Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 63 Sorum mobil


__ADS_3

Pak Galih menggelengkan kepala di saat aku, mendengarkan musik dan berjoget riang. Apa yang aku lakukan ini benar benar gila.


Walau sebenarnya aku malu sendiri pada diriku ini, menyanyi di saat lagu tentang pelakor bermunculan.


Asiikkkk mang tarik .....


Dasar kau pelakor.


Perebut suami orang.


Aku meniru beberapa lagu, dengan manatap kaca di dalam mobil, terlihat sekali kebarbaranku, membuat Siren menahan rasa kesal.


Wajah memelas kesakitanya kini, memerah padam. Entah dia marah atau malu, aku tak peduli yang terpenting aku menikmati lagu ini.


Menatap ke arahnya sekilas, lelaki yang selalu menolongku kini tertawa, mungkin awalnya ia tahan. Tapi karna kebarbaranku ini, ia tertawa terbahak bahak.


Sampai dimana aku melihat sosok lelaki yang aku kenal raut wajahnya." Mas Raka."


Dengan sigapku matikan musik pada mobil Pak Galih, hingga dimana suara Pak Galih terdengar." Yuhuuuu, asiikkkk."


Aku ingin tertawa tapi mencoba menahan, karna melihat sosok itu tengah berjalan santai di sorum mobil, dimana terdapat banyak mobil bekas di sana.


"Ngapain Mas Raka Ke sana? Apa dia mau membeli mobil bekas." Gumamku dalam hati.


"Anna." Panggil Pak Galih, membuat aku menatap ke arahnya.


"Kamu kenapa?" Pertanyaanya membuat aku menunjuk Mas Raka yang berada di sorum mobil bekas.


"Kamu nunjuk siapa?" Tanya Pak Galih, membuat aku mencari keberadaan Mas Raka.


Pak Galih menghentikan mobilnya, membuat aku mencari keberadaan Mas Raka." kamu nunjuk siapa?"


"Tadi itu, saya lihat Mas Raka masuk ke dalam sorum itu pak!" Aku menjawab dengan hati yang penasarana. Hingga dengan nekatnya ke luar dari dalam mobil.


Hanya saja teriakan Siren terdengar begitu keras, membuat aku mengurungkan niatku ke luar mencari keberadaan Mas Raka.


"Kenapa malah berhenti di sini. Cepat antarkan aku ke rumah sakit, kalian ini gila ya."


Aku ingin sekali menampar wanita bernama Siren dibelakang jok mobil, karna dari tadi meringis kesakitan.

__ADS_1


"Iya, iya bawel."


Di dalam perjalanan pikiran terbesit, tentang Mas Raka, yang berada ke Sorum mobil. Untuk apa dia datang ke sana. Aku semakin penasaran.


Banyak kecurigaan terlintas di pikiranku tentang lelaki bernama Raka itu, aku semakin yakin, pelaku tabrak lari itu adalah dia.


"Kamu kenapa An, seperti tak tenang begitu."


"Aku melihat Mas Raka ada di sorum mobil."


"Terus?"


Belum perkataan Pak Galih terlontar semuanya. Siren berteriak." Sakitttt."


Merepotkan sekali benar benar tak tahu malu, sudah ketahuan bukan anak Mas Danu dan di cerai masih datang ke kakakku meminta pertanggung jawaban atas video rekaman yang segaja Kak Indah rekam.


Aku berusaha tetap tenang, agar amarahku tak meluap luap pada wanita yang menjadi perusak rumah tangga kakakku.


Setelah sampai di rumah sakit, Siren langsung di tangani dengan cepat oleh perawat rumah sakit. Hatiku benar benar ingin menemui Mas Raka di sorum mobil memastikkan apa yang sedang ia lakukan.


Karna rasa penasaran aku bergegas pergi untuk melihat Mas Raka kembali.


"Aku mau menemui Mas Raka di sorum mobil, pak!" Berjalan tanpa menoleh ke arah Pak Galih. Yang ternyata lelaki itu mengikutiku dari arah belakang.


Kami naik mobil, hingga sampai di tempat sorum itu. Aku berusaha tak menampakan diri agar Mas Raka tak curiga. Keuntunganku bersama Pak Galih, ia bisa berpura pura membeli mobil bekas.


