Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 54 Sahabat Masa Lalu


__ADS_3

Aku kaget, di buat anak muda itu, ia tiba tiba saja memukul meja polisi, membuat kerusuhan di kantor polisi.


"Kamu diam, atau kami masukan kamu ke sel tahanan."


Pak Galih begitu terlihat kesal dengan ketidak sopanan lelaki muda itu, hingga dimana ia menadatangani surat pengalihan.


Lelaki berkumis tipis, dengan hidungnya yang mancung, kini menarik tanganku untuk segera pergi dari hadapan polisi dan anak muda itu.


"Ayo, An. Kita pulang."


Teriakan kini dilayangkan Deni pada kami berdua." Kalian akan tahu akibatnya."


Terlihat sekali badan Pak Galih yang kekar tak menujukkan rasa takutnya, akan acaman lelaki muda itu.


"Bapak tidak takut dengan dia?" tanyaku pada Pak Galih yang masih bersikap santai.


"Dia hanya bocah. Jadi apa yang harus kita takutkan dari dia!" jawaban Pak Galih ada benarnya, tapi aku merasa takut akan acamanya.


Ia seakan bersunguh sunguh mengatakan semua itu, dirinya terlihat tak main main, karna tatapan matanya terlihat sekali menaruh kebencian dan dendam yang lama.


Apa dia ada dimasa laluku, begitu pun dengan Bu Sumyati dan nama Daniel itu siapa. Kenapa bagiku semua tak asing.


Setelah masuk ke dalam mobil, aku duduk dengan hati gelisah, membuat Pak Galih mendekat memasangkan sabuk pengaman karna kebetulan sekali aku lupa.


"Tidak biasanya kamu lupa, An," ucap Pak Galih, seketika aku mengehelap napas berat.


"Kamu masih memikirkan ancaman anak muda itu?" Tanya Pak Galih, kenapa lelaki di sampingku selalu tahu apa yang aku pikirkan. Seakan ada magnet yang menyatu diantara kami berdua.


Pikiran yang selalu aku pikirkan selalu mudah ia tebak, ahk. Aku terlalu kepedean, bisa saja itu hanya kebetulan saja.


"Apa yang dikatakan Pak Galih, memang benar. Aku tengah memikirkan ancaman anak muda itu, aku takut dia ada di masa laluku!" Gumam hati ini.


"Anna."


"Iya pak?"


"Saya tanya sama kamu, tapi dari tadi kamu ngelamun terus!"


"Mm, masa sih."


Karna rasa takut membuat aku sering melamun, memikirkan masa lalu yang belum juga terbayang. Apa separah itu aku mengalami Amnesia sampai sekarang aku tak ingat sama sekali dengan orang di masa laluku.

__ADS_1


"Anna, apa kamu punya kenangan di kamarmu, seperti diary. Siapa tahu dengan baca itu kamu ingat perlaha lahan."


"Diary? Entahlah Pak, semenjak bersama ibu, aku sering menghabiskan waktuku dengan ibu. Sampai aku tak pernah mencari tahu siapa orang yang dekat denganku."


"Coba setelah ini, kamu cari tahu tentang Diary kamu, mudah mudahan saja. Perlahan demi perlahan ingatanmu kembali."


"Ya, mudah mudahan saja."


Di seperempat jalan, Pak Galih menatap pada kaca sepionya,


"Kenapa pak?"


"Kamu lihat, pada kaca sepion!"


Aku melihat Ajeng istri kedua Raka. Seakan mengikuti mobil Pak Galih." Ngapain si Ajeng itu?"


"Entahlah, sepertinya dia mengikuti kita, saya baru sadar!"


Ini benar benar membuat aku semakin curiga, seperti Ajeng sudah tahu akan masalahku. Kemana pun aku pergi, pasti dia selalu ada.


"Bagaimana kalau kita buat dia, malu."


Pak Galih tiba tiba saja menberhentikan mobilnya, tanpa lampu sen, ia tahu jika jalanan sepi. Jadi ia lakukan itu, untuk mengelabui Ajeng.


Karna lampun sen tak dinyalakan, tiba tiba saja Ajeng lepas kendali, ia menabrak mobil mewah milik Pak Galih.


"Pak mobil bapak?"


