
Tatapan tajam mengisaratkan rasa kesal dalam diri Lina, terlihat raut wajah kebencian pada Anna karena kurangnya perhatian untuk kedua anaknya.
"Nyonya, sebaiknya anda lebih mementingkan kedua anak anda yang masih butuh perhatian," ucap Lina pada sang majikan, mendengar hal itu. Anna menatap ke arah Lina dengan mengerutkan dahi.
"Lina, kamu tahu sendirikan aku tengah mengandung dan berada di pase mabok berat. Ibu mana yang tak mau memperhatikkan anaknya, semua ibu di dunia ini mengiginkannya, kalau bukan karena paktor pekerjaan dan kondisi tubuh," balas Anna, terlihat kesal akan pertanyaan Lina yang membuat emosinya meluap.
"Tapi, berilah sedikit waktu. Walau sesibuk apapun, karena mereka butuh dekapan ibunya sendiri, agar mereka tahu jika masih ada yang peduli pada kehidupan mereka," ungkap Lina, melupkan isi hatinya sebagai pengasuh.
Galih menghampiri sang istri, mendengar perdebatan antara pengasuh dan majikan. Ia tak berani ikut campur, karena posisi sebagai bapak tiri, membuat Galih lemah.
Anna menundukkan padangan ia seperti gagal menjadi seorang ibu, saat seseorang menasehatinya. Padahal orang lain hanya bisa menilai dari sisi luar, tidak tahu dalaman yang sebenarnya.
Kedua mata berkaca kaca ia menangis, teduduk di atas lantai, perasaanya tak karuan. Hatinya rapuh," Radit, sini nak."
Beberapa kali, Anna berusaha memanggil anaknya. Radit mengelengkan tak mau, seperti melihat Lulu yang sama tak mau saat ia panggil.
Anna berusaha mendekat ke arah anaknya, menarik tangan Radit memeluk erat tangan anak itu.
"Maafin mama ya, nak, " ucap Anna, memeluk erat sang buah hatinya.
Radit terdiam. Sedangkan Anna kembali berucap," mama dan papa sedang berusaha mencari keberadaan Lulu, kamu jangan kuatir Radit. Mama dan papa sudah menelepon polisi, mama sayang sekali sama kalian Radit, Lulu."
Pelukan itu membuat Radit, hanya bisa menangis, ia merasakan ketulusan ibunya yang meminta maaf.
Radit selalu ingat akan pesan Raka ayahnya, ketika melihat sang ayah di dalam penjara dan berkata, " Lulu, Radit. Kalau kalian punya ayah baru, kalian tidak akan mendapatkan kasih sayang mama lagi."
Ucapan Raka tergiang dalam kepala Radit dan Raka, membuat Radit memikirkan kejelekan sang mama. Tak pernah melihat dari sisi positifnya sang mama.
Peran sebagai seorang ibu dalam mengurus seorang anak bukan lah hal yang mudah, apalagi banyak masalah yang bertubi tubi, dan bisnis yang harus selalu dikelola, sampai Anna nekad mempekerjakan seorang pengasuh.
Anna tak tahu jika Lulu merasa tersingkirkan dengan perkerjaan Anna yang menumpuk.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu pikirkan Radit." Melihat anak keduanya, membuat Anna merasa heran, dari tadi Radit melamun.
Radit mengelengkan kepala, ia melepaskan pelukan sang ibunda dan pergi menuju ke dalam kamar.
Brukkk ....
Anak itu menutup pintu kamarnya dengan begitu keras, tak peduli dengan sang ibu.
Lina kini bangkit dari tempat duduknya, ia berniat pergi dari hadapan sang majikan.
"Kamu mau pergi ke mana, Lina?" tanya Anna, berusaha mempertanyakan perubahan Radit. Anna berpikir negatip pada sang pengasuh.
"Saya mau istirahat Nyonya!" jawab Lina, seorang pengasuh yang selalu dianggap keluarga bagi Anna, malah memalingkan wajah dan pergi begitu saja.
Namun Anna, bersikeras menahan sang pengasuh untuk tidak pergi dari hadapan.
"Saya ingin berbicara dengan kamu sebentar saja,"
Anna mencekram tangan Lina, agar tidak pergi dari hadapannya.
