
Bu Sari masih melihat pada wajah suaminya terdapat kekesalan yang mendalam pada dirinya, disetiap perjalanan menuju ke penjara, sang suami tetap saja diam tak berucap satu patah katapun.
Mencoba menenangkan perasaan sang suami dengan berkata," kenapa bapak diam aja dari tadi, padahal ibu tanya loh."
Lelaki tua itu mencoba tak menanggapi apa yang dikatakan sang istri, ia hanya diam dan berusaha memberi pelajaran.
Memang dulu Pak Sodikin selalu kalah, dalam adu mulut atau pun bertengkar dengan istrinya. Tapi sekarang berbanding terbalik, Bu Sari kalah dengan suaminya sendiri.
"Pak, udahlah marahnya." Rayu sang istri dengan memegang tangan punggung sang suami.
Adegan itu membuat Pak Sodikin malu, ia mencoba melepaskan tangan istrinya.
"Malu, mah."
Bu Sari hanya mengerutkan bibir, diam tak berucap satu patah katapun. Wanita itu kesal dengan sang suami yang bersikap dingin akhir akhir ini padanya.
Padahal dulu sang suami begitu bertekluk lutut, tapi sekarang benar benar membuat rasa takut pada hatinya.
Setelah sampai di penjara, untuk menengok anak semata wayangnya.
Bu Sari terkejut, melihat Ajeng sedang bersama dengan Raka.
Apalagi dengan Pak Sodikin, lelaki itu kini berjalan melangkah menghampiri kedua insan yang mengobrol dengan begitu serius.
"Apa yang kalian lakukan?"
Raka senang dengan kedatangan ayahnya dan juga sang ibu, ia tersenyum menyambut kedatangan mereka dengan penuh rasa bahagia.
"Ibu, bapak."
Raka mencoba mencium punggung sang ayah dan juga ibunya. Terlihat raut wajah kemarahan pada diri lelaki tua itu. " Bapak, katanya bapak mengalami kecelakaan ya. Benarkah itu?"
Tanya Raka, dengan bersi keras mencoba tetap tenang.
"Sudah jangan banyak basa basi kamu Raka."
__ADS_1
Terlihat dada lelaki tua itu turun naik turun naik, menahan rasa kesal dan juga sesak di dalam dada.
Dari rumah sampai ke penjara inilah saatnya Pak Sodikin meluapkan kekesalan pada anaknya sendiri.
Namun Bu Sari berusaha dengan keras menahan kekesalan sang suami. " Pak jangan, pak. "
"Sudahlah bu, jangan halangi bapak."
"Tapi pak, ini kantor polisi bukan di rumah."
Ajeng mengerutkan dahi, melihat kedua orang tua Raka berdebat, " Bu, pak?"
Kedua orang tua Raka kini menatap ke arah Ajeng, dimana Pak Sodikin mendekat dan berkata, " Ajeng, sebaiknya kamu jangan mendekati anakku, atau kamu akan menderita."
Raka yang mendengar perkataan sang ayah tentu saja marah dan berkata," cukup pak, bapak ini kenapa malah menjelekan Raka di depan Ajeng."
"Diam kamu Raka, memang pada kenyataanya. Kamu memanfaatkan Ajeng agar kamu bebas dari dalam penjara."
"Pak, apa apaan bapak ini."
Bu Sari berusaha menahan lengan sang suami, agar tidak membuat hal tak menyenangkan kepada anaknya." sudahlah pak, ayo kita pulang saja. Kalau ujungnya malah buat keributan sama anak sendiri, ini penjara pak."
Namun saat melihat polisi, Pak Sodikin, berusaha menurunkan tangannya. Karena melihat polisi yang tengah berjaga.
Bu Sari akhirnya bernapas lega, melihat sang suami mengurungkan niatnya, wanita tua itu benar benar terlihat lemah sekarang, membela Raka pun sudah tak kuasa, ia hanya bisa menangis.
Ajeng mencoba mendekat ke arah Raka dengan kursi rodanya." Bapak kamu sepertinya marah besar."
Membisikan perkataan, pada Raka. Membuat lelaki berbadan kekar itu membalas." Mungkin bapakku tengah stres."
