
Mereka kini menaiki mobil taksi, untuk segera menemui Raka, Bu Sari berharap jika Raka bisa menerima Kedatangan Ajeng, agar tahap selanjutnya bisa teratasi.
Walau sebenarnya ada kekecewaan di hati Bu Sari, karena Ajeng sekarang bukanlah Ajeng yang dulu, wanita yang dikenal Bu Sari pertama kali begitu cantik. Anggun dan menawan, harta bergelimbang. Segala apapun yang ia inginkan pasti terpenuhi, tapi tidak dengan sekarang Ajeng menjadi wanita cacat dan tak mempunyai apa-apa.
Entah apa jadinya jika anaknya keluar dari dalam penjara dan kini bersatu kembali bersama Ajeng dengan keadaannya tak seperti dulu.
Mungkin Raka akan tertekan, dan lagi memang dari dulu anak semata wayangnya itu tak menyukai Ajeng. Ia hanya dipaksa untuk menikah dengan wanita yang sudah menyelamatkannya dari kejadian tabrak lari.
Masalah yang dihadapi Bu Sari semakin rumit, bagaimana ia menghadapi kehidupnya nanti, sedangkan beberapa kali ia menelpon sang suami. Tak ada jawaban sama sekali.
Bu Ayu menatap ke sisi kiri, di mana ia duduk berdekatan dengan Bu Sari. Terlihat perasaan tak menentu dari wanita tua bernama Bu Ayu.
"Bu Sari, perasaan saya lihat dari tadi melamun terus. Ada apa?"
Pertanyaan Bu Ayu, membuat Bu Sari perlahan mengusap air mata. Ada apa dengan wanita tua itu, kenapa dia tiba tiba menangis, padahal tadi baik baik saja.
Memegang telepon, dan berkata." Saya lagi merindukan suami saya, katanya dia mau ke sini. Tapi saya tunggu tak datang datang."
"Yang sabar ya. Bu."
Bu Sari hanya bisa mengganggukan kepala ketika menenangkan hati wanita tua yang menjadi ibunda Raka itu.
Setelah sampai pada tujuan.
Bu Sari dan yang lainnya datang menjenguk Raka, Wanita berambut panjang yang terikat itu, berharap agar Raka memahami dan mengerti situasi yang akan ia hadapi saat ini.
Menarik napas kasar, pada akhirnya Raka keluar dari dalam penjara, betapa terkejutnya ia melihat sang ibu membawa Ajeng ke hadapanya.
"Raka."
Raka seakan enggan menatap wajah Ajeng, wanita cacat yang tak ingin ia lihat. " Ibu ngapain coba bawa dia ke sini." Gerutu Raka dalam hatinya.
Bu Sari memberikan isarat pada sang anak, dengan memasang kode tangan. Agar berlaku baik terhadap Ajeng dan keluarganya.
"Raka, ini yang kamu inginkan bukan. Bertemu kembali dengan Ajeng, kamu bilang sangat merindukannya, maka dari ini ibu membawa Ajeng ke hadapan kamu."
Mengerutkan dahi, Raka baru mengerti topik pembicaraan ibunya, karena gelagat mata yang berkedip jauh berbeda.
Raka tersenyum dan memegang tangan Ajeng." Iya, aku sangat merindukan Ajeng. Bagaimana bisa ibu membawa dia ke sini, bukanya Ajeng tengah sakit."
__ADS_1
Bu Sari menghampiri Raka, memperlihatkan dramanya akan berhasil." Raka, Ajeng juga merindukan kamu, jadi ia memaksakan diri ingin ke sini."
"Benarkah itu Ajeng?" tanya Raka pada Ajeng.
Tangan yang kini terlihat kurus, memegang kedua tangan Ajeng." Terima kasih, kamu masih mencintaiku."
Ajeng berusaha tersenyum, ia menatap lekat kearah Raka, seperti wanita polos yang mampu di bodohi karena cinta.
"Aku sangat mencintai kamu Raka."
Ajeng mulai kembali berucap, ternyata depresinya itu memang karena cinta.
