
"Kenapa kamu tidak mengakui hubungan kita, Intan." Kedua mata membulat kata kata yang tak diinginkan Intan terdengar pada mulut Andi, lelaki yang tak ia kenal sama sekali, membuat sebuah fitnahan di hadapan dirinya dan juga Galih.
"Tuan, percaya dengan saya. Intan tidak mengenal lelaki yang baru saja datang ke rumah, menanyakan Nyonya Ainun." Berusaha membela diri di depan sang majikan yang begitu percaya kepada dirinya
"Bagaimana aku bisa mempercayai kamu lagi Intan, sedangkan orang-orang di sini semua menyalahkan kamu atas tindakan dan rasa tanggung jawab yang kamu abaikan dariku." Galih terlihat sudah kecewa dengan Intan.
Sedangkan Ainun, hanya tersenyum kecil sembari menatap tejam ke arah Intan yang terlihat kesal kepadanya.
"Intan, padahal saya di sini begitu mempercayai kamu beberapa hari ini. Menganggap kamu sebagai adik, tapi kenapa kamu tega berbuat seperti semua ini kepada saya."
Ainun memperlihatkan kesedihannya di depan Galih, memperlihatkan bahwa dirinya orang yang paling teraniaya saat ini karena ulah jahat Intan.
"Nyonya, kenapa anda malah memojokkan saya." Intan berusaha membela dirinya, kalau ia memang tak salah.
Ainun berusaha menangis dengan tangisan palsunya di depan Intan," Saya tidak berniat memojokkan kamu, tapi jika Galih memang tak mempercayai semuanya. Kenapa tidak mengecek cctv di rumah ini."
Intan baru sadar jika di dalam rumah memang ada cctv, dimana di dalam rumah terpasang hanya pada dapur dan juga ruang tamu. Dan luar rumah.
Ia terlalu terburu buru, membuat rencana hingga lupa akan bahaya yang mengintainya.
Terlihat wajah panik, di perlihatkan Intan di depan Ainun, tentulah membuat drama bermuculan lagi dari raut wajah manis wanita berjibat merah muda itu." Kamu tahu sendirikan Intan, saya tidak memegang ponsel sama sekali. Jadi bagaimana cara saya menghubungi lelaki ini."
Ucapan Ainun memang masuk akal, Intan ternyata sudah di kelabui dengan kecedrikan Ainun. Padahal Ainun mempunyai riwayat depresi yang kadang orang susah untuk berpikir, apa lagi melakukan tindakan seperti ini.
Depresi bisa sembuh dengan keyakinan dan niat, ingin berubah. Apalagi Ainun sudah mengakui kesalahnya dan ingin merubah diri. Semakin Ainun memperkuat diri dan keimanannya mempasrahkan semua pada ilahi rabbi, yakinlah penyakit itu akan sembuh dengan sendirinya.
Ainun berusaha menangis mengeluarkan air mata sebisa mungkin, agar Galih percaya akan apa yang ia tangisi saat itu.
__ADS_1
"Intan tidak tahu kalau aku ini lulusan apa, mau membodohiku dengan cara murahan seperti itu." Gerutu hati Ainun.
Intan berusaha mengambil hati Sang majikannya, yang tak lain ialah Galih di mana orang yang begitu mempercayai dirinya untuk bekerja dan menjaga mantan istri Galih.
"Tuan, saya benar benar bersumpah."
Galih memotong pembicaraan Intan, ia tak mau seorang pelayan bedalil dan bersumpah dihadapanya.
"Sudah sebaiknya kita memastikan saja CCTV di dalam rumah ini, jika memang Intan bersalah dengan terpaksa aku akan mengeluarkannya dari pekerjaannya saat ini," Tegas Galih di hadapan semua orang yang berada di rumah Ainun.
Intan seperti tak setuju dengan apa yang dikatakan majikannya, dia tetap ingin membela diri dan bekerja di rumah Ainun.
Ainun mendekat dan melihat Intan penuh dengan rasa sedihnya, perlahan mendekat. Saat Galih sudah keluar duluan dari dalam ruangan kamar Ainun.