Di tengah perbincangan Pak Galih, aku berjalan mengikuti Mas Raka yang tengah memilih mobil bermerek lama.


Perlahan aku mulai mendekat, menguping obrolan mereka.


"Ini, mobil sudah lama. Kami ubah modelnya dan sedikit di perbaiki perlaratan yang sudah rusak karna bekas tabrakan."


Aku mendengar bekas tabrakan, apa itu mobil Mas Raka yang ia sembunyikan?


"Ya sudah, jangan lupa cat mobil ini dengan warna merah. Karna ini mobil kesayangangan saya! Dari dulu."


Mobil dari dulu? Padahal selama menikah dengan Mas Raka, aku tak tahu jika dia mempunyai mobil yang sudah lama tak di pakai.


Setelah mendengarkan percakapan yang singkat itu, aku berusaha tetap tenang dan segera mungkin menghampiri Pak Galih, agar kedatanganku tak di ketahui Mas Raka.

__ADS_1


"Pak, kita pulang ayo."


Menarik tangan lelaki yang selalu membantuku, hingga akhirnya aku berhadapan dengan wajah mertuaku.


"Anna, kamu ada di sini?" Pertanyaan Ibu mertua membuat aku sedikit gugup. Hingga akhirnya, Mas Raka datang melihatku.


"Anna, kenapa kamu ada di sini?" Mas Raka kini bertanya tentang keberadaanku saat ini. Terlihat wajah gelagat ketakutanya akan kedatanganku yang tiba tiba.


"Kenapa kalian kaget seperti ini, melihat aku ada di sorum mobil?!"


Ibu mertua dan juga Mas Raka menatapku lekat, aku berusaha memanggil pegawai mobil untuk membantuku mencarikan mobil yang akan aku beli. Ini benar benar berdrama sekali, aku takut jika mereka mencurigaiku saat ini juga.


Pak Galih berusaha membantuku, hingga di mana ia berucap." Anna. Sebaiknya kamu coba beli mobil baru saja. Di sinikan mobil bekas semua, kayanya sayang, kalau seorang bos warung nasi membeli mobil bekas."


Akting Pak Galih memang luar biasa, aku berusaha menutup diri dengan berlaga sombong di depan mereka agar mereka tak curiga dengan kedatanganku.


Mantan ibu mertuaku, menatap lekat ke arah wajah ini dan berkata," Anna, kamu sekarang hebat ya. Sudah menjadi bos."


Aku tersenyum kecil di depan ibu tua yang pernah menjadi mertuaku ini," Oh jelaslah bu. Menjadi sosok wanita yang dulu di hina harus membuktikan bahwa dia mampu menjadi orang terpuji di depan si penghina. Agar si penghina itu tahu diri, apa yang dilakukan mulutnya yang menghina, membuah kan kejayaan untuk wanita yang di hina."


"Ayo pak kita pergi dari sini."


Aku mulai menarik tangan Pak Galih, untuk segera pergi dari hadapan mereka. Menaiki mobil dan bergegas untuk segera pergi kembali ke rumah sakit."


Di dalam perjalanan.


"Tadi kamu sedang apa, An."


Aku menceritakan sebuah obrolan Mas Raka dengan penjual sorum itu. Dimana ada mobil bekas tabrakan yang sedang di perbaiki, maka dari itu aku curiga jika mobil itu adalah mobil yang sudah menabrak aku dan Daniel.


"Jadi kamu curiga, jika pembunuh itu Raka, mantan suamimu."


"Iya. Aku curiga dengan Mas Raka dan juga Ajeng. Sepertinya mereka yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Tapi kenapa polisi tak bisa mengungkap kasus itu? kenapa kasus kecelakaan itu tertutup sudah. Sebenarnya mereka itu siapa?"


Baru saja aku membicarakan Ajeng dan Mas Raka. Aku melihat Ajeng bersama seorang lelaki tegap dengan badan gendut memakai seragam polisi.


Mereka berpelukan dan saling mengobrol begitu akrab.


"Itu Ajeng, dia bersama seorang polisi tua?"

__ADS_1


__ADS_2