
"Pengertian apa maksud kamu, Galih?"
Galih mengira jika ia tak perlu menjelaskan, Ainun akan mengerti perkataanya.
" Sementara waktu kamu tinggal dulu di rumahku, hanya saja aku harus meminta izin kepada istriku, terlebih dahulu. Aku tahu semenjak kamu pergi dari rumahku. Pastinya kamu tidak punya apa-apa lagi, sekarang kamu datang kepadaku meminta maaf dan ingin kembali. "
Ainun merasa malu dengan perkataan Galih, "Galih, aku bisa tinggal di kampung lagi. "
"Jangan gila kamu, mau dengan siapa kamu tinggal di sana?"
"Aku bisa tinggal bersama temanku."
Galih berdiri dengan berkata, " temanmu. Siapa? Lelaki itu kah, yang kamu lebih percaya dari pada aku. "
"Galih, kamu jangan salah paham dulu. Lelaki itu membantuku untuk mencari Da ... "
Hampir saja Ainun menyebut nama Daniel. " Kenapa diam, ayo katakan. Aku sudah tahu semuanya Ainun. Kamu pergi meninggalkanku bersama lelaki itu karena dia menjanjikan kamu bertemu dengan Daniel bukan begitu? "
"Galih, dengarkan dulu aku bicara? "
"Sudahlah, Ainun. Untuk apa aku mendengarkan kamu bicara sedangkan kamu tak pernah menghargaiku. Kenapa kamu datang lagi padaku karena lelaki itu tak bisa membantumu! "
"Galih. Maaf. Aku berterima kasih sekali padamu, aku pergi bersama Rahel karena dia bukan kekasihku ataupun temanku, asal kamu tahu dia itu kakaku. Aku tidak mau membebankan kamu lagi. Kamu banyak bertanggung jawab untukku, sedangkan yang bersalah dari pemerkosaan itu sepenuhnya Daniel."
"Tapi aku juga ikut dalam pemerkosaan kamu dulu, sampai Alex begitu percis denganku. Kenapa kamu tidak bisa mencintaiku dulu Ainun? "
"Maaf, Galih. Aku tak bisa memaksakan perasaanku, makanya aku meninggalkan kamu. "
Mengusap kasar wajah, setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Ainun. Membuat Galih kesal, menarik napas, mengeluarkan secara perlahan. " Sekarang kemana kakak kamu? "
Galih besikap tenang dan bertanya dimana Rahel?
"Sebenarnya Rahel, sudah pergi meninggalkanku, ia pergi karena ajal menjemputnya terlebih dahulu, dan mungkin kakakku Rahel dia tak sanggup mengurusku. Karena penyakitku yang sering kambuh ini. Galih. Maka dari itu aku datang lagi padamu, menyesal karena telah meninggalkanmu dengan Alex. Sekarang aku tidak punya siapa siapa lagi. "
__ADS_1
"Kenapa kamu baru menyesal sekarang, Ainun. 17 tahun ini kemana saja kamu. "
Ainun merasa bersalah dengan perkataan Galih, membuat kedua matanya berkaca kaca. " Kenapa jika wanita di bentak sedikit selalu menangis, harusnya kamu ini sebagai wanita itu sadar dan merubah diri lebih baik lagi. "
Ainun malah mengacak rambutnya, kesal dan gelisa kini dirasakan. Membuat ia berteriak histeris.
"Ainun." Galih mulai sadar dengan apa yang ia katakan membuat rasa trauma muncul kembali.
"Ainun."
Galih benar benar, syok dan segera memanggil para perawat untuk menangani Ainun yang tiba tiba Gelisa.
Karena emosinya yang tak terkendali, membuat Ainun tanpak gelisa dan mengamuk secara tiba tiba.
"Ya tuhan, aku lupa."
Galih pergi dari ruangan Ainun, dimana para perawat dan juga dokter segera menangani Ainun.
Bulak balik ke sana ke mari, Galih merasa bersalah. Karena dirinya hilang kendali dan tak sadar malah membentak Ainun.
Beberapa menit kemudian, obat bius di suntikan pada tangan Ainun. Dimana wanita itu kini tenang. Dokter datang dengan wajah terlihat kelelahan.
