Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 212 Dikuburkannya Justin


__ADS_3

Dokter menunjukkan hasil USG kepada Galih dan juga Anna, mereka tersenyum bahagia. Melihat sang buah hati yang belum terbentuk.


"Usia kehamilan baru menginjak satu bulan ya, bu. Pak."


Galih menatap sang istri terlihat bahagia, begitupun dengan dirinya, anak kedua dari orang yang Galih cintai.


Permeriksaan selesai, mereka berdua kini keluar dari ruangan. Galih mulai mengambil ponsel, melihat isi pesan dan beberapa panggilan tak terjawab, betapa terkejutnya lelaki berbadan kekar melihat pesan dari Farhan.


"Kenapa, Mas?" tanya Anna, menantap wajah suaminya yang terlihat syok.


"Kamu lihat ini!" jawab Galih. Memperlihatkan layar ponsel kepada Anna.


"Mas, ini Farhan. Apa yang terjadi dengan Ainun?" tanya Anna.


"Ainun keritis, ada yang sengaja membuat Ainun celaka! Ternyata orang itu adalah Intan. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang!" jawab Galih mengajak Anna ke rumah sakit, untuk melihat keadaan Ainun.


"Ya sudah ayo."


Mereka mulai menaiki mobil, perasaan tak tenang di rasakan Galih dan juga Anna. Karena mendengar kabar tak menyenangkan dari Farhan.


" kenapa bisa Intan melakukan hal semacam ini, bukannya ia sadar atas kelakuannya, Intan malah semakin menjadi-jadi." Gerutu Galih saat mengendarai mobil, Anna kini menatap ke arah Galih dan menjawab," sepertinya Intan tak terima Jika dia dipecat oleh kamu, mas. Makanya sekarang Ia balas dendam, pada Ainun."


Galih mengacak rambut kasarnya, Kenapa bisa ada seorang wanita sejahat Intan, padahal dari dulu ia menganggap Intan adalah orang baik yang dibawa kedua orang tuanya untuk bekerja di rumahnya.


Sejak berumur lima belas tahun Intan tak pernah berubah, melakukan kesalahan sedikitpun Ia juga tak pernah. Tapi semenjak hadirnya Ainun ia malah menjadi sosok wanita yang begitu jahat.


Anna yang berada di sisi kiri Galih hanya bisa menenangkan sang suami," kamu harus tenang, kita tidak pernah tahu sifat seseorang. Ada yang pendendam ada yang pemaaf dan menerima."


Mengusap kasar wajah dengan tangan kanan, menatap sekilas kearah istrinya. " terima kasih Anna, sudah menenangkan hatiku."


"Sama sama, mas."


********


Anna dan Galih masih berada di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Farhan yang melihat balasan dari sang papah hanya bisa menenangkan diri, walau sebenarnya hatinya merasa tak karuan. Sendirian dalam kepanikan melihat sang ibunda masih ditangani dokter.


"Bu, semoga tidak terjadi apa apa. Awas saja kalau ibu kenapa kenapa? Aku tak akan biarkan Wanita bernama Intan itu bersenang senang dalam penderitaan Ibu Ainun," gerutu Farhan.


Anna dan Galih berlari masuk ke rumah sakit menuju ke ruangan Ainun, dimana mereka berdua melihat Farhan yang terlihat begitu panik," Farhan."


Teriakan Galih membuat Farhan membalikkan badan menatap ke arah suara sang papa.

__ADS_1


"Papah."


"Farhan, gimana keadaan ibu kamu?"


"Ibu masih dalam perawatan dokter, pah!"


"Papah sudah lihat kelakuan Kak Intan, pembantu papah?"


"Ya, papah lihat! Kamu tenang dulu ya."


"Iya pah."


Anna mulai duduk, merasakan rasa lelah karena berlarian, ia lupa jika dirinya tengah hamil muda. Karena kepanikan membuat ia terlalu terburu buru.


Galih mendekat ke arah sang istri, ia ikut duduk di sampingnya. " Kamu tidak kenapa kenapa kan, An?"


Anna menggelangkan kepala, menjawab." tidak mas, aku lupa jika aku sedang hamil muda."


