
Ainun menatap ke arah Anna, tatapan penuh penyesalan ia perlihatkan pada wanita berbulu mata lentik yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit. "Anna."
Anna tetap dengan keramahannya, ia selalu memperlihatkan semua itu pada orang yang menyakitinya atau tak menyukainya.
Karena bagi Anna, sifat itu tergantung dari diri kita.
Medekat, Ainun menangis. Memegang tangan Anna. Anna hanya diam merespon dengan tetap tenang.
"Kenapa menangis?" Pertanyaan Anna ternyata mampu membuat wanita berhijab silver itu, mengeluarkan Isak tangis.
Anna yang melihatnya berusah tegar, " maafkan aku yang berniat ingin merebut Galih darimu." Ainun dengan beraninya mengatakan kejahatanya sendiri.
Anna mengusap pelan air matanya yang ternyata keluar mengalir begitu saja, membasahi kedua pipi." Aku sudah memaafkan kamu, sebelum kamu meminta maaf Ainun."
Terharu dan juga kagum dengan kebaikan Anna, tentulah membuat wanita berhijab itu semakin merasa menyesal.
"Sudah jangan menangis, tak baik jika kita bersedih berkepanjangan."
Menganggukan kepala Ainun, berusaha menghentikan tangisannya di depan Anna.
Wanita berhijab silver itu, memeluk tubuh Anna yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, " Terima kasih Ana, kamu memang baik. Pantas saja Galih begitu mempertahankan."
"Kamu juga wanita baik Ainun."
Sifat wanita seperti Anna, selalu membuat orang. Kagum, terkadang kesal. Karena kelemahanya yang gampang memaafkan dan merasa kasihan.
Melepaskan pelukan Anna, wanita berhijab silver itu langsung menatap dengan penuh kesedihan," Aku bukan wanita baik-baik Ana, aku hampir saja merusak rumah tanggamu. Jika aku tidak di pertemukan dengan Intan, mungkin aku akan tetap menjadi orang jahat. Karena melihat seseorang yang jahat dan juga tak menghargaiku, membuat aku berkaca diri. Jika aku juga mempunyai kesalahan pada orang lain."
Tersenyum dan menjawab." semua sudah di garis tangan takdir. Sebagai manusia kita harus perbanyak menyadari kesalahan kesalahan kita sendiri. Agar kita selalu di dekatkan dengan kebaikan. Begitupun dengan saling percayaan akan memperkuat keutuhan rumah tangga agar berlajalan dengan baik. Jangan terlalu tertekan dengan penyesalan, saat ini waktunya kamu merubah diri menatap masa depan melupakan masa lalu. "
Ainun mengusap kasar air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya, dengan perkataan Anna membuat hatinya bersemangat untuk tetap melaju masa depan, memperlihatkan jati diri.
Setelah rasa penyesalan itu terungkap dari mulut Ainun, pada saat itulah Galih mulai mendekat. Ia merasa hidupnya begitu sempurna mempunyai istri yang begitu baik.
__ADS_1
"Anna."
Pelukan dilayangkan Galih untuk istrinya, Ainun barusan melangkah mundur untuk tidak melihat adegan mesra yang diperlihatkan Galih dengan istrinya.
Karena setelah menyadari penyesalan itu, ada rasa cinta yang tiba-tiba tumbuh pada hati Ainun untuk Galih. Tapi wanita berhijab silver itu berusaha menepis keinginannya dan juga rasa cintanya kepada pria yang sudah beristri.
Ia tahu jika itu hanya napsu sesaat, dan malah menjerumuskan pada kehancuran.
"Anna, apa setelah ini aku boleh menemui anakku setiap saat jika aku aku merasa rindu kepadanya." permintaan yang membuat Anna tentulah tersenyum dan memperbolehkan jika memang Ainun ingin dekat dengan Farhan.
Farhan seakan mengerti arti biduk rumah tangga, ia mulai menjelaskan ucapan yang terlontar dari mulut wanita yang menjadi ibu kandungnya.
"Bu Ainun. Bagaimana kalau Farhan saja yang datang ke rumah Bu Ainun."
ucapan Farhan tentu saja langsung disetujui Galih, untuk menghindari pertemuan antara Galih dan juga Ainun.
