Dibalik Diamnya Mertuaku

Dibalik Diamnya Mertuaku
Bab 293


__ADS_3

Nita terdiam, ia tersenyum dan berkata." Ada."


Bu Ita kini tersenyum senang, ia terlihat begitu ceria, dan menjawab." Setelah bebas dari sini, saya akan membayar semua denda dan hutang saya kepada kamu Nita. "


"Sudah tak usah."


"Mana mungkin seperti itu, tetap saja semua harus ibu bayar."


"Masalah itu terserah ibu saja, yang terpenting sekarang ibu bebas dari dalam penjara."


Bu Ita sudah membayangkan betapa bahagianya hidupnya sekarang, pikirannya tenang tanpa ada beban, dan tak ada sebuah ancaman dari Marimar.


"Sesudah saya mengurus tanda tangan akan keluarnya Bu Ita, nanti kita temui Marimar."


Deg ....


Mendengar hal itu. Apakah Bu Ita akan sanggup bertemu dengan Marimar?


"Kenapa? Bu Ita masih takut?"


Wanita tua hanya bisa mengganggukan kepala, masih ada rasa trauma dalam dirinya, ketika menyebut nama Marimar.


"Tadi katanya sudah tenang!"


"Iya, hanya saja ketika mendengar dan menyebut namanya, Ibu merasa payah."


"Sudah kan ada Nita ini."


Setelah mendengar perkataan itu, Bu Ita tambah semangat untuk bisa membuat Marimar ketakutan.


"Bagaimana?"


"Mm, baiklah!"


Bu Ita mulai mengganti bajunya, setengah jam ya menunggu kedatangan Nita yang tak kunjung datang. Ia takut jika pada akhirnya ia tak bisa bebas dari dalam penjara.


"Nita ke mana ya, kok belum kelihatan."


Napas terasa tak tenang, wanita tua itu kini berdiri, terlihat ia begitu tak tenang, entah apa apa jadinya juka Nita tak kembali.


Suara langkah kaki terdengar, dimana suara Nita memanggil nama Bu Ita.


"Bu Ita."


Nita mempelihatkan lembaran surat putih, melabai labaikan pada Bu Ita. Senyum lebar ia perlihatkan di hadapan Nita.

__ADS_1


"Akhinya tak butuh proses yang begitu panjang, Bu Ita bisa bebas sekarang juga."


"Benarkah."


Nita menganggukan kepala, mengatakan Iya kepada Bu Ita. Seketika Bu Ita melompat-lompat dan kini memeluk Ita dengan penuh rasa bahagia.


"Terima kasih Nita, semua berkat kamu," ucap Bu Ita pada Nita.


"Sekarang waktunya kita bertemu dengan Marimar."


"Oke."


********


Marimar berteriak, hingga kerongkongannya merasa sakit. Ia berusaha membuat kode beberapa kali kepada Bu Ita agar tidak mengatakan kejadian tadi malam.


Namun, wanita tua itu tidak datang juga, padahal Marimar sudah mengancamnya dengan begitu keras.


"Sial, ke mana wanita tua itu, kenapa dari tadi ia belum juga datang ke sini?"


Marimar nampak panik sekali, sepertinya kode teriakannya itu tak mempan, entah apa yang harus ia pikirkan lagi.


Marimar takut jika Bu Ita, membeberkan kematian bersuci karena ulahnya sendiri, walaupun Marimar sudah menyimpan semua barang bukti, tetap saja perasaannya tak karuan.


Baru saja membalikkan badan untuk segera beristirahat, suara wanita memanggil namanya, nama yang menjadi ciri khas dirinya saat di kampung.


"Nyonya Marimar."


Melihat sosok kedua wanita yang tersenyum kepadanya, Marimar mengerutkan dahi. Wanita itu ternyata adalah Bu Ita dan juga Nita," mereka, untuk apa ke sini?"


Bu Ita penuh dengan keraguan, sedangkan Nita begitu yakin. Dia mendekati arah Marimar, menanyakan kabar sang nyonya.


"Apa kabar Nyonya Marimar, apa kabar Anda baik-baik saja, saya berharap jika kabar anda baik sekarang, oh ya. Gimana rasanya di dalam penjara, menyenangkan bukan?"