Galih masih mengintip, mendengar apa yang diobrolkan antara seorang majikan dan juga pengasuh.
"Lina, Kenapa tadi kamu membela Radit, menyalahkanku begitu saja. Kamu tahu kan peran kamu itu sebagai apa di rumah ini," tegas Anna pada pengasuhnya yang sudah bekerja lama.
Lina menundukkan pandangan, ia tahu jika sikapnya salah besar, seharusnya Lina tak usah membela salah satu antara Radit dan Anna.
"Saya mengatakan semua itu ada alasan yang pasti," balas Lina, membuat sang majikan tak mengerti.
"Alasan apa?" tanya Anna, semakin kesal dengan sikap pengasuhnya.
Lina berusaha menahan kedua air matanya, ia menatap tajam ke arah Anna, tanpa rasa takut sedikitpun. Seakan tak peduli jika dirinya akan dipecat menjadi seorang pengasuh.
__ADS_1
"Nyonya, saya ini memang seorang pengasuh. Ada baiknya anda sebagai ibu intropeksi diri jangan terlalu mementingkan pekerjaan, Saya berharap Anda memayoritaskan kedua anak Anda yang butuh kasih sayang." ucap Lina, seakan mengulangi perkataannya seperti tadi.
"Untuk apa saya mempekerjakan kamu di sini, untuk Lulu, tapi kenapa kamu malah berkata seperti itu kepadaku," balas Anna. Membuang wajah dari hadapan Lina.
Anna dengan emosinya yang meluap-luap, menarik bahu Lina agar berhadapan dengannya." kenapa kamu malah diam saja saat aku bertanya seperti itu?"
"Saya tidak mau berdebat dengan Anda nyonya, tapi karena anda yang memaksa, saya akan mengungkapkan semua isi hati saya sendiri untuk anda," ucap Lina pada sang majikannya dengan lantangnya.
"Asal Nyonya tahu, saat kejadian itu kenapa Nona tidak mengangkat panggilan telepon dari saya. Padahal saat itu Lulu dalam masalah, seharusnya anda itu lebih peka sedikit ketika aku menghubungi Nyonya. Walaupun aku seorang pengasuh tapi peran utama yang terbaik untuk anaknya adalah seorang ibu, saya berharap anda bisa merubah pola pikir anda untuk lebih mementingkan anak-anak Anda daripada sebuah pekerjaan dan sekarang Anda juga merasakan luka pada hati anda, karena tengah mengandung lagi seorang anak. Radit dan juga Lulu pasti akan membenci anak yang dikandung dalam perut anda nyonya. "
Mendengarkan penjelasan dari sang pengasuh, membuat Anna semakin drop. Lina mulai melangkah pergi dari hadapan majikannya.
Memang saat kejadian Lulu diculik oleh Intan, ada beberapa panggilan tak terjawab yang diabaikan oleh Anna, Karena posisinya yang berada di ruangan rumah sakit melihat keadaan Ainun.
"Saya pamit, Nyonya."
Pada akhinya, Anna mempersilahkan kepergian Lina, karena percuma berbicara dengan Lina. Ia pastinya tidak akan merasakan betapa ujian rumah tangga itu begitu berat.
Lina dengan terburu-buru pergi untuk segera masuk ke dalam kamar tidurnya.
Galih yang mengintip sang istri, kini mendekat memegang bahu istrinya," kenapa kamu malah berdebat dengan seorang pengasuh?"
"Aku terpaksa memarahi pengasuh itu, karena ia malah membela anak keduaku tanpa memberitahu Radit bahwa aku bukan tak sayang padanya."
Galih mulai memeluk erat tubuh istrinya menenangkan perasaan yang semakin membuat Anna drop.
"Kamu jangan pikirkan apa yang dikatakan orang lain, bagaimanapun kamu sudah berusaha menjadi seorang ibu yang baik. "
"Memang, tapi .... "
Galih menempelkan telunjuk jari tangannya pada bibir Anna, agar Anna tidak terus mengoceh." Aku sudah mendapatkan informasi keberadaan anak kita Lulu."
__ADS_1
Anna mengusah pelan kedua air matanya yang terus berjatuhan," Apa benar itu?"
Galih, menganggukan kepala. Menjawab perkataan Anna.