"Dok, saya. "
Dokter tersenyum dan berkata. " Saya mengerti pak, karena tak gampang membuat orang depresi langsung pulih kembali, harus dengan extra kesabaran."
Galih mengira jika dokter itu akan memarahinya, tapi ternyata perkiraanya salah, dokter malah menenangkan rasa emosi dan juga sesal Galih.
"Pak Galih, kita bicara ke ruangan saya dulu. "
"Baik, dok. "
Saat berjalan, mengikuti langkah sang dokter. Galih melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul dua belas malam, untung saja dokter di rumah sakit masih ada, dan siap siaga.
__ADS_1
Masuk ke ruangan sang dokter, perasaan Galih tak tenang. Terlebih lagi, ada Anna yang pasti menunggu kepulanganya." Kenapa, di waktu bahagia, aku harus merasakan rasa lelah dan emosi seperti ini. Saat momen terindah merasakan malam pertama dengan wanita yang aku cintai, malah teringat akan rasa bersalahku pada Ainun. Apa saatnya aku berkata jujur, sebelum Anna mencurigai semuanya. "
Duduk pada kursi, dokter beberapa kali melihat hasil tentang pemeriksaan Ainun. Membuat aku semakin tak karuan.
"Saya lupa, anda siapanya pasien Ainun. "
"Sebenarnya saya suaminya. "
Galih mengatakan semua itu karena rasa kasihanya, memang selama kepergian Ainun. Sebenarnya Galih belum menceraikan istrinya secara sah di pengadilan agama, hanya setatus talak saja.
"Ya sudah, begini. Pak. Kebetulan istri bapak mengalami trauma berat, apa bapak bisa menghindari dari hal hal yang memicu rasa traumanya muncul kembali. Bapak bisa meluangkan waktu, dengan sering mengajak istri bapak ke tempat yang belum ia kunjungi, mencari kesibukan dengan sering mengajak hal hal yang positif. "
Galih hanya bisa mengangguk pasrah, karena siapa lagi yang bisa mengurus Ainun, kalau bukan dirinya. Karena Ainun adalah anak yatim piatu. Dan Rehel hanya seorang kakak yang sudah tak ada di dunia ini lagi. Betapa malangnya nasibmu Ainun.
Merantau ke kota bukan malah sukses membahagiakan sang kakak, malah menyusahkan hingga ajal terlebih dahulu menjemput kakaknya. Jika Ainun tak tergoda dengan rayuan Daniel, mungkin hidupnya tidak akan seperti sekarang.
Harus bagaimana lagi mungkin ini semua sudah menjadi takdir dan harus dijalani Ainun.
Bagaimana dengan Anna, apa dia bisa menerima dengan kedatangan Ainun. Apa dia bisa mencoba tegar dan bersabar disaat melihat Galih mengurus Ainun yang mempunyai gangguan jiwa.
" Dok, memangnya tidak ada cara lain."
"Ada pak, dengan memasukkan pasien Ainun ke rumah sakit jiwa. Hanya saja itu sangat minim untuk penyebuhan pasien Ainun. Karena istri bapak sudah berada pasa tahap penyebuhan, mengenal siapa yang beriteraksi dengannya, dan bisa tahu kesalahanya. Hanya saja pasien Ainun belum bisa mengontrol emosi, yang terkadang bisa langasung mengigatkan pada masa lalunya. "
Galih tidak bisa mencerna apa yang dikatakan sang dokter, karena ia terus mengigat sang istri tercinta berada di salam rumah. Menunggu kepulanganya yang tak kunjung datang.
"Apa bapak sudah paham. "
Galih menganggukkan kembali kepalanya, ia hanya bisa menerima nasib dengan mengurus Ainun di tengah tengah kebahagian yang melanda pernikahanya.
"Anna, maafkan aku. Aku mengira setelah menikah denganmu aku bisa membahagiakanmu. Membuat kamu selalu tersenyum, tapi hadirnya Ainun, membuat kamu pasti akan bersedih dan menangis. Ainun hanya seorang diri tanpa keluarga atau pun saudaranya. "
Lelaki berbadan kekar dengan tubuhnya yang tegap, mulai berpamitan untuk pergi keluar dari ruangan dokter. " saya permisi dulu, dok. "
__ADS_1
"Ya, silahkan. Pak. "