"Hust, kalau ngomong itu dijaga loh mulutnya. Mereka itu orang tua kamu."
"Ya, ya. Aku tahu, tapi ya harus bagaiman lagi. Meraka terkadang tak pernah mendukungku atau membelaku di saat aku salah."
Ajeng merasa kasihan dengan drama palsu yang dibuat-buat oleh suaminya itu, begitu luluhnya Ajeng dengan Raka yang memang tengah mempermainkan.
__ADS_1
Wanita dengan rambutnya yang lurus terikat, kini mengusap pelan kepala sang suami. Menenangkan setiap kesedihan yang menerpa Raka suaminya sendiri.
Raka yang senang dengan drama kebohongan yang diperlihatkan dirinya pada Ajeng, tentulah membuat Raka senang dan bisa bernapas lega.
Masih ada harapan Raka bisa bebas dari dalam penjara, berkat bantuan Ajeng yang selalu mengasihinya.
Raka mulai mencium pipi suaminya, yang memperlihatkan betapa mengabdinya dirinya kepada sang suami.
"Kamu harus tenang ya, aku janji akan selalu ada di samping kamu di saat kamu pernah bersedih seperti sekarang," ucap Ajeng begitu meyakinkan sang suami agar percaya kepada dirinya.
Ajeng masih belum juga sadar dengan gombalan dan juga rayuan kebohongan yang dilontarkan oleh suaminya, Ajeng benar-benar percaya terhadap sang suami yang begitu pintar dalam membohongi perasaan dan juga rasa cinta yang begitu tulus dalam hati Ajeng.
kedua orang tua Raka yang sudah terlihat tenang, kini menghampiri Raka dan juga Ajeng." Ajeng kami harus sadar, dia bukan laki laki baik itu kamu."
Pak sodikin berusaha menasehati Ajeng agar percaya kepadanya, tapi sialnya semua tak berguna. Ajeng tetap membela sang suami, ia tak tahu jika suaminya sudah berniat menghancurkan dirinya.
"Maaf pak, saya tidak bisa. Saya sangat mencintai anak bapak." Ajeng mengelak ia begitu amat keras kepala.
"Ajeng bapak ini, ngasih tahu kamu yang terbaik."
"Sudah cukup pak. Harusnya bapak itu bisa membela kami, bukan malah mau memisahkan kami berdua."
Ajeng mencoba melawan dengan kemampuan dirinya dalam berbicara.
"Ajeng, sadarlah kamu hanya dibutakan dengan cinta palsunya Raka."
Mendengar sang ayah berkata seperti itu tentu saja membuat Raka murka, hampir saja ia melayangkan satu pukulan untuk ayahnya yang hampir saja menggagalkan rencana yang sudah susah payah ia buat.
"Cukup pak, bapak ini selalu ingin membuat anaknya menderita, Bapak ini tahu sendiri kan, Raka itu begitu tulus mencintai Ajeng. Jadi stop jangan ikut campur urusan Raka saat ini, Raka mohon kepada ibu, bapak. Jangan ganggu urusan Raka,"
"Pak, sudah yuk. sebaiknya ayo kita pulang saja. Bapak jangan bikin kerusuhan sini Bapak tahu sendiri kan di sini banyak polisi. Bagaimana kalau bapak masuk ke dalam penjara dan ditahan."
"Untuk Apa takut masuk ke dalam penjara. Jika Bapak memang tidak bersalah, berbeda dengan anak tidak tahu diri ini, bisa-bisanya dia memanfaatkan orang lain menyuruh orang tuanya sendiri seperti budak yang seenaknya disuruh-suruh, tanpa melihat kondisi ibu yang sekarang. Raka sebagai seorang ayah harusnya mengerti keadaan orang tuanya yang sekarang itu sudah tua tidak seperti dulu."
Mata hati Raka sudah tertutup dengan keegoisan dan juga amarah, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keluar dari dalam penjara dan bagaimana caranya bebas.
__ADS_1
Bukan malah mendengar kata-kata ceramah dari ayahnya yang tak berguna untuk dirinya saat ini.
"Bapak, kalau mau ceramah sana pergi. Raka tidak butuh nasehat bapak."