Perkataan Nita membuat telinga Marimar terasa sakit, apalagi hatinya seakan teriris.


Marimar menatap ke arah Bu Ita, yang kini tidak memakai seragam tahanan," Bu Ita kenapa kamu ada di luar sel tahanan, dan juga kenapa kamu memakai baju biasa. Apa kamu mau aku laporkan ke polisi."


Nita menempelkan jari telunjuk ke arah bibirnya," sudah jangan berisik ya, kebetulan sekali saya ingin memberitahu kepada anda nyonya Marimar."


"Memberitahu soal apa?"


"Saya hanya ingin mendengar perkataan dari mulut Anda, atas terbebasnya Bu Ita dari dalam penjara."


"Apa."

__ADS_1


Sontak Marimar terkejut dengan pernyataan yang terlontar dari mulut Nita," Mana mungkin Bu Ita keluar begitu saja, karena ia baru beberapa hari di dalam penjara. "Gimana, terkejut kan melihat hal ini. Pastinya anda tidak akan tidur nyenyak malam ini."


Marimar menggenggam erat jeruji besi dengan kedua tangannya, giginya terdengar menggeram. sepertinya Marimar sangatlah kesal dengan perkataan Nita.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu, kamu harus tahu ya aku juga akan bebas dari dalam penjara ini."


Mendengar hal itu sontak membuat Nita tertawa terbahak-bahak," Yang benar saja Anda akan keluar dari dalam penjara ini."


"Sialan, Kenapa kalian malah menertawakanku, jelas aku berkata seperti itu bukanlah pembohongan tapi kebenaran, jadi jangan asal bicara kamu."


Marimar begitu lantangnya memarahi Nita.


" Ya sudah nyonya Marimar Kami tidak akan menertawakan anda," Sindir Nita semakin menjadi-jadi, kedua mata Marimar membulat mendengar apa yang dikatakan Nita, wajahnya memerah menahan amarah, walau sebenarnya amarah itu meluap hingga ke kepala, seakan sebentar lagi akan meledak di hadapan kedua wanita yang sudah keterlaluan menyindirnya.


Urat leher semakin terlihat, bagaimana bisa kedua wanita tua itu tertawa di atas kesedihan Marimar.


"Oh ya saya mau tanya, pada Nnyonya Marimar, apa kasus kematian tante saya ada hubungannya dengan anda? Kok saya curiga ya dengan anda!"


Marimar terlihat santai sekali saat menerima pertanyaan dari Nita, " Saya tidak akan membahas hal itu, Saya tidak tahu menang tentang kejadian semalam."


"Owh, baiklah. "


Nita tersenyum sinis, ia kini bertanya kembali pada Marimar." owh, benarkah itu. Tapi Saya melihat sobekan bekas baju pada tangan tante saya."


Deg .... Marimar lupa saat pertarungan tadi malam bu Suci sempat menyobekkan sedikit kain bajunya, iya lupa mengambil sobekan kain itu.


" kemungkinan besar itu hanya tebakan kamu saja,


Marimar dengan begitu angkuh dan juga sombong berusaha tak menanggapi perkataan Nita, ia membalikkan badan dan pergi untuk mengitirahatkan tubuh. Namun, Nita tak putus asa dia kini berucap." Mm, benarkah itu hanya tebakan saya saja."


Marimar merasa tak nyaman akan perkataan Nita, Nita seperti sengaja menakut nakutinya.


"Marimar, apa anda mau lihat kejadian tadi malam rekaman CCTV Itu."


Deg ....


Nita seperti menakut nakuti Marimar, membuat keringat dingin bercucuran.


"Ayolah mengaku saja, saya sudah punya rekaman dan bukti bahwa anda melakukan semua ini."


Marimar berusaha tenang, agar tak terkecoh akan ucapan Nita yang menjebaknya.


"Nyonya Marimar, mau saya tunjukan sesuatu agar anda bisa melihat semuanya."


"Diam." Marimar menunjuk wajah Nita dan hampir mencekiknya, ia kesal meluapkan semua emosinya, jebaka Nita benar benar jitu, membuta Marimar mengungkapkan semuanya, rekaman suara sudah disediakan dari tadi hingga dengan mudahnya mengumpulkan bukti, sedangkan Marimar tak menyadari semuanya.

__ADS_1


__ADS_2