Kedua orang tua Ajeng tersenyum, melihat perubahan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Ajeng terlihat seperti wanita biasa saja tanpa memiliki gangguan jiwa, bertemunya Ajeng dengan Raka seperti membuat obat yang mampu menyembuhkan Ajeng dari ganguan jiwa.
Bu Sari hanya bisa, menatap dalam ketidak nyamanan saat anaknya yang normal harus bersama wanita cacat seperti Ajeng.
"Ajeng, apa kamu mau memaafkanku?" tanya Raka pada Ajeng. Wanita berkulit putih dengan kedua mata bulatnya, menganggukan kepala.
"Terima kasih. Ajeng."
Adegan drama itu seperti terlihat natural. Raka bisa memainkan perannya dengan begitu sempurna, tentulah membuat Bu Ayu percaya dan tak ragu akan sesuatu hal yang ia lihat.
Ajeng hanya tersenyum tanpa berucap satu patah katapun. Pak Aryanto senang jika Raka menyadari kesalahanya, ia masih mempunyai rasa terhadap Ajeng.
"Kamu senang sekarang Ajeng."
Pak Aryanto, mengusap perlahan air matanya, Ajeng yang terlihat muram kini tersenyum kembali.
Sungguh tega mereka membuat drama yang nantinya akan membuat Ajeng kecewa dan menderita.
Padahal sudah jelas, Ajeng pernah melakukan bunuh diri karena hinaan dan juga kata kata kasar dari Raka.
Bu Ayu mendekat dan memeluk anak semata wayangnya. Hatinya begitu senang dan bangga." Akhirnya ibu bisa melihat kamu tersenyum lagi."
"Ya, berhasil. Tinggal kita berjalan ke langkah selanjutnya. " Gumam hati Bu Sari dengan melipatkan kedua tangan menatap ke arah mereka yang tengah berbahagia.
Suara ponsel Bu Sari berbunyi, membuat wanita tua itu segera pergi dari hadapan Raka dan yang lainnya untuk segera mengangkat panggilan telepon.
Setelah keluar dari kebahagian penuh drama yang dibuatnya, wanita tua itu menganggkat panggilan telepon yang ternyata dari nomor suaminya.
__ADS_1
"Halo, bapak."
"Halo. Pak."
Tidak ada jawaban sama sekali, Bu Sari merasa ada sesuatu yang terjadi dengan suaminya.
Hatinya merasa tak karuan saat itu.
Hingga suara seorang lelaki yang tak ia kenal, menjawab panggilan teleponnya," Halo."
"Halo, pak."
"Maaf saya bukan suami ibu, kebetulan sekali suami ibu mengalami kecelakaan."
Deg ....
Mendengar kata kecelakaan membuat Bu Sari benar-benar sok, wanita tua itu menangis sejadi-jadinya tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kecelakaan."
"Ya bu, apa ibu bisa ke sini. Kami sudah melarikan suami ibu ke rumah sakit. "
"Ya, iya. Pak, saya akan ke sana segera."
Tangan Bu Sari bergetar, saat menggenggam telepon. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya ke atas tanah karena masih tak percaya dengan berita yang dikabarkan lewat telepon.
Dengan berusaha berdiri, karena terjatuh oleh rasa syok, Bu Sari kini berdiam diri dengan menangis, menahan rasa sesak.
Bu Ayu merasa tak enak hati dengan Bu Sari yang tak kujung datang kembali ke dalam ruangan penjengukan. Dengan perasaan tak menentu pada akhinya wanita tua itu berjalan melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan Bu Sari.
Setelah berjalan keluar dari penjara, pada akhirnya Bu Ayu melihat Bu Sari yang tengah menangis dengan posisi duduk di atas tanah.
Dengan terburu-buru langsung menghampiri Bu Sari.
"Bu Sari, Sebenarnya apa yang terjadi dengan ibu, kenapa ibu malah menangis dan duduk di atas tanah seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Bu Ayu memegang kedua bahu Bu Sari, berusaha membantu wanita tua itu untuk berdiri dan perlahan menenangkan perasaan sedih yang terlihat dari wajahnya.
"Ayo katakan, sebenarnya apa yang terjadi dengan ibu."
__ADS_1