Pak Galih terlihat santai saja, ia tak peduli akan kerusakan mobilnya saat itu. Yang ia pentingkan saat ini adalah mengelabui Ajeng dan membuat ia malu.


Ajeng ke luar dari dalam mobil, jidatnya terlihat benjol, karna mungkin ia lupa memakai sabuk pengaman, membuat kepalanya terbentur.


Aku dan Pak Galih ke luar dari dalam mobil, melihat Ajeng marah marah, dengan mengedor pintu mobil Pak Galih.


"Keluar kalian, Are you crazy, you've done me harm."


Kami melihat kemarahan Ajeng, ia kini mengumpat dan berkata kami gila.


"Ya ampun Ajeng, kami tidak sengaja. Saya kira tidak ada mobil di belakang."


Ajeng mengerutu kesal kepada kami berdua." Kalian memang benar benar gila, mau ada mobil enggak ya seharusnya kalian itu lebih teliti, gunakan lampu sen. Percuma punya mobil mewah jika tidak di pergunakan."

__ADS_1


Rasanya aku ingin tertawa terbahak bahak, di saat Ajeng berkata seperti itu. Padahal salah dia sendiri dari penjara dan sampai sekarang megikuti kami berdua.


Pak Galih hanya mendengarkan Ajeng berbicara seperti angin ribut, yang melintas cepat secapat bibir tebalnya itu.


" Kenapa kalian tertawa? You don't know yourself."


cetus Ajeng.


Ia kini melipatkan kedua tanganya, menyingkirkan pandanganya, seakan jijik saat melihatku.


Aku dan Pak Galih mulai membuat sebuah drama yang kemungkinan besar membuat dia malu.


"Padahal dari tadi mobil ini, ngikutin kita terus ya PaK. Dari kita pergi ke penjara, ke tempat makan. Bapak ngerasa enggak mobil ini tuh kaya mata mata," ucapku membuat Pak Galih mengendipkan sebelah matanya.


"Mm, benar kata kamu Anna, sepertinya dia mata mata, takut kalau kamu lebih bahagia dari dia, jadi setiap kali kita pergi. Dia pasti ada dihadapan kamu terus." balas Pak Galih, tentulah membuat wanita yang berdiri di hadapan terlihat malu, kedua pipi putih seputih mayat, hehhe. Seputih salju maksudnya. Kini memancarkan warna merah merona.


"Oh, ya. Pak. Sepertinya kita tak perlu cape cape menyewa bodyguard, karna Ajeng selalu mengikuti langkah kita kemanapun kita pergi," sindirku, membuat Ajeng terlihat mengepalkan kedua matanya, gigi putihnya terlihat begitu terang mengeluarkan bau kematian.


"Benar, An. Kamu memang pintar, walau kamu belum bisa menguasai bahasa inggris seperti dia," balas Pak Galih. Membuat aku semakin bersemangat.


Sedangkan Ajeng semakin terlihat murka dengan sindiranku, jika aku bisa melihat sisi gaibnya. Mungkin di kepalanya sudah muncul tanduk merah.


"Kalian."


Ajeng seakan mengurungkan niatnya untuk memaki dan menghina diriku, ia berlalu pergi dengan rasa malu.


Menaiki mobil dengan kecepatan begitu tinggi.


Aku dan Pak Galih, saling menepuk tangan satu sama lain dan berkata." Berhasil."


Ini sebenarnya seperti anak kecil, tapi bagiku sangatlah menyenangkan. Anna yang selalu menangis dan mengalah kini berubah menjadi Anna kuat dan bisa membuat lawan lemah.


Sebenarnya aku merasa inilah jati diriku yang sebenarnya dimana aku lebih nyaman dengan perlawanan dan juga kekuatan yang aku miliki.


Apa aku di masa lalu seperti ini, atau aku sadis. Ahk, kenapa aku tak ingat sekali tentang masa lalu itu.


Oh tuhan, rasanya aku tersiksa dengan masalahku yang tak kuingat sama sekali.


"Anna." Teriakan sosok wanita datang menghampiriku ia berlari dan tersenyum ramah kepadaku.


Tapi siapa dia? Rambut pendek dengan gigi ginsulnya?

__ADS_1


__ADS_2