Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 292


__ADS_3

Ahkkk ....


Teriakan Marimar membuat Bu Ita ketakutan, wanita tua itu terlihat gelisah. Raut wajah pucat terlihat oleh Nita, gadis bermata simpit sudah curiga jika ada ancaman dari Marimar.


Bu Ita beranjak berdiri, di mana ia hampir menyuapkan makanan dan menaruhnya kembali, seakan ingin pergi melihat teriakan yang ia dengar


"Bu Ita mau ke mana?"


Nita berusaha menahan kedua tangan Bu Ita, agar wanita tua itu tidak pergi, " Eee .... "


Terlihat Bu Ita begitu linglung, seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.


"Sudah duduk, cepat makan." Nita menyuruh tegas Bu Suci untuk duduk dan menghabiskan makanan yang sengaja ia beli.


Bu Ita tampak ragu, dimana Nita menyakini wanita tua itu," kenapa, takut dengan Marimar."


Mendengar perkataan itu, Bu Ita langsung diam. Nita berusaha membujuk dan membuat wanita yang menjadi teman dan saudar Bu Suci untuk tetap tenang.


"Anggap semua tidak akan terjadi apa apa. Ada Nita di sini yang akan melindungin Bu Ita."


Terasa sesak, namun membuat Bu Ita mempunyai harapan, untuk meminta bantuan pada Nita.


"Ayo makan."


Wanita tua itu langsung duduk, di atas kursi kayu. Ia menarik lagi makanan yang diberikan Nita.


Perlahan suapan mulai dilayangkan pada mulut wanita tua itu. Kedua mata tiba-tiba saja berkaca-kaca, Nita melihat Bu Ita seperti itu, langsung bertanya." Apa yang sedang Bu Ita pikirkan?"


Pertanyaan Nita, tentulah membuat Bu Ita enggan mengatakan semuanya, walau sebenarnya ia ingin meluapkan kesedihannya.


"Tidak ada."


Nita merasakan hal yang aneh, ia perlahan menekan Bu Ita agar bercerita.


"Ayolah carita."

__ADS_1


Pada akhirnya air mata itu jatuh mengenai kedua pipi Bu Ita yang sudah terlihat mengkerut, Bu Ita berusaha mengusap perlahan air mata yang terus membasahi pipinya, ia tak sanggup dengan kesendiriannya sekarang, tanpa seorang teman yang biasa menemaninya saat makan dan tidur.


Selalu bercerita akan kehidupan di masa lalu, menyesali perbuatan dan kejahatan dilakukannya.


Kini semua hanya kenangan semata, sahabat yang sudah dianggap saudara itu kini sudah pergi jauh, dan tak akan kembali seperti dulu.


"Jangan tangisi Bu Suci lagi, sekarang Tante sudah tenang di alam sana, Nita sudah membereskan pemakaman Tante suci."


"Syukurlah kalau begitu."


"Ya sudah, ayo cepat makan. Makananya. "


Bu Ita menganggukan kepala, dengan lahapnya wanita tua itu memakan nasi beserta lauk pauknya.


"Ahkkkk .... "


Terikan Marimar terdengar kembali, seperti sengaja untuk membuat Bu Ita ketakutan.


"Ibu takut dengan teriakan Nyonya Marimar? Tanya Nita, berharap jika pertanyaannya ini dijawab. Hingga menunggu dengan rasa sabar mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Bu Ita. Pada akhirnya Bu Ita mengatakan semuanya.


Bu Ita kini berpesan kepada Nita agar tidak mengatakan semuanya kepada orang lain, karena ia tahu jika mengatakan hal itu akan membuat kemarahan pada diri Marimar.


Bu Ita tak mau hidupnya tragis seperti yang dialami Bu suci, Ia hanya bisa diam dan menuruti perintah Marimar.


Nita mendengar hal itu tentulah membuat hatinya sangat bersedih, begitu hebatnya Marimar bisa mengendalikan orang-orang yang dekat dengannya.


Makanan yang sengaja dibawa oleh Nita kini habis dimakan oleh Bu Ita, tanpa ada sisa sedikitpun. Siapa yang tak menduga jika Bu ita bersedih sembari menikmati makanannya.


