubuh anak keduanya. Radit berusa memberontak, sehingga pelukkan itu terlepas, membuat Anna hampir tersungkur jatuh.


Untung saja ada Galih di belakang punggungnya, hingga ia menahan dan mencerkram erat tubuh istrinya.


"Radit, kenapa kamu malah mengamuk seperti itu." Tegas Galih.


Radit bukanya menyadari kesalahanya, ia malah membulatkan kedua mata menatap tajam kearah Galih.


"Semua ini gara gara kalian, Lulu pergi bersama orang lain." Hardik Radit, menyalahkan kedua orang tuanya.


Galih menyipitkan matanya, tak mengerti akan perkataan Radit." Apa maksud kamu Radit, kenapa kamu malah menyalahkan papah?"


Radit dengan lantangnya menjawab." Jelas, Radit menyalahkan mama dan papah. Karena kalian sudah menyia nyiakan Lulu, sampai ia mau pergi bersama orang lain."


" Jaga ucapan kamu Radit, jangan seenaknya kamu berkata seperti itu," balas Galih, sedikit membentak anak kedua Anna.


"Kenapa papah tidak mengerti sebagai orang tua, Radit mengatakan dengan sebenarnya. Lulu bicara kepada Radit jika kalian terlalu sibuk dengan kehadiran buah hati yang kini dikandung mama, sampai lupa memberi perhatian pada Lulu," jelas Radit mengatakan semuanya.


Anna sudah menduga, dari perubahan sifat anaknya yang kemarin, ia mencoba mendekati Lulu tapi anak itu malah menghindar, seperti sakit hati pada Anna.


Sedangkan Galih menatap ke arah Anna dan bertanya?"Ada benarnya Radit berbicara seperti itu Anna, pantas saja Intan dengan gampangnya membawa Lulu."

__ADS_1


"Kenapa kalian baru menyadarinya sekarang, kemarin kemana saja, asal kalian tahu, Lulu hampir berencana ingin melukai bayi yang dikandung mama, karena mama tak pernah memberi perhatian padanya, " ucap Radit, air mata kini membasahi kedua pipinya, terlihat jika Radit begitu menyayangi Lulu adiknya sendiri.


Deg .....


Lulu ternyata banyak menyimpan luka pada hatinya, sampai ia tak pernah bercerita. Saat di dekati pun banyak menghindar dan sering diam.


Galih mendekat ke arah Radit dan berkata," apa dia bercerita lagi pada kamu Radit?"


"Ya, Papah Galih perusakan kebahagian Lulu. Semenjak menikah dengan Papah Galih, mama begitu sibuk memperhatikan Papah Galih. Sampai mama tak pernah menanyakan dan mendengarkan cerita Lulu!" jawab Radit.


Galih menundukkan wajah, ia tak tahu jika semua akan menjadi seperti ini, ada rasa sesal dan juga bersalah.


Anna, menarik napas terasa sesak. Ia juga tidak tahu dalam pernikahaan ini ada hati anaknya yang terluka dan merasa iri.


" Radit, papah akan usahakan menemukan Lulu, kamu jangan kuatir."


Radit hanya bisa terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa, karena dirinya yang masih syok mendengar kabar Lulu di culik.


Anak kedua Anna, kini berlari menemui Lina. Dimana gadis itu terlihat gusar setelah pulang dari rumah sakit.


"Kak Lina."


"Radit."


Lina mulai memeluk Radit dengan begitu erat dan penuh kasih sayang, ada rasa sedih mengigat Lulu yang hilang.


"Lulu, kak Lina."


"Iya Radit, semua gara gara Kak Lina. Lulu hilang, kak Lina tidak hati hati dan malah lengah."


Lina mencoba menyalahkan dirinya sendiri, terlihat sekali raut wajah penuh penyesalan terlukis dari dirinya.


"Kak Lina tak salah, yang salah itu mama dan Papah Galih, andai saja mereka tak mengabaikan Lulu, mungkin Lulu tak gampang ikut dengan orang lain."


Lina memeluk erat Radit, ia masih membayangkan wajah Lulu, takut jika anak itu tidak di perlakukan dengan baik.


Anna mengejar Radit, hingga dimana Lina melihat majikanya, mendekat pada anak keduanya.


"Radit, sini sayang. Mama .... "


Belum perkataan Anna terlontar semuanya, Radit mengelak, " Radit tidak mau sama mama, mama jahat mama terlalu mementingkan diri mama hingga lupa dengan Lulu. Mama itu tidak seperti dulu yang selalu membuat Radit dan Lulu bahagia dan nyaman."


Anna menangis mendengar hal yang diucapkan anaknya. " Radit, maafkan mama. Mama tidak bermaksud mengabaikan kalian berdua, mama sayang pada kalian, hanya saja mama terlalu sibuk, sampai membuat kalian terabaikan. Mama benar benar sayang pada kalian. "


Lina yang melihat tangisan Anna sedikit kesal, saat Lulu hilang, Anna begitu lambat mengangkat panggilan telepon darinya.

__ADS_1


__ADS_2