"Mampus kamu, Intan." Bisik Ainun pada telinga Intan.
Intan mulai mengikuti langkah Galih dan juga yang lainnya, Iya juga melihat Andi yang menatap penuh kemenangan pada dirinya.
Galih mulai sampai di tempat di mana pengecekan CCTV itu berada, Ainun sudah mengetahuinya sejak Ia datang ke dalam rumah. Hanya saja ia berpura-pura bodoh di depan Intan, agar dirinya tahu, orang yang menjaganya Itu benar-benar tulus atau tidak.
Jika Ainun tidak melihat isi chat pada pesan ponsel pelayannya itu, kemungkinan besar saat ini Ainun akan tersalahkan dan ia akan diusir dari rumah yang diberikan Galih untuk dirinya sepenuhnya.
Untung saja niatnya yang berubah untuk menjadi lebih baik lagi dan berusaha untuk minta maaf terhadap Anna, membuahkan sebuah keindahan dan juga kebahagiaan untuk dirinya.
Di mana Ainun diperlihatkan dengan orang-orang yang munafik di hadapannya, sebenarnya dirinya juga merasa banyak salah sehingga ia memaklumi semuanya, kemungkinan ini sebuah teguran untuk Ainun sendiri. Agar menyadari kesalahnya sendiri.
Dibalik kejadian yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri Ainun merasa tenang, jika Ainun masih diberi kesempatan untuk merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
__ADS_1
kegelisahan sudah dirasakan Intan. Saat memasuki ruangan CCTV yang baru saja ia ketahui, padahal sudah lama Intan mengurus rumah itu hanya untuk membersihkan debu dan juga membereskan barang-barang di rumah yang jarang ditempati oleh Galih.
Ada rasa penyesalan yang begitu dalam pada hati pelayan bernama Intan itu, iya harus merasakan akibat dan ulah perbuatannya sendiri. Bahwa kejahatan tidak akan selamanya menang, dan kebaikan akan datang pada orang-orang yang mau berubah dan menyadari dirinya begitupun menyadari penyesalannya.
kedua mata Intan terlihat berkaca-kaca, Ainun yang melihat penampilan pelayannya itu merasa simpati. Namun Ainun berusaha membuang rasa simpatinya, karena ini adalah pelajaran untuk orang-orang yang suka seenaknya membuat sebuah kejahatan yang malah Merugikan dirinya sendiri.
Sedangkan Andi menatap raut wajah adik sahabatnya itu, sudah lama Ia baru bertemu lagi dengan Ainun setelah kematian Ferdi.
Galih melihat dan memutar rekaman CCTV untuk menjadikan barang bukti apa benar Intan itu bersalah dari semua yang sudah ia lakukan di dalam rumah, apa benar ada niat tersembunyi di balik semua yang diperbuat oleh Intan.
Padahal Intan sudah lama bekerja bersama Galih, tapi sekarang ia benar-benar sangat mengecewakan Galih. sampai-sampai tak bertanggung jawab.
Rekaman terbuka dan diputar pada jam kejadian yang disebutkan Andi pada Galih.
pada jam itu memang benar apa yang dikatakan Andi dan juga Ainun semua seperti yang mereka ucapkan.
Apalagi Galih melihat aksi yang tak dapat ya maafkan, di mana Intan menaburkan sebuah serbuk ke dalam susu yang akan diberikan pada Ainun.
Mengepalkan tangan, memukul meja yang terlihat layar rekaman masih menyala.
Brakkk ....
Semua mata melihat ka arah Galih yang terlihat marah besar, setelah melihat layar rekaman CCTV di depannya.
Ainun tentulah pensaran, ia melihat kelakuan Intan yang begitu kejam, membuat Ainun menutup mulut dan berkata." Intan, saya tak menyangka, jika kamu ternyata benar benar ingin membunuh saya di waktu itu."
"Nyonya saya hanya memasukkan obat tidur, kedalam susu nyonya." Kejujuran mulai terungkap pada mulut Intan.
__ADS_1