Wanita tua itu kini mengeluarkan suara sendawanya, terdengar begitu jelas membuat Nita tersenyum lebar dan menahan tawa.


"Maaf Nita, Ibu tak sengaja."


Permintaan maaf Bu Ita, membuat Nita memakluminya, tak ada rasa marah sedikitpun kepada wanita yang ada di hadapannya.


Teriakan kini kembali terdengar, Bu Ita berusaha tidak memperdulikan teriakan Marimar, ia menahan semua teriakan itu agar dirinya tak semena-mena dikendalikan.

__ADS_1


Waktu yang tepat.


Nita mulai memberikan satu lembar kertas putih berisi kode, di mana Nita benar-benar tak mengerti dengan arti dari kode yang diberikan oleh Bu suci.


"Apa Ibu Ita mengerti?"


Nita sangatlah ingin tahu dengan kode yang diberikan Bu suci, berharap jika kode itu bisa membawa dia pada Lulu.


Bu Ita berusaha mengingat kode yang diberikan Nita. Di mana kode itu hanya Iya dan juga Bu suci yang tahu, " ini alamat orang tua angkat Lulu."


Bu Ita kini menuliskan arti dari kode itu di bawah lembaran kertas," malam itu, Marimar membahas jika Lulu di bawa ke amerika, entah ia akan dijadikan apa, hanya saja. Kedua orang tua angkat Lulu itu hanya mengadopsi anak untuk pancingannya semata. Jika mereka berhasil, entah Lulu akan di bawa ke mana lagi, di urus atau dibiarkan begitu saja. Karena kebetulan kedua orang tua Lulu bukan orang sembarangan, saya dengan mereka seperti seorang pecandu obat obatan."


Deg .... Mendengar apa yang dijelaskan Bu Ita, tentulah membuat hati Nita kuatir akan keadaan Lulu, secepat mungkin mereka harus menemukan anak itu, karena tidak ada yang tahu jika Nasib itu di sana malah menderita.


"Bu Ita bukan tak mau menjelaskan semua ini, tapi Bu Ita diancam oleh Marimar, jika Bu Ita sampai membeberkan semua masalah ini. Nasib Bu Ita akan sama dengan Bu suci, dan ancaman itulah yang membuat ibu sekarang merasa menderita dan tertekan, rasanya Ibu ingin bebas sekali di dalam penjara ini."


Nita menitihkan air mata ia juga takut nasib Bu Ita sama seperti tantenya, Karena bagaimanapun kedua wanita tua itu sudah berusaha mencari tahu tentang keberadaan Lulu yang sekarang.


Nita meraih tangan Bu Ita menggenggamnya dengan begitu erat," Bu Ita jangan kuatir, Nita akan melepaskan Bu Ita sekarang juga, karena Bu Ita sudah memberitahu keberadaan Lulu sekarang."


Orang mana yang tak senang mendapat berita baik dari mulut Nita, apalagi menceritakan tentang kebebasannya.


"Benarkah itu?" tanya Bu Ita, merasa tak percaya jika dirinya akan bebas sekarang juga, Bu Ita akan terbebas dari ancaman Marimar yang begitu menakutkan.


Nita menganggukkan kepala melepaskan pegangan tangannya," Ya saya akan membebaskan Bu Ita sekarang juga. Saya ingin meminta sebuah bukti kepada Bu Ita bahwa ada rekaman CCTV yang merekam saat kejadian itu. Apa ada?"


"Ada, rekaman itu tidak kami beri tahu kepada polisi, karena Marimar langsung menutup semua rekaman itu. "


"Mm, benarkah."


"Iya."


Mungkin akan sulit jika harus mencari rekaman CcTv itu.


"Ya sudah bagaimana kalau Ibu Ita bersiap siap untuk menganti pakaian, karena saya akan mengurus kebebasan dan membayar denda Bu Ita."

__ADS_1


"Tunggu, denda itukan mahal. Apa kamu bisa membayarnya. Nita?"


__ADS_2