"Boleh." Ainun tersenyum melihat anaknya begitu menerima dirinya apa adanya.
"Ya sudah nanti setiap hari minggu. Farhan datang ke sana membawa motor." Balasan Farhan membuat Ainun mengusap pelan rambut kepalanya.
Tawa kebahagian terlihat pada mereka yang tengah berkumpul. Di ruangan Anna, hati Galih merasa lega, memang ini yang diinginkannya saat ini.
Tidak ada pertengkaran ataupun perdebatan di antara kedua wanita yang dia cintai.
sekali melihat sifat Ainun yang dulu kini telah kembali pada dirinya sendiri, wanita berhijab silver itu selalu memperlihatkan wajah putihnya yang begitu bercahaya.
Setengah jam berlalu, Ainun berpamitan untuk pulang kepada Anna setelah kata maaf dan juga rasa kekeluargaan diperlihatkan olehnya. Ainun begitu bahagia. Dia mengira akan ada perdebatan juga pertengkaran ketika bertemu dengan Anna. . Tapi kenyataannya malah kebahagiaan yang datang pada Ainun dan juga Anna.
Farhan dengan sigapnya ingin mengantarkan Ibu Ainun dan juga neneknya yang tengah menunggu di dalam mobil.
"Mah, Bolehkah Farhan ikut dengan ayah Galih mengantarkan Bu Ainun."
Anna tak melarang yang mempersilahkan kedua laki-laki kebanggaannya mengantarkan Ainun. karena Ana percaya jika Ainun sudah berubah dari kesalahannya yang dulu."
__ADS_1
"Pah, ayo kita antar Ibu Ainun pulang dan juga nenek."
Mendengar Farhan menyebut kata nenek membuat Anna merasa heran. Sejak kapan Farhan mempunyai seorang nenek, hanya saja pas Ana menikah dengan Raka.
"Tunggu, Farhan. Tadi kamu bilang nenek?" Tanya Anna dengan segudang pertanyaan.
"Iya, nenek! " jawab Farhan pada sang mama."
"Siapa?" Anna tak bisa menebak dengan sendirinya, siapa nenek yang dimaksud oleh anaknya.
Galih mencoba menjelaskan semuanya kepada Anna, karena di perjalanan menuju ke rumah sakit Farhan melihat seorang nenek-nenek tengah duduk menangis di pinggir jalan.
Karena rasa kasihan Farhan yang begitu besar, pada akhirnya Farhan menyuruh Galih untuk turun dari mobil. Dia berniat menghampiri wanita tua yang tengah menangis sendirian di pinggir jalan yang jauh dari pemukiman warga.
Saat Farhan melihat wanita tua itu, iya kaget karena ternyata itu adalah Bu Sari. Mantan mertua Anna, Ibu dari Raka.
Setelah mendengar penjelasan dari suaminya, Ana hanya tersenyum lebar. Menyembunyikan kejelekan wanita tua itu," Sekarang nenek kamu ada di mana?"
" Nenek ada di dalam mobil, mah! "
" Kenapa dia tidak ikut dengan kalian ke sini!"
Farhan mengangkat kedua bahunya, dari mulai menjelaskan apa yang membuat wanita tua itu tidak mau menemui Anna.
"Katanya dia tak enak hati."
Jelas, wanita tua itu pastinya malu berhadapan lagi dengan Anna. karena tadi pagi dia datang ke rumah sakit dan mengolok-ngolok Anna, pada akhirnya dirinya terkena imbas juga.
"Saat aku tanya sudah dari mana? Bu Sari tak menjawab."
Bagaimana dia bisa menjawab dengan jujur, pastinya Farhan tidak mau membantu wanita tua itu. Setelah tahu kejelekan yang ia perbuat di rumah sakit tadi pagi.
"Ya sudah, kasihan Nenek di mobil sendirian. Kita anterin dia pulang." Ucap Farhan yang begitu peduli
__ADS_1
"Farhan, tolong berikan nenek kamu uang untuk bekal dia di kota. Kasihan nenek kamu pastinya menderita." Printah Anna pada anaknya.
"Baik, mah."