Dokter akhirnya keluar dari dalam ruangan Ainun, ia menghampiri Galih dan berkata." Maafkan kami, pasien mengalami kritis, kami tidak tahu jika obat yang disuntikan mengandung racun berbahaya."


"Dokter kenapa keamaan di sini sangat payah."


"Saya minta maaf sekali lagi, atas keteledoran rumah sakit ini."


"Farhan, kamu harus tenangkan dulu hatimu. Jangan terpancing emosi."


Terlihat dada anak berumur sembilan belas tahun itu naik turun, karena kesal melihat sang ibu kritis.


Galih menyuruh dokter untuk segera pergi, karena ia sudah tahu watak anaknya akan marah.


Anna berusaha menenangkan Farhan, mengajak anak pertamanya untuk duduk bersebelahan dengannya.


"Farhan, kamu lihat wajah mamah."


Anna mencoba menenangkan anak pertamanya, di mana Farhan menundukkan pandangan di saat Anna menatapnya.


Tangan Anna, kini mencoba menaikkan dagu Farhan," kenapa kamu malah menunduk pandangan dan tak mau menatap ke arah mamah. "


Ketika marah, Farhan tak berani menatap Anna. Ia selalu memendam dan menjauhi sang mama.


"Farhan, mama tahu kamu begitu sangat menyayangi Ibu Ainun, alangkah baiknya Kamu tidak usah memarahi dokter dan juga yang lainnya."

__ADS_1


Farhan tak berani melawan pada Anna, ia malah terdiam, karena Anna selalu mengajarkan ketiga anak anaknya dengan adab.


"Farhan, nak. Coba kamu peluk mama sini."


Farhan tak berani, memeluk sang mama. karena ia tahu wanita di hadapannya bukanlah ibu kandungnya, bagaimanapun sebagai seorang lelaki yang sudah menginjak masa remaja, Farhan harus belajar menjadi lebih dewasa.


"Farhan minta maaf, ma."


Anna tersenyum dengan respon anaknya yang tak mau memeluk dirinya, Iya tahu betapa dewasanya Farhan.


"Farhan mama sudah maafkan kamu, jadi kamu harus bisa mengontrol emosi ya. kamu ini kan sekarang bukan anak kecil lagi, kamu sudah terbilang harus belajar dewasa mulai dari sekarang."


Anna menyodorkan sebuah tangan untuk mengajak anaknya bersalaman, Farhan selalu mengingat salaman antara dirinya dengan Radit yang kini diperagakan oleh Anna.


Farhan tangan sang ibu yang mengajak bersalaman, ya tersenyum ceria emosinya kini hilang seketika di saat. Anna menenangkan emosinya.


Galih menatap Farhan dan juga istrinya, terlihat begitu membuat kedua matanya terasa sejuk karena pemandangan yang dipancarkan Farhan dan juga Anna menenangkan hati dan juga pikiran Galih.


Begitu beruntungnya Galih bisa mendapatkan Seorang Istri seperti Anna, menerima dengan tulusnya Farhan dan juga Galih.


Galih ikut serta duduk dalam kebahagiaan yang terpancar dalam keluarga kecilnya.


********


Sedangkan Intan kini direpotkan dengan Justin yang akan segera dimakamkan, iya harus berpura-pura menangis.


Intan juga tak mengerti kenapa lelaki yang menjadi suruhannya itu tidak mempunyai keluarga sama sekali.


Sebenarnya siapa Justin?


Setelah acara pemakaman Justin selesai, Intan kini dikejutkan dengan suara ponsel yang berbunyi dari saku celananya.


Ia menatap layar ponselnya, dimana Galih ternyata menelepon, Intan merasa senang. Saat mantan majikannya menelpon, ia membayangkan kalau dirinya akan bekerja lagi di rumah Galih.


"Tuan Galih menelepon, sepertinya ia akan mempekerjakanku kembali."


Dengan perasaan senang dan bangga, Intan mulai mengangkat panggilan telepon dari Galih.


Walau dalam dirinya ada rasa gugup, karena Intan menyimpan sebuah cinta dan juga perasaan besar terhadap mantan majikannya itu.


"Halo, pak Galih."

__ADS_1


"Halo, Intan. Kamu ada di mana?"


"Saya ada di .